Blokade Gaza: Kezaliman yang Harus Dihentikan!

Oleh;
KH Bachtiar Nasir
DI TENGAH kenyamanan kita hari ini, saudara-saudara kita di Gaza sedang hidup dalam luka yang tak kunjung sembuh. Rumah mereka rata dengan tanah, sekolah berubah jadi puing, dan anak-anak tumbuh di bawah langit yang terus menurunkan teror, bukan hujan. Namun sayangnya, dunia terus berjalan seperti biasa—termasuk kita, umat Islam yang katanya satu tubuh.
Takwa bukan sekadar mengenakan pakaian putih dan menundukkan kepala di masjid. Takwa adalah suara hati yang tergerak saat melihat kezaliman. Ia adalah keberanian menyatakan bahwa diam itu memalukan. Setiap hari kita diberi pilihan: menjadi bagian dari perubahan, atau bagian dari kebungkaman.
Saatnya membuka mata dan hati. Saatnya menyadari bahwa penderitaan Gaza bukan milik Palestina saja, tapi milik kita bersama. Dan mungkin, keterlambatan pertolongan itu bukan karena kurangnya kekuatan, tapi karena kita belum benar-benar peduli. Blokade Gaza harus dibuka. Dan suara kita adalah kunci pertama yang bisa mengetuk hati dunia.
Jangan Pasrah
Kekejaman demi kekejaman terus menimpa Gaza. Darah tumpah, rumah hancur, anak-anak menjadi yatim dalam sekejap, dan dunia kembali menyaksikan, entah untuk keberapa kalinya, wajah brutal sebuah rezim yang tak mengenal nilai-nilai kemanusiaan. Namun di tengah semua itu, masih saja ada yang memilih diam, pasif, atau bahkan mengalihkan wajah seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Inilah yang harus kita renungkan bersama: di mana posisi kita saat kezaliman merajalela?
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk pasrah dan bungkam di hadapan kebatilan. Diam terhadap kezaliman bukanlah sikap netral, melainkan bentuk pembiaran yang berujung pada dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَا تَرْكَنُوٓا۟ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِنْ أَوْلِيَآءَ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ
“Janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim sehingga menyebabkan api neraka menyentuhmu, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS Hūd [11]: 113).
Ayat ini bukan sekadar larangan untuk menjadi zalim, tapi bahkan condong sedikit saja kepada pelaku kezaliman sudah cukup untuk menjadikan seseorang layak tersentuh api neraka. Maka bagaimana dengan mereka yang membiarkan, mendiamkan, apalagi menormalisasi kebrutalan penjajahan atas rakyat Gaza?
Dalam tafsirnya, Imam al-Baghawi Raḥimahullāh menjelaskan bahwa larangan “Janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim” bukan sekadar larangan membantu mereka secara langsung. Ia lebih dalam dari itu. Beliau mengutip beberapa mufasir terkait ayat ini. Ibnu ‘Abbās Raḍiyallāhu `anhumā berkata, “Jangan condong hati kepada mereka.” Abu al-‘Āliyah menafsirkan, “Jangan rida terhadap perbuatan mereka.” As-Suddī menegaskan, “Jangan berkompromi dengan para zalim.” Dan ‘Ikrimah berkata, “Jangan taat kepada mereka.”
Artinya, diam terhadap kezaliman adalah bentuk condong dan kecenderungan. Netral terhadap penindasan adalah bentuk condong. Berpura-pura tidak tahu adalah bentuk condong. Dan Allah tidak menyisakan ruang abu-abu dalam ayat ini, “Sehingga menyebabkan api neraka menyentuhmu, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah.”
Menarik apa yang disampaikan Syekh Rasyīd Riḍā dalam Tafsir al-Manār (jilid VI, halaman 5),
وَمَفْسَدَةُ السُّكُوتِ عَلَى الظُّلْمِ وَهُوَ مَدْعَاةُ فُشُوِّهِ وَالِاسْتِمْرَارِ عَلَيْهِ الْمُؤَدِّي إِلَى هَلَاكِ الْأُمَمِ وَخَرَابِ الْعُمْرَانِ.
“Dan kerusakan dari diam terhadap kezaliman adalah bahwa ia menjadi sebab tersebarnya kezaliman dan kelanggengannya, yang pada akhirnya membawa kepada kehancuran bangsa-bangsa dan kerusakan peradaban.”
Syekh Rasyīd Riḍā menegaskan bahwa diam terhadap kezaliman bukanlah sikap netral, melainkan bentuk pembiaran yang berbahaya. Ketika masyarakat tidak bersuara atau tidak bertindak terhadap kezaliman, maka kezaliman itu akan menyebar luas, menjadi kebiasaan, dan terus berlangsung tanpa perlawanan.
Akibat jangka panjangnya bukan hanya penderitaan individu, tetapi juga kehancuran kolektif: bangsa-bangsa binasa, dan peradaban runtuh. Pernyataan ini sejalan dengan prinsip amar ma‘ruf nahi munkar sebagai benteng sosial. Jika prinsip ini diabaikan, maka masyarakat akan kehilangan daya tahan moralnya, dan kezaliman akan menjadi norma yang menghancurkan tatanan kehidupan.
Kini, lihatlah Gaza. Luka yang terus menganga. Anak-anak yang tumbuh dalam reruntuhan. Blokade yang mencekik kehidupan. Dan dunia yang memilih diam. Sebagian dari kita bahkan menjalin hubungan hangat dengan para pelaku kezaliman, menganggapnya sebagai strategi, diplomasi, atau kepentingan nasional. Tapi dalam timbangan langit, itu adalah rukūn ilā al-ẓālimīn—condong kepada kezaliman—yang bisa menyeret kita ke dalam murka Allah.
Umat Islam tidak boleh hanya menjadi saksi. Kita harus menjadi suara. Kita harus menjadi tekanan. Kita harus menjadi perisai bagi yang tak mampu membela diri. Blokade Gaza harus dibuka. Dan kita harus berdiri di barisan yang benar—bukan hanya dengan doa, tapi dengan sikap, keberanian, dan ketegasan. Karena jika kita tidak bergerak, maka kita sedang condong. Dan jika kita condong, maka kita sedang bermain-main di tepi neraka.
Lawan Kezaliman
Dalam sebuah hadits sahih, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
»مَنْ رَأَى مِنكُم مُنكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِن لَّمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِن لَّمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَٰلِكَ أَضْعَفُ ٱلْإِيمَانِ«
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).
Kezaliman atas Gaza bukan hanya kemungkaran, melainkan puncak kebiadaban: pembunuhan sipil, pemboman rumah sakit, penghancuran sekolah, hingga blokade makanan dan obat-obatan. Maka umat Islam tak boleh cukup hanya bersimpati dalam hati. Bersuara dan bertindak, meskipun dalam bentuk damai, adalah keharusan iman.
Sebagian orang meremehkan aksi damai, unjuk rasa, atau boikot, seolah itu tak berdampak. Padahal dalam sejarah Islam, perlawanan bukan hanya dengan senjata, tapi juga dengan suara, dengan sikap, dengan solidaritas.
Ingatlah ketika kaum Muslimin di Mekah dizalimi, Rasulullah tidak langsung mengangkat senjata. Beliau memerintahkan hijrah, melindungi kaum tertindas, dan membangun kesadaran umat sedikit demi sedikit. Perlawanan bisa berbentuk sabar yang terorganisir, suara yang bersatu, dan aksi damai yang konsisten.
Dalam konteks Gaza hari ini, menyuarakan kebenaran, mengibarkan bendera Palestina, mengedukasi masyarakat, hingga memboikot produk pendukung penjajahan adalah bagian dari jihad damai yang diberkahi.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika ditanya tentang jihad yang utama, beliau bersabda,
»كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ ذِي سُلْطَانٍ جَائِرٍ«
“Kalimat yang benar yang disampaikan di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Ibnu Majah).
Siapa penguasa paling zalim saat ini jika bukan mereka yang menjatuhkan bom di atas kepala bayi-bayi Gaza? Maka menyuarakan pembelaan terhadap rakyat Gaza adalah jihad lisan yang dijanjikan kebaikan.
Bayangkan sebuah kekuasaan yang begitu bengis, hingga bom dijatuhkan bukan ke markas militer, tapi ke rumah-rumah yang penuh dengan anak-anak. Bayi-bayi Gaza tak pernah tahu apa itu politik, tak pernah memilih untuk lahir di tanah yang terkepung, tapi mereka menjadi korban dari kekuasaan yang tak mengenal belas kasih. Mereka dibunuh saat tidur, diburu saat bermain, dan dibungkam sebelum sempat menangis panjang.
Siapa yang lebih zalim dari penguasa yang menjadikan tangisan bayi sebagai gema kehancuran? Data menunjukkan bahwa sejak agresi besar-besaran dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 17.900 anak-anak telah gugur di Gaza, termasuk 274 bayi yang wafat di bawah gempuran bom. Ini bukan sekadar statistik—ini adalah nyawa, harapan, dan masa depan yang dihancurkan oleh tangan kekuasaan yang tak lagi punya nurani. Dan dunia? Dunia terlalu sibuk untuk peduli, terlalu takut untuk menyebut pelaku sebagai zalim.
Maka setelah ini, pertanyaannya bukan lagi siapa penguasa paling zalim, tapi sampai kapan kita akan membiarkan mereka terus berkuasa? Menyuarakan pembelaan terhadap Gaza hari ini bukan hanya bentuk solidaritas, tapi jihad lisan yang paling nyata—karena diam adalah bentuk persetujuan, dan persetujuan adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan.
Di dalam salah satu haditsnya, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat dalam tentang bahaya membiarkan kezaliman merajalela tanpa dicegah. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
»إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ، أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ «
“Sesungguhnya apabila manusia melihat orang yang berbuat zalim, lalu mereka tidak mencegahnya, hampir saja Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka semua.” (HR At-Tirmidzi dan Abu Dawud).
Dalam kitab Faṣl al-Khiṭāb fī al-Zuhd wa ar-Raqā’iq wa al-Ādāb (jilid 10, halaman 494), dijelaskan bahwa orang-orang yang memiliki kemampuan untuk mencegah kezaliman tanpa membahayakan keselamatan dirinya, jika mereka melihat orang berbuat zalim—yaitu telah mengetahui secara nyata kezalimannya—namun tidak mengambil tindakan apa pun, baik dengan ucapan maupun perbuatan, maka hampir saja Allah akan menimpakan azab kepada mereka secara menyeluruh. Azab ini bisa turun di dunia, di akhirat, atau pada keduanya sekaligus.
Hal itu terjadi karena mereka telah menyia-nyiakan kewajiban yang Allah tetapkan tanpa alasan yang dibenarkan. Tambahan lafaz minhu pada hadits memberikan kesan ancaman yang lebih kuat serta memperbesar rasa takut dan kewaspadaan terhadap akibatnya. Penjelasan ini menegaskan bahwa diam terhadap kemungkaran dan kezaliman dapat menjadi dosa besar yang akibatnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku maksiat, tetapi bisa menimpa masyarakat secara keseluruhan. Sebagian dosa memang disegerakan hukumannya di dunia, seperti kehilangan harta, musibah, menurunnya hasil panen, dan kehinaan sosial.
Oleh karena itu, amar ma‘ruf nahi munkar adalah fardu kifayah—kewajiban yang jika ditinggalkan seluruhnya oleh masyarakat, maka seluruhnya berhak atas azab kolektif. Peringatan ini semakin keras diberikan kepada mereka yang bukan hanya diam, tetapi juga berpura-pura akrab, meridai, bahkan membantu kezaliman tersebut. Hal ini dikuatkan dengan hadits dari Hudzaifah Raḍiyallāhu `anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
»لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوْنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُبْعَثَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنهُ، ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ«
“Sungguh kalian harus memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau Allah akan menimpakan azab kepada kalian. Lalu kalian berdoa kepada-Nya namun doa kalian tidak dikabulkan.” (HR at-Tirmidzi).
Hadits ini bukan sekadar pesan moral, tetapi ancaman langit atas kesalahan kolektif: ketika umat membiarkan kezaliman tanpa suara, tanpa upaya, maka azab bisa datang melanda bukan hanya pelakunya, tapi semua yang memilih diam. Inilah peringatan keras bahwa diam terhadap kezaliman adalah dosa sosial yang bisa mengundang murka Allah.
Dalam konteks hari ini, hadits ini menggema pilu di atas langit Gaza. Saat penguasa zalim menjatuhkan bom di atas kepala bayi-bayi tak berdosa, saat blokade menahan air, obat dan makanan, dunia tetap diam, dan sebagian umat bahkan takut menyebut yang zalim itu zalim.
Maka jihad kita hari ini—jika tangan belum bisa berbuat banyak—adalah jihad lisan: bersuara lantang, membela yang terinjak, dan menolak condong pada kezaliman dalam bentuk apa pun.
Ujian Kemanusiaan
Gaza bukan hanya wilayah geografis, melainkan cermin nurani dunia. Ia adalah ujian bagi kemanusiaan: siapa yang masih punya hati dan siapa yang memilih membungkamnya.
Apakah kita bisa tidur nyenyak sementara anak-anak Palestina tidur dalam ketakutan dan lapar? Apakah kita bisa makan dengan nikmat, sementara mereka harus mengais sisa makanan di reruntuhan? Dunia mungkin buta, tapi Allah Maha Melihat. Dan setiap umat akan ditanya:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلْوِلْدَٰنِ ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ ٱلْقَرْيَةِ ٱلظَّالِمِ أَهْلُهَا
“Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dari kalangan laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya zalim.’” (QS An-Nisā’ [4]: 75).
Ayat ini bukan hanya seruan perang, tapi seruan untuk membela yang tertindas, dalam bentuk apa pun yang bisa dilakukan. Bahkan doa mereka—orang lemah di Gaza—menjadi hujjah atas kemalasan kita.
Ada yang bertanya, “Kenapa harus kita repot-repot? Bukankah itu jauh dari sini?” Jauh secara geografis, iya. Tapi dekat secara iman dan nurani. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
»مَثَلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ ٱلْجَسَدِ، إِذَا ٱشْتَكَىٰ مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَىٰ لَهُ سَائِرُ ٱلْجَسَدِ بِٱلسَّهَرِ وَٱلْحُمَّى«
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang, dan simpati mereka seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh merespons dengan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaih).
Lima Langkah
Gaza adalah bagian dari tubuh kita. Maka kalau kita tak merasa sakit, mungkin kita bukan lagi bagian dari tubuh itu.
Apa yang bisa kita lakukan? Kalau kita tak bisa mengangkat senjata, setidaknya, pertama, doakan mereka setiap hari. Jangan remehkan kekuatan doa, apalagi doa dari orang yang bersih jiwanya.
Kedua, sebarkan informasi benar. Lawan propaganda yang membenarkan penjajahan dan membolak-balik fakta.
Ketiga, ikut aksi damai. Demonstrasi, penggalangan dana, orasi, tulisan—semua itu suara yang menggentarkan para pelaku kejahatan.
Keempat, boikot produk pendukung penjajah. Ini bentuk jihad ekonomi. Sekecil apa pun, ada dampaknya.
Kelima, didik generasi muda agar peduli. Jangan biarkan mereka tumbuh menjadi manusia egois dan apatis.
Jangan biarkan tragedi Gaza menjadi berita biasa yang berlalu begitu saja. Setiap hari, sematkan rasa sakit mereka dalam ingatan kita, agar hati ini tidak membatu. Jadikan penderitaan saudara kita sebagai pemantik semangat untuk berubah: dari umat yang pasif menjadi umat yang tangguh, bersatu, dan berani membela kehormatan Islam. Karena setiap langkah kecil yang kita ambil dengan ikhlas adalah bagian dari perjalanan panjang menuju kemenangan yang dijanjikan.
Jika kezaliman terus terjadi dan umat Islam hanya jadi penonton, maka kita telah mengkhianati amanah sebagai khalifah di bumi. Kita bukan hanya gagal membela Gaza, tapi juga gagal membela nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Mari kita ingat pesan agung dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.
»مَنْ لَمْ يَهْتَمَّ بِأَمْرِ ٱلْمُسْلِمِينَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ«
“Barang siapa yang tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan termasuk golongan mereka.” (HR Ṭabrani).
Gaza menanti bukan hanya senjata, tapi suara. Bukan hanya bantuan, tapi keberpihakan. Gaza adalah pengingat bahwa kezaliman tak akan pernah berhenti, kecuali ada yang berani berkata, CUKUP!
Gaza sedang berdarah, tapi yang lebih mengerikan adalah ketika dunia justru membiarkan luka itu mengering dalam diam. Kita lupa bahwa setiap detik penantian mereka adalah ujian bagi nurani kita: apakah kita akan menjadi umat yang hanya tersentuh saat ramai, atau umat yang tetap teguh saat dunia mulai lupa?
Jangan tunggu semuanya hancur untuk peduli. Jangan tunggu nama-nama itu berubah menjadi angka-angka dingin di laporan kemanusiaan. Karena Gaza bukan statistik. Gaza adalah hati yang sedang menanti uluran saudara-saudaranya.
Waktunya kita berhenti hanya mendoakan dari jauh dan mulai berdiri lebih dekat dalam sikap dan keberanian. Tunjukkan bahwa umat ini masih punya semangat yang tak bisa dibungkam, masih punya cinta yang tak bisa dibeli, dan masih punya keberpihakan yang tak bisa ditawar.
Dari mimbar ke media, dari ruang kelas ke ruang kebijakan. Biarlah suara kita menjadi gema yang tak bisa lagi diabaikan. Cukup sudah luka Gaza! Saatnya umat ini bergerak!*