Mewariskan Kesalehan, Bukan Sekadar Kemapanan

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
DI TENGAH gemerlap kehidupan modern, ukuran keberhasilan anak kerap kali disederhanakan menjadi satu kata: mapan. Orang tua merasa telah menunaikan tugas ketika anaknya memiliki pendidikan tinggi, pekerjaan bergengsi, penghasilan besar, rumah nyaman, dan kehidupan yang berkecukupan.
Agama terkadang ditempatkan di urutan berikutnya. “Yang penting anak sukses dulu. Soal agama, nanti juga sadar sendiri,” demikian alasan yang tidak jarang terdengar.
Pertanyaannya, benarkah kesadaran spiritual akan tumbuh dengan sendirinya? Bukankah sesuatu yang tidak disemai, dirawat, dan dijaga akan sulit tumbuh dengan baik?
Alquran memberikan pelajaran berharga melalui kisah Nabi Ibrahim AS. Dalam Surah Ash-Shaffat ayat 100, Nabi Ibrahim berdoa, “Rabbi hab li minash-shalihin”—“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh.”
Doa tersebut menunjukkan bahwa kesalehan seorang anak bukan perkara yang layak ditunggu dengan sikap pasif. Ada ikhtiar, doa, keteladanan, dan pendidikan yang harus diupayakan. Bahkan, kesalehan anak merupakan karunia Allah yang patut terus dimohonkan oleh orang tua.
Karena itu, mendidik anak tidak cukup hanya dengan membekalinya kemampuan akademik, keterampilan, dan kecakapan menghadapi dunia. Semua itu penting, tetapi ada sesuatu yang jauh lebih mendasar: tauhid, iman, adab, dan akhlak.
Anak membutuhkan kompas untuk menentukan ke mana ilmu dan keterampilannya diarahkan. Tanpa fondasi iman, kecerdasan bisa kehilangan arah. Kemapanan bisa berubah menjadi kesombongan. Kebebasan dapat menjelma tanpa batas. Bahkan keberhasilan duniawi bisa membuat seseorang lupa kepada siapa seluruh nikmat itu berasal.
Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting. Anak bukan hanya membutuhkan nasihat, tetapi juga teladan. Mereka bukan sekadar mendengar apa yang dikatakan orang tua, melainkan melihat apa yang dilakukan. Ketika orang tua menjaga shalat, menjaga lisan, berlaku jujur, menghormati orang lain, dan bersungguh-sungguh mencari rezeki yang halal, sejatinya mereka sedang mengajarkan agama tanpa banyak kata.
Sebaliknya, jika anak dibesarkan dalam ukuran bahwa kehidupan hanya tentang uang, jabatan, dan status sosial, jangan heran apabila kelak ia pun memandang hubungan keluarga dengan ukuran yang sama.
Apa yang ditanam, itulah yang berpeluang tumbuh.
Lebih dari itu, pendidikan anak sesungguhnya bukan hanya proyek keluarga. Ia merupakan bagian dari ikhtiar membangun peradaban. Anak-anak hari ini adalah orang-orang yang kelak mengisi ruang-ruang kehidupan: menjadi pemimpin, guru, pengusaha, ilmuwan, dai, pekerja, orang tua, dan anggota masyarakat.
Jika generasi itu memiliki ilmu tetapi kehilangan iman, peradaban mungkin tumbuh secara material, tetapi rapuh secara moral.
Sebaliknya, ketika ilmu bertemu iman dan keterampilan berpadu dengan akhlak, lahirlah generasi yang tidak hanya mampu mengejar kemajuan, tetapi juga tahu untuk apa kemajuan itu digunakan.
Karena itu, jangan hanya sibuk menyiapkan masa depan anak dengan tabungan, rumah, pendidikan, dan berbagai fasilitas duniawi. Siapkan pula bekal yang akan mereka bawa ketika semua kemapanan itu tidak lagi berarti.
Wariskan kepada mereka Alquran, bukan hanya harta. Wariskan adab, bukan sekadar gelar. Wariskan keteladanan, bukan hanya nasihat. Dan yang paling utama, wariskan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sebab, boleh jadi harta yang kita tinggalkan akan habis. Rumah yang kita bangun akan lapuk. Jabatan akan berakhir. Tetapi doa anak saleh yang lahir dari pendidikan dan keteladanan orang tuanya dapat menjadi amal yang terus mengalir.
Maka, ukuran keberhasilan orang tua bukan semata-mata ketika anak mampu berdiri sendiri secara ekonomi. Ada ukuran yang lebih tinggi: ketika anak mampu berdiri teguh di atas iman, tetap rendah hati ketika berhasil, tetap sabar ketika diuji, dan tetap mengingat Allah dalam setiap keadaan.
Jangan sekadar mewariskan kemapanan. Wariskan kesalehan. Sebab dunia membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas untuk menjalani kehidupan, tetapi . juga beriman untuk menentukan arah kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawab.
