Parenting

Pilar Keluarga Berkah

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

SETIAP insan mendambakan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Rumah menjadi oase tempat jiwa bernaung dari hiruk-pikuk dunia. Namun, keluarga yang sukses bukanlah keluarga yang tak pernah disapa kesedihan atau terbebas dari air mata.

Keluarga yang hakiki adalah keluarga yang memiliki arah yang pasti: menjadikan Allah SWT sebagai muara dan tujuan, baik ketika lapang maupun sempit.

Alquran menghadirkan keluarga Nabi Ibrahim AS sebagai salah satu teladan agung. Melalui Surah As-Saffat ayat 103-105, Allah SWT merekam mahakarya ketundukan seorang ayah dan anak kepada perintah-Nya.

“Maka tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya).” (QS As-Saffat: 103).

Ayat ini membawa kita pada sebuah ujian keimanan yang begitu berat. Ibrahim dan Ismail berpadu dalam satu kepasrahan. Keduanya menundukkan ego dan cinta dunia demi satu tujuan: memenuhi ketetapan Allah SWT.

Ketika ketundukan itu dibuktikan, datanglah panggilan kemuliaan dari langit.

“Lalu Kami panggil dia: Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsinin).” (QS As-Saffat: 104-105).

Kisah ini mengajarkan bahwa kemuliaan sering kali lahir melalui ujian yang berat. Namun, panggilan kehormatan dari Allah bukanlah trofi untuk disombongkan. Ia adalah amanah yang menuntut tanggung jawab dan ketaatan yang lebih besar.

Dalam kehidupan keluarga hari ini, ujian tentu hadir dalam bentuk yang beragam. Ada yang diuji dengan sakit yang berkepanjangan. Ada yang harus menghadapi anak yang sedang menguji kesabaran. Ada pula yang diuji dengan persoalan ekonomi, konflik rumah tangga, atau berbagai masalah yang datang bertubi-tubi.

Tidak jarang kita memandang ujian dengan kacamata yang sempit. Kita mengira kesulitan sebagai hukuman, sementara kelapangan dianggap sebagai tanda keberhasilan.

Padahal, yang menentukan nilai sebuah keadaan bukan semata-mata bentuk peristiwanya, melainkan bagaimana kita menyikapinya.

Musibah dapat menjadi jalan datangnya nikmat ketika disambut dengan kesabaran. Sebaliknya, kelapangan dapat berubah menjadi petaka jika tidak disertai syukur. Harta yang banyak bisa terasa sempit ketika hati dipenuhi keluhan. Rezeki yang sedikit justru dapat terasa luas ketika diterima dengan qanaah.

Karena itu, membangun keluarga yang diberkahi membutuhkan pengorbanan. Ketaatan terkadang terasa berat. Kesabaran tidak selalu mudah. Keikhlasan pun tidak selalu hadir sejak awal.

Tidak mengapa jika pada mulanya kita harus memaksa diri untuk taat. Memaksa diri untuk bersabar. Memaksa diri untuk ikhlas. Sebab, kebaikan yang terus dilatih, dengan pertolongan dan rahmat Allah, perlahan akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu kemudian tumbuh menjadi karakter.

Keluarga Ibrahim AS mengajarkan bahwa keberkahan tidak lahir dari rumah yang tanpa ujian, melainkan dari hati yang tahu kepada siapa ia harus tunduk ketika ujian datang.

Maka, mari menancapkan empat pilar dalam kehidupan keluarga: sabar, tawakal, ikhlas, dan rida.

Dengan kepasrahan kepada Allah SWT, rumah yang kita bangun tidak sekadar menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Lebih dari itu, ia menjadi tempat tumbuhnya ketundukan, kesabaran, dan keimanan—sebuah rumah yang melahirkan generasi penerus yang bukan hanya sukses di dunia, tetapi juga membawa keberkahan hingga akhirat. Wallahu a’lam bish-shawab.*