Bercanda dan Lelucon dalam Islam

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
ISLAM adalah agama yang sesuai dengan fitrah dan kecenderungan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan agama yang melayang di alam khayal dan utopia yang tidak mungkin ada, tetapi Islam mengikuti tabiat manusia di alam nyata dan realitanya sebagai manusia. Islam tidak memperlakukan manusia seperti malaikat, makhluk Allah yang hanya melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, tetapi Islam memperlakukan manusia sebagai makhluk yang juga makan dan minum, sedih dan bahagia, serta menangis dan tertawa.
Oleh karena itu Islam tidak mewajibkan kepada setiap muslim agar setiap ucapannya adalah zikir, diamnya adalah berfikir, pendengarannya selalu Alquran atau waktu luangnya selalu di masjid. Islam mengakui dan membolehkan manusia untuk mengikuti insting dan kecenderungan mereka sebagaimana yang diciptakan Allah SWT dan Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang bisa merasa gembira, tertawa dan bermain, termasuk di sini bercanda dan membuat lelucon untuk menghibur dan membuat orang gembira. Hal itu telah dilakukan oleh dicontohkan oleh Rasulullah SAW. sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا ، قَالَ : ” إِنِّي لَا أَقُولُ إِلَّا حَقًّا
Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Para sahabat berkata kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah Engkau juga bercanda dengan kami”, Maka Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku tidak mengatakan kecuali yang benar.” (Riwayat Tirmizi).
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، أَنَّ رَجُلًا اسْتَحْمَل رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : إِنِّي حَامِلُكَ عَلَى وَلَدِ النَّاقَةِ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا أَصْنَعُ بِوَلَدِ النَّاقَةِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” وَهَلْ تَلِدُ الْإِبِلَ إِلَّا النُّوقُ
Dari Anas bin Malik bahwa seorang laki-laki meminta kepada Rasulullah SAW. agar diajak jalan-jalan, maka beliau bersabda: “Aku akan membawamu berjalan-jalan dengan menaiki anak unta” Lalu orang itu berkata, “Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta? Maka Rasulullah SAW. bersabda: “Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?” (Riwayat Tirmizi).
عَنِ الْحَسَنِ ، قَالَ : أَتَتْ عَجُوزٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُدْخِلَنِي الْجَنَّةَ ، فَقَالَ : ” يَا أُمَّ فُلانٍ ، إِنَّ الْجَنَّةَ لا تَدْخُلُهَا عَجُوزٌ ” ، قَالَ : فَوَلَّتْ تَبْكِي , فَقَالَ : ” أَخْبِرُوهَا أَنَّهَا لا تَدْخُلُهَا وَهِيَ عَجُوزٌ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى , يَقُولُ : إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً { 35 } فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا { 36 } عُرُبًا أَتْرَابًا
Dari Hasan al-Basri, ia berkata: “Seorang wanita tua datang kepada Nabi SAW. dan berkata, “Ya Rasulullah! Berdoalah kepada Allah agar aku dimasukkan ke dalam surga”, maka Nabi bersabda: “Wahai ibunya fulan! Sesungguhnya surga itu tidak dimasuki oleh orang tua”, Hasan berkata, “maka nenek itu pulang sambil menangis”. Maka Nabi SAW. bersabda: “Beritahulah kepadanya bahwa dia tidak masuk ke surga itu dalam keadaan tua karena Allah SWT. telah berfirman: “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. penuh cinta lagi sebaya umurnya. (Surat Al-Waqi’ah [56]: 35-37).
عنْ حَنْظَلَةَ الْأُسَيِّدِيِّ ، قَالَ : وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ ، فَقَالَ : كَيْفَ أَنْتَ يَا حَنْظَلَةُ ؟ ، قَالَ : قُلْتُ : نَافَقَ حَنْظَلَةُ ، قَالَ : سُبْحَانَ اللَّهِ مَا تَقُولُ ؟ ، قَالَ : قُلْتُ : نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ ، فَنَسِينَا كَثِيرًا ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ : فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا ، فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قُلْتُ : نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” وَمَا ذَاكَ ؟ ” ، قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي ، وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
Dari Hanzhalah al-Asayyidi yang merupakan salah seorang penulis Rasulullah SAW. ia berkata, “Saya bertemu dengan Abu Bakar, dan ia berkata, “bagaimana keadaanmu ya Hanzhalah? Saya menjawab, “Hanzhalah telah menjadi munafik” Abu Bakar berkata, “Maha suci Allah! Apa yang kamu katakan? Saya menjawab, “Ketika berada disisi Rasulullah, beliau mengingatkan kita tentang surga dan neraka seolah-olah kita melihatnya, lalu ketika kita keluar dari hadapan beliau, kita disibukkan oleh istri, anak-anak dan mencari nafkah, sehingga kita menjadi lupa” Abu bakar lalu berkata, “Demi Allah! Kita juga menghadapi masalah yang sama”. Kemudian aku dan Abu bakar pergi menghadap Rasulullah SAW. dan berkata, “Ya Rasulullah! Hanzhalah telah munafik”, Maka Rasulullah bertanya, “Kenapa demikian? Saya menjawab, “ Ya Rasulullah! ketika berada disisimu, engkau mengingatkan tentang surga dan neraka seolah-olah kami melihatnya, lalu ketika kami keluar dari hadapanmu, kami disibukkan oleh istri, anak-anak dan mencari nafkah, sehingga kami menjadi lupa peringatanmu” Maka Rasulullah SAW. bersabda: “Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sekiranya kalian terus-menerus (memiliki keimanan) seperti di saat kalian berada di sisiku dan selalu berdzikir, niscaya para malaikat akan menyalami kalian di atas tempat-tempat tidur dan di jalan-jalan (yang kalian lalui). Namun wahai Hanzhalah, masing-masing ada saatnya.” Beliau mengucapkannya tiga kali. (Riwayat Muslim).
Namun tentunya canda dan lelucon itu tidak dibolehkan secara mutlak dan dibebaskan begitu saja, tetapi mempunyai batasan dan ketentuan yang tidak boleh dilanggar sehingga tidak menyalahi aturan dan ajaran agama. Di antara batasan dan ketentuan itu adalah:
- Tidak mengolok-olok dan melecehkan agama, syiar dan ajarannya. Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya:
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّـهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ ﴿٦٥﴾ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. (Surat At-Taubah [9]: 65-66).
- Tidak melakukan dusta atau kebohongan untuk membuat orang lain ketawa. Sebagimana yang dijelaskan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ ، قَالَ : حَدَّثَنِي أَبِي ، عَنْ أَبِيهِ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ
Bahz bin Hakim berkata, “Ayah saya meriwayatkan kepada saya dari ayahnya, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Celakalah bagi seseorang yang berbicara, lalu dia berdusta, dengan tujuan agar orang lain tertawa. Celakalah dia, celakalah dia!.” (Riwayat Tirmizi, Abu Daud, al-Nasa`i dan Ahmad).
- Jangan sampai candaan dan lelucon itu menghina seseorang, melecehkannya atau memberinya gelar kecuali kalau orang itu mengizinkannya dan meridhoinya. Allah SWT. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Surat Al-Hujurat [49]: 11).
- Jangan sampai candaan itu manakut-nakuti atau membuat takut orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَنَّهُمْ كَانُوا يَسِيرُونَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَنَامَ رَجُلٌ مِنْهُمْ ، فَانْطَلَقَ بَعْضُهُمْ إِلَى حَبْلٍ مَعَهُ ، فَأَخَذَهُ فَفَزِعَ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
Dari Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata: “Sahabat-sahabat Nabi pernah bercerita kepada kami bahwa mereka pernah berjalan di malam hari bersama Nabi SAW. lalu salah seorang diantara mereka tidur, lalu seorang diantara meeka pergi mengambil tali yang dibawanya, iapun terkejut, maka Nabi bersabda: “tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim lainnya” (Riwayat Ahmad dan Abu Daud)
- Bercanda dan bergurau sewajarnya dan tidak berlebih-lebihan karena banyak bercanda dan tertawa itu akan mematikan mata hati sehingga tidak lagi mudah menerima kebenaran dan tidak lagi ada ghirah (sensitifitas) terhadap agamanya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ يَأْخُذُ عَنِّي هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ فَيَعْمَلُ بِهِنَّ أَوْ يُعَلِّمُ مَنْ يَعْمَلُ بِهِنَّ ؟ ” فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ : فَقُلْتُ : أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَأَخَذَ بِيَدِي فَعَدَّ خَمْسًا ، وَقَالَ : اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ ، وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ ، وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا ، وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا ، وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
Dari Abu Hurairah ra. berkata: “Rasulullah SAW. bersabda: “Siapakah yang mau mengambil kata-kata ini dari saya, untuk diamalkan atau untuk diajarkan kepada orang yang mau mengamalkannya?” Abu Hurairah menjawab: “Saya, wahai Rasulullah! Beliau lalu memegang tanganku lalu mulai menghitung lima hal, seraya bersabda: “Hindarilah hal-hal yang diharamkan, kamu akan menjadi orang yang paling bagus ibadahnya; ridhalah terhadap apa yang Allah bagikan untukmu, kamu akan menjadi orang terkaya; berbuat baiklah kepada tetanggamu, kamu akan menjadi orang mukmin; cintailah untuk orang lain apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri, kamu akan menjadi muslim; dan janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati. (Riwayat Tirmizi dan Ahmad).*
