Satu Teladan, Satu Barisan Umat

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
UMAT Islam adalah umat yang sangat besar. Mereka hidup di berbagai penjuru bumi, berbicara dengan ribuan bahasa, tumbuh dalam kebudayaan yang berbeda, serta memiliki latar belakang sosial yang beragam.
Dengan jumlah dan keragaman sebesar itu, menyatukan umat Islam dalam satu barisan tampaknya bukan perkara mudah. Bahkan, jika hanya mengandalkan ukuran manusia, persatuan itu mungkin terasa mustahil.
Namun, Islam mempunyai satu kekuatan yang mampu menembus batas bangsa, bahasa, budaya, dan wilayah: keteladanan Rasulullah SAW.
Inilah salah satu hikmah besar dari ittiba’ kepada Nabi Muhammad SAW. Mengikuti Rasulullah bukan hanya persoalan bagaimana seorang Muslim menjalankan ibadah secara pribadi. Ittiba’ juga memiliki dimensi sosial yang sangat besar, yakni melahirkan wahdatul ummah, kesatuan umat.
Tanpa satu teladan yang sama, umat yang berjumlah besar hanya berpotensi menjadi kerumunan. Banyak jumlahnya, tetapi berbeda arah. Besar kekuatannya, tetapi tercerai-berai.
Sebaliknya, ketika Rasulullah SAW ditempatkan sebagai teladan, umat menemukan titik pertemuan.
Perhatikanlah shalat. Di masjid kecil di sebuah kampung hingga masjid besar di kota-kota dunia, umat Islam berdiri menghadap kiblat. Mereka bertakbir, rukuk, sujud, dan mengucapkan salam dengan tata cara yang pada pokoknya sama.
Begitu pula azan. Dari Indonesia hingga Afrika, dari Asia hingga Eropa, lafaz panggilan shalat itu tetap dikenali oleh seorang Muslim. Kesatuan tersebut tidak lahir dari konferensi internasional, rapat organisasi, ataupun kesepakatan politik.
Ia lahir dari ketaatan kepada Rasulullah SAW. “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.”
Betapa dahsyat kekuatan sebuah keteladanan. Rasulullah SAW telah wafat lebih dari 14 abad lalu, tetapi tuntunan beliau tetap mampu menyatukan gerakan jutaan manusia setiap hari.
Masalah muncul ketika keteladanan Rasulullah tidak lagi menjadi titik temu. Ukuran kebenaran kemudian lebih sering ditarik kepada identitas masing-masing: kelompok saya, organisasi saya, atau mazhab saya.
Perbedaan sebenarnya bukanlah persoalan selama ditempatkan dalam bingkai ilmu, adab, dan ukhuwah. Para ulama sejak dahulu mengenal perbedaan pendapat. Namun, perbedaan berubah menjadi sumber perpecahan ketika fanatisme membuat seseorang lebih sibuk memenangkan kelompok daripada mencari tuntunan Rasulullah SAW.
Allah SWT mengingatkan dalam Surah An-Nur ayat 63:
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan (fitnah) atau ditimpa azab yang pedih.”
Ayat tersebut patut menjadi bahan perenungan. Penyimpangan dari tuntunan Rasulullah dapat menghadirkan fitnah dalam kehidupan umat. Kekacauan, pertentangan, hilangnya arah bersama, hingga renggangnya ukhuwah dapat menjadi musibah ketika kepentingan dan hawa nafsu lebih dikedepankan daripada petunjuk agama.
Karena itu, ittiba’ kepada Rasulullah sejatinya bukan hanya menjaga kesalehan pribadi. Di dalamnya ada upaya meraih cinta Allah (tahqiqul mahabbah), menemukan tuntunan ibadah yang benar, menjaga agama dari penyimpangan (hifzhuddin), sekaligus membangun kekuatan umat.
Semua itu pada akhirnya bertemu pada satu titik: persatuan.
Persatuan tentu tidak berarti menghapus seluruh perbedaan. Umat Islam akan tetap hidup dengan beragam bahasa, budaya, organisasi, dan pandangan fikih. Yang diperlukan adalah kesediaan menempatkan semua identitas tersebut di bawah kecintaan dan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kita boleh berbeda jalan dalam perkara yang memang memberi ruang perbedaan, tetapi jangan kehilangan arah.
Kita boleh memiliki organisasi berbeda, tetapi jangan kehilangan persaudaraan.
Kita boleh mempunyai pendapat berbeda, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita merasa lebih besar daripada umat itu sendiri.
Jika barisan umat ingin kembali dirapatkan, kuncinya bukan mencari siapa yang paling berhak menjadi pusat segala sesuatu. Kuncinya adalah kembali kepada pusat keteladanan yang sama: Rasulullah SAW.
Sebab, satu umat membutuhkan satu kompas. Dan bagi umat Islam, kompas itu telah Allah hadirkan dalam pribadi Nabi Muhammad SAW.
Ketika Rasulullah kembali menjadi teladan yang menyatukan, dua miliar Muslim tidak lagi sekadar menjadi angka besar dalam statistik dunia. Mereka dapat menjelma menjadi barisan kebaikan yang membawa rahmat, menegakkan ukhuwah, dan menerangi peradaban.
Satu Rasul, satu keteladanan, satu arah menuju ridha Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.*
