Ashabiyah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
SEBAGAI seorang mukmin kita harus menjalankan Islam kita secara totalitas (kaffah) dengan berusaha menerapkan setiap ajaran dan nilai Islam dalam segala aspek kehidupan kita. Kita harus berpegang teguh dan istikamah dalam menjalankannya. Bukan hanya menerapkan dan mengamalkan yang menurut kita mudah atau menguntungkan dan berpihak kepada kita, tapi harus menjalankannya secara keseluruhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Surat Al-Baqarah [2]: 208).
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّـهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (Surat Al-Baqarah [2]: 85).
Kita harus mempunyai sensitifitas atau dalam bahasa Arabnya disebut dengan ghirah dan rasa izzah (bangga) dengan Islam yang kita anut. Ghirah adalah rasa sensitifitas yang tinggi jika ada syiar atau simbol Islam serta aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dihinakan atau direndahkan orang. Seperti jika ada yang menghina Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, mencaci maki para sahabatnya yang telah menyampaikan Islam kepada kita dengan penuh amanah. Atau menghina dan merendahkan al-Qur`an, maka di sini sebagai umat Islam kita harus marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ : مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا ، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ بِهَا
Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra., dia berkata,“Tidaklah Rasulullah SAW. disuruh memilih di antara dua perkara sama sekali, kecuali beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya, selama hal itu bukan merupakan dosa. Jika hal itu merupakan dosa, maka beliau adalah manusia yang paling jauh dari dosa. Dan tidaklah beliau membalas dengan hukuman untuk (membela) dirinya sama sekali. Kecuali jika perkara-perkara yang diharamkan Allah dilanggar, maka beliau akan membalas dengan hukuman terhadap perkara itu karena Allah SWT.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Tapi hal itu bukan fanatik, karena fanatisme dalam Islam biasanya berkonotasi negatif. Yaitu menolong, membela atau mempertahankan sesuatu meski sesuatu itu adalah kebatilan dan kezaliman. ‘Ashabiyyah (fanatisme) dalam bahasa Arabnya itu berarti membela dan menolong kaumnya dan bekerjasama melawan yang menentangnya baik kaumnya itu berbuat kezaliman atau dizalimi. Dan di dalam kitab ‘Aunul ma’bud disebutkan bahwa al-Manawi menjelaskan bahwa ‘Ashabiyyah itu adalah orang yang menyeru manusia untuk berkumpul di atas ‘ashabiyyah, yaitu menolong orang yang zalim.
Islam melarang umatnya untuk bersikap seperti itu, bahkan ditegaskan dalam hadist bahwa ‘Ashabiyyah itu bukan sifat seorang muslim.
عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ
“Bukan golongan kami orang yang menyeru kepada ashabiyyah, bukan golongan kami orang yang berperang atas ashabiyyah dan bukan golongan kami orang yang mati atas ashabiyyah.” (Riwayat Abu Daud dan al-Baihaqi).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ : ” مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً ، وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ ، وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلَا يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا ، وَلَا يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa keluar dari ketaatan dan berpisah dari Jama’ah, lalu ia mati, maka matinya (seperti) mati jahiliyyah. Dan barangsiapa berperang di bawah panji ‘ashabiyyah, marah karena ‘ashabiyyah, atau menyeru kepada ‘ashabiyyah, atau menolong kerabat (dalam kedzaliman), kemudia ia terbunuh, maka matinya adalah mati jahiliyyah. Dan siapa saja memerangi umatku, membunuh orang yang baik maupun orang yang buruk dari umatku, dan tidak memperhatikan orang-orang mukminnya, tidak pula memperhatikan orang yang membuat perjanjian, maka ia bukan termasuk golonganku, dan aku bukan termasuk golongannya.” (Riwayat Muslim).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita bahwa kita harus mencegah dan melarang orang yang mau berbuat kezaliman karena itu adalah bentuk pertolongan kepada orang tersebut.
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا ، فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولُ اللهِ ، أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا ، أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ ؟ ، قَالَ : تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ ، فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ
Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda: “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim ataupun yang dizalimi. Maka seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Saya menolongnya jika ia dizalimi, maka bagaimana caranya saya menolongnya jika dia yang berbuat zalim? Nabi SAW. menjawab: “Hendaklah kamu mencegah atau melarangnya dari berbuat zalim maka itu adalah cara menolongnya.” (Riwayat Bukhari).