Keluarga yang Naik Kelas, Keluarga yang Diuji

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
SETIAP orang yang ingin naik kelas dalam kehidupan akan berhadapan dengan ujian. Tidak ada kematangan tanpa tempaan, tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan. Prinsip ini berlaku pula dalam ikhtiar membangun keluarga yang diberkahi.
Keluarga bukan sekadar tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki hubungan darah. Di dalamnya bertemu rahmah, cinta, iman, tanggung jawab, dan cita-cita untuk berjalan bersama menuju ridha Allah SWT. Karena itu, semakin tinggi derajat yang ingin dicapai sebuah keluarga, semakin besar pula kesiapan yang diperlukan untuk menghadapi ujian.
Mari kita merenungi hakikat ujian ketaatan yang disebut al-bala’ul mubin, ujian yang nyata. Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah keluarga diuji bukan hanya melalui kesulitan, tetapi juga melalui sesuatu yang paling dicintai.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS Ash-Shaffat: 106).
Ujian Nabi Ibrahim AS bukan perkara kecil. Beliau diperintahkan mengorbankan putranya, Ismail AS. Namun, di balik ujian itu terdapat pelajaran besar tentang kepercayaan kepada Allah SWT.
Orang tua sering kali menginginkan anak-anaknya memiliki kehidupan yang mapan. Mereka berharap anak memperoleh pendidikan terbaik, pekerjaan yang baik, jabatan tinggi, dan kehidupan yang terhormat. Semua itu tidak salah. Namun, persoalan muncul ketika ukuran keberhasilan anak hanya diletakkan pada kemuliaan dunia.
Ada ketakutan ketika seorang anak memilih jalan ilmu dan dakwah. Ada kekhawatiran ia akan hidup sederhana, tidak memiliki jabatan, atau tidak memperoleh kekayaan sebagaimana orang lain. Akhirnya, anak diarahkan mengejar dunia, sementara panggilan agama ditempatkan di urutan belakang.
Kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan perspektif yang berbeda.
Allah SWT menggambarkan bagaimana setelah ujian itu, nama Ibrahim AS justru diabadikan dalam kemuliaan:
“Dan Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.” (QS Ash-Shaffat: 108).
Kemuliaan yang diberikan Allah tidak berhenti pada satu generasi.
Ketika Nama Baik Diserang
Kehidupan Nabi Ibrahim AS juga tidak lepas dari ancaman dan penolakan. Beliau bahkan menghadapi ancaman dibakar hidup-hidup. Namun, ujian demi ujian tidak membuatnya berhenti menjalankan ketaatan.
Allah kemudian berfirman:
“Salamun ‘ala Ibrahim.”
“Selamat sejahtera bagi Ibrahim.” (QS Ash-Shaffat: 109).
Ayat tersebut mengandung pelajaran mendalam tentang bagaimana Allah menjaga kehormatan hamba-Nya.
Dalam kehidupan keluarga yang bergerak dalam dakwah dan kebaikan, persoalan nama baik terkadang menjadi ujian tersendiri. Ketika seseorang diserang, difitnah, atau disalahpahami, energi dapat terkuras untuk membela diri.
Tentu, membela kebenaran tetap diperlukan. Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar: berapa banyak energi yang seharusnya digunakan untuk membangun amal, dan berapa banyak yang habis untuk menjawab setiap tuduhan?
Kisah Nabi Ibrahim AS mengajarkan bahwa salah satu cara terbaik merawat nama baik adalah terus menghadirkan amal yang baik.
Nama manusia mungkin diperdebatkan pada satu masa. Tetapi amal yang manfaatnya terus mengalir dapat berbicara jauh lebih panjang daripada usia manusia.
Karena itu, warisan terbaik sebuah keluarga bukan semata harta yang diwariskan kepada anak-anak. Warisan terbaik adalah nilai, ilmu, keteladanan, dan amal yang terus memberikan manfaat setelah generasi pertama telah tiada.
Membangun Legasi, Bukan Sekadar Bangunan
Semangat meninggalkan warisan amal lintas generasi juga menuntut sebuah keluarga untuk berpikir melampaui usia dirinya sendiri.
Sebuah bangunan mungkin berdiri puluhan atau ratusan tahun. Tetapi yang membuatnya benar-benar bernilai bukan sekadar kokohnya dinding dan megahnya arsitektur. Nilainya terletak pada manfaat yang lahir dari sana.
Demikian pula masjid. Masjid tidak cukup hanya menjadi bangunan yang indah. Ia harus menjadi pusat ilmu, pembinaan umat, pendidikan generasi, dan tempat lahirnya manusia-manusia yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Di sinilah pentingnya dua prinsip: itqan dan ihsan. Itqan mengajarkan kesungguhan dan profesionalitas dalam mengerjakan sesuatu. Sementara ihsan membawa seorang hamba melampaui sekadar kewajiban menuju kualitas amal terbaik karena sadar bahwa Allah SWT senantiasa melihatnya.
Membangun amal besar semacam itu juga tidak mungkin dilakukan sendirian. Diperlukan kebersamaan, visi yang sama, dan kerja berjamaah untuk menyeru kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran.
Jangan Berhenti pada “Yang Penting Sah”
Di sinilah Surah Ash-Shaffat memberikan penutup yang sangat kuat:
“Kadzalika najzil muhsinin.”
“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS Ash-Shaffat: 110).
Kata kadzalika—”demikianlah”—menunjukkan adanya pola. Balasan Allah kepada orang-orang yang berbuat ihsan bukan hanya cerita khusus tentang Nabi Ibrahim AS. Ia merupakan sunnatullah yang dapat berlaku bagi siapa saja yang menempuh jalan ihsan.
Ada keluarga yang secara lahiriah tampak religius. Rumahnya dipenuhi simbol agama, ibadah dilakukan, dan kewajiban ditunaikan. Namun, bisa jadi semuanya masih berada pada batas minimal: yang penting sah.
Padahal, agama tidak berhenti pada pertanyaan apakah sebuah amal sah atau tidak. Ada pertanyaan yang lebih tinggi: apakah amal itu dilakukan dengan ihsan?
Salat mungkin sah secara fikih, tetapi apakah hati benar-benar hadir di hadapan Allah?
Sedekah mungkin telah ditunaikan, tetapi apakah di dalamnya terdapat keikhlasan?
Mendidik anak mungkin telah dilakukan, tetapi apakah yang diwariskan hanya kecakapan mencari dunia atau juga kecintaan kepada Allah dan perjuangan menegakkan kebaikan?
Inilah ujian yang lebih halus.
Keluarga yang ingin naik kelas tidak cukup hanya memastikan kewajiban telah gugur. Ia perlu berusaha meningkatkan kualitas ketaatan hingga mencapai derajat muhsinin.
Sebab, keluarga yang diberkahi bukanlah keluarga yang bebas dari ujian. Ia adalah keluarga yang ketika ujian datang, justru semakin dekat kepada Allah.
Ketika beban terasa terlalu berat, seorang mukmin meyakini bahwa Allah SWT tidak membebani seseorang melampaui kemampuannya. Pertolongan-Nya pun akan datang dengan cara yang kadang tidak disangka.
Karena itu, saat ujian keluarga terasa menghimpit, jangan buru-buru menganggapnya sebagai tanda bahwa Allah meninggalkan kita. Bisa jadi, justru di sanalah Allah sedang mengundang kita naik ke tingkat ketaatan yang lebih tinggi.
Bukan sekadar keluarga yang sakinah, tetapi keluarga yang mampu menghadirkan rahmah, melahirkan amal, dan meninggalkan manfaat lintas generasi.
Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah keluarga bukan hanya tentang seberapa nyaman ia menjalani kehidupan hari ini. Lebih jauh, adalah tentang apa yang ditinggalkannya untuk generasi setelahnya dan bagaimana Allah mengenang mereka di akhirat kelak. Wallahu a’lam bish-shawab.*
