Agar Taubat Nasuha Tidak Sia-sia

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustaz, saya hendak bertanya. Pertama, bagaimana adab atau cara jika kita hendak bertaubat nasuha? Kedua, apakah ada doa khusus ataupun shalat taubatan nasuha ini, Ustaz? Ketiga, bagaimana cara kita menghindari berbuat dosa yang serupa agar taubatan nasuha kita tidak sia-sia?
Jawaban:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Sungguh pertanyaan tentang taubat ini adalah salah satu pertanyaan yang paling indah yang ditanyakan seorang muslim. Yang ingin lebih dekat kepada Tuhannya setelah berada jauh dari-Nya dan ingin merasakan nikmatnya ketenangan hati dan kelapangan dada setelah merasakan kehidupan penuh tekanan dan keresahan jiwa. Sesungguhnya jalan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah itu sangat mudah dan jalannya telah Allah bentangkan luas bagi hamba-Nya yang mau kembali.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّـهِ ۚ إِنَّ اللَّـهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat Al-Zumar [39]: 53).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّـهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّـهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia.” (Surat At-Tahrim [66]: 8).
Ulama menjelaskan bahwa taubat nasuha itu adalah taubat yang sebenar-benarnya. Dengan maksud adanya keinginan kuat dalam hati untuk tidak kembali lagi melakukan dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya. Oleh karena itu, para ulama menyebutkan bahwa taubat nasuha itu mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi agar taubat kita dapat disebut sebagai taubat nasuha yang diterima Allah Ta’ala, yaitu:
- Ikhlas bertaubat hanya karena Allah SWT.
- Mengakui perbuatan dosa yang telah dilakukannya dihadapan Allah SWT.
- Menyesali dosa yang telah dilakukannya
- Mempunyai tekad yang kuat dalam hati untuk tidak lagi mengulangi dosa yang telah dilakukannya
- Kalau perbuatan dosa itu berkaitan dengan hak orang lain maka dia harus mengembalikan hak itu kepada yang berhak
عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي اللَّه عنه أَنَّ رسول اللَّه صلى اللَّه عليه وسلم قال : مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا؟ فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِيْنَارٌ وَلا درهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤخَذَ لأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa melakukan kezhaliman kepada saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya ; karena di sana (akhirat) tidak ada lagi perhitungan dinar dan dirham, sebelum kebaikannya diberikan kepada saudaranya, dan jika ia tidak punya kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya itu akan diambil dan diberikan kepadanya.” [Riwayat Bukhari).
Adapun tentang shalat taubat maka hal itu telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmizi, Abu Daud dan Imam Ahmad:
عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ما من عبد يذنب ذنبا فيحسن الطهور ثم يقوم فيصلي ركعتين ثم يستغفر الله إلا غفر له، ثم قرأ هذه الآية: وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ [آل عمران:135
“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Surat Ali ‘Imran [3]: 135).
Sedangkan untuk menghindarkan diri agar tidak lagi jatuh kepada perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat setelah kita bertaubat, maka ada beberapa hal yang mesti kita perhatikan, di antaranya adalah:
- Selalu berdo’a kepada Allah SWT. yang ditangan-Nya semua hidayah dan taufiq agar dijauhkan dari dosa dan maksiat.
- Menjauhi teman atau lingkungan buruk yang selalu mempengaruhi kita dan menggantinya dengan teman-teman yang sholeh.
- Berusaha dengan sepenuh hati untuk memperbanyak ibadah dan amal kebaikan yang akan selalu menjaga kita agar tidak jatuh kepada maksiat.
- Banyak menghadiri majlis-majlis ilmu agar kita selalu mendapatkan peringatan-peringatan akan dosa-dosa.
- Banyak bertemu dan menjumpai orang-orang sholeh dan ulama yang mengamalkan ilmunya.
Wallahu ‘alam bish shawab.*
KH Bachtiar Nasir