Parenting

Tiga Ujian Merajut Keluarga Berkah Lintas Generasi

Ilustrasi

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

SETIAP pasangan Muslim tentu mendambakan rumah tangga yang tenang. Doa sakinah, mawaddah, wa rahmah yang merujuk pada Surah Ar-Rum ayat 21 pun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari harapan setiap keluarga.

Namun, ketenangan dalam rumah tangga ternyata bukanlah tujuan akhir. Ada jenjang yang lebih tinggi: keluarga yang tidak hanya menghadirkan kenyamanan bagi penghuninya, tetapi juga melahirkan keberkahan yang manfaatnya melampaui usia dan bahkan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ada tiga tingkatan dalam kehidupan keluarga, yakni sakan, sakinah, dan berkah. Sakan merupakan ketenangan yang menjadi bagian dari fitrah manusia. Sementara sakinah lahir ketika ketenangan itu disertai iman dan pertolongan Allah.

Alquran menyebut, “wa anzalas sakinah fi qulubil mu’minin“—Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang beriman.

Adapun keluarga yang penuh berkah berada pada tingkatan yang lebih tinggi. Kebaikan yang dibangun di dalamnya tidak berhenti pada pasangan dan anak-anak, tetapi dapat menjadi warisan nilai bagi generasi yang datang kemudian.

Kisah keluarga Nabi Ibrahim AS dalam Surah Ash-Shaffat ayat 106-108 memberikan gambaran mengenai jalan menuju derajat tersebut. Ada setidaknya tiga ujian yang perlu dilalui.

 

Ujian Kejujuran Iman

Allah SWT berfirman, “Inna hadza lahuwal balaul mubin”—sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

Kisah Nabi Ibrahim AS memperlihatkan bahwa iman bukan sekadar sesuatu yang diucapkan atau diyakini di dalam hati. Iman harus dibuktikan melalui ketaatan ketika seseorang berhadapan dengan ujian.

Dalam penjelasan Ibnu Asyur, kata mubin menunjukkan ujian yang terang dan nyata. Ujian itu menjadi sarana untuk menyingkap bagaimana sesungguhnya kedudukan ketaatan seseorang di hadapan Allah.

Keluarga Nabi Ibrahim AS menghadapi ujian yang sangat berat. Ismail AS, buah hati yang telah lama dinantikan, justru menjadi bagian dari perintah pengorbanan.

Di sinilah kejujuran iman diuji. Sesuatu yang paling dicintai harus ditempatkan di bawah kecintaan kepada Allah.

Imam Al-Qurtubi menjelaskan, kata al-bala’ dapat mencakup nikmat sekaligus cobaan. Anak merupakan nikmat, tetapi ketika kecintaan terhadap anak berhadapan dengan perintah Allah, nikmat tersebut sekaligus menjadi ujian.

Dalam kehidupan keluarga, bentuk ujiannya tentu tidak selalu sama. Bisa berupa anak, harta, pekerjaan, kesehatan, hubungan antarkeluarga, atau sesuatu yang sangat dicintai.

Pertanyaannya bukan semata-mata seberapa besar ujian yang datang, tetapi apakah ujian itu membuat keluarga semakin dekat kepada Allah atau justru menjauh dari-Nya.

 

Ujian Meyakini Tebusan Allah

Setelah menggambarkan ujian tersebut, Allah SWT berfirman, “Wa fadainahu bidzibhin ‘azhim“—dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang agung.

Kata ‘azhim menunjukkan besarnya kedudukan tebusan tersebut. Syekh Abdurrahman As-Sa’di menjelaskan bahwa pengorbanan itu menjadi sebab keselamatan Ismail AS, merupakan bentuk ibadah yang agung, dan kemudian menjadi syariat yang terus hidup hingga hari kiamat.

Di balik kisah tersebut terdapat pelajaran penting bagi kehidupan keluarga: keyakinan bahwa apa yang diberikan dengan tulus karena Allah tidak akan pernah sia-sia.

Manusia terkadang takut kehilangan sesuatu yang dicintainya. Ketika diuji dengan anak, harta, pekerjaan, atau bahkan ketika diuji dengan belum hadirnya keturunan, rasa takut dapat membuat seseorang berpikir semata-mata berdasarkan kalkulasi duniawi.

Padahal, keluarga yang berorientasi pada keberkahan perlu memiliki keyakinan bahwa Allah memiliki jalan pengganti yang tidak selalu dapat dibaca oleh perhitungan manusia.

Apa yang diserahkan kepada Allah tidak berarti hilang. Ia dapat kembali dalam bentuk yang berbeda, dalam waktu yang berbeda, atau bahkan dalam kemuliaan yang jauh melampaui apa yang semula dibayangkan.

Karena itu, pengorbanan dalam keluarga bukan sekadar kehilangan. Ia dapat menjadi jalan menuju keberkahan ketika dilakukan dengan keikhlasan dan keyakinan kepada Allah.

 

Ujian Orientasi Lintas Generasi

Ujian keluarga Nabi Ibrahim AS kemudian ditutup dengan sebuah karunia yang sangat istimewa. Allah SWT berfirman, “Wa tarakna ‘alaihi fil akhirin”—Kami abadikan untuk Ibrahim pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian.

Syekh As-Sa’di menjelaskan, Allah mengabadikan sebutan baik bagi Nabi Ibrahim AS sehingga beliau terus dicintai, diagungkan, dan diteladani oleh orang-orang beriman.

Di sinilah terlihat perbedaan antara keluarga yang sekadar ingin hidup nyaman dan keluarga yang ingin meninggalkan keberkahan.

Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana: untuk berapa lama kita sebenarnya sedang membangun keluarga?

Apakah hanya untuk menikmati kehidupan selama beberapa puluh tahun? Ataukah kita sedang menyiapkan sesuatu yang manfaatnya tetap hidup setelah kita meninggalkan dunia?

Banyak manusia menghabiskan energi untuk sesuatu yang hanya bertahan sesaat. Seperti laron yang terbang sebentar, kehidupan dunia dapat terlihat panjang ketika dijalani, tetapi ternyata sangat singkat ketika telah berakhir.

Keluarga yang berorientasi pada keberkahan memandang rumah tangga sebagai tempat menanam sesuatu untuk masa depan yang lebih panjang. Pendidikan anak, keteladanan orang tua, kejujuran dalam mencari nafkah, kesetiaan dalam menghadapi ujian, serta pengorbanan karena Allah dapat menjadi warisan yang jauh lebih berharga daripada sekadar harta.

Warisan terbesar keluarga bukan selalu apa yang tertinggal di rekening atau dalam bentuk tanah dan bangunan. Bisa jadi ia berupa iman yang diwariskan kepada anak, akhlak yang diteladankan kepada cucu, dan amal kebaikan yang terus dilanjutkan generasi setelahnya.

Kisah Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa keluarga yang diberkahi bukan keluarga yang terbebas dari ujian. Justru keberkahan dapat lahir dari cara sebuah keluarga menghadapi ujian.

Ada ujian yang menguji kejujuran iman. Ada ujian yang menguji keyakinan terhadap pertolongan Allah. Dan ada ujian yang menguji apakah orientasi keluarga hanya berhenti pada kehidupan hari ini atau melampaui generasi.

Pada akhirnya, rumah tangga bukan sekadar tempat untuk pulang. Ia adalah tempat menanam.

Dan setiap pasangan perlu bertanya kepada dirinya sendiri: ketika usia kita selesai, apa yang masih akan tumbuh dari rumah yang pernah kita bangun?

.Jika yang ditanam adalah iman, keteladanan, pengorbanan, dan kebaikan karena Allah, semoga rumah itu tidak hanya menjadi tempat lahirnya ketenangan, tetapi juga menjadi sumber keberkahan yang terus mengalir lintas generasi.*