Bagaimana mendapatkan Warisan Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam?

Oleh KH Bachtiar Nasir
Cara paling mudah untuk dekat kepada Allah adalah dengan banyak berzikir. Dan agar merasa dekat dengan Rasulullah adalah dengan bersholawat.
Kalau kamu dipanggil oleh syari’at Allah dan rasul-Nya, jalankan syari’at Allah dan rasul-Nya, sebab syari’at itu yang menjadi ruh hidup kita.
Misalnya, kita sedang futur, malas ibadah dan naik pula maksiatnya. Kita justru memanfaatkan waktu untuk melihat di handphone hal-hal yang tidak ada gunanya. Kalau kondisi seperti ini, segeralah sambut panggilan syari’at. Misal ketika azan, segera bergegas lakukan shalat. Hal ini bisa menaikkan semangat lagi dan futur akan hilang.
Tentang hari besar Islam seperti Hari Maulid yang jatuh hari ini di Indonesia, hal yang penting adalah kita tahu, apa tujuan diutusnya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.
Beliau diutus sebagai nabi dan rahmat bagi seluruh alam. Kita akan merasakan Rasulullah sebagai rahmatan lil ‘alamin jika kita meneladani dan ‘itiba (mengikuti) Rasulullah.
Dengan ‘itiba kepada Rasulullah, kita akan mendapat cinta Allah.
Allahumma shali ala Muhammad.
Mengenal lebih dekat kepada Nabi
Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.
Salah satunya adalah perbanyak membaca Sirah Nabawiyah, sampai ke detil-detilnya.
Jika ingin mengukur kesetiaan kita kepada Nabi, harus dengan ilmu. Seawam-awamnya kita minimal menghafal 40 hadits yang kita pakai dalam 24 jam.
Minimal kita hapal Hadits Arbain karya Imam Nawawi sebagai panduan dan prinsip hidup yang kita jalani.
Jadilah penerus risalah Rasulullah
Kalau pun ingin merayakan maulid Nabi, mari jadikan diri kita sebagai penerus risalah agama yang dibawa Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Kita pahami isi risalah Nabi yang intinya adalah “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, ini adalah ayat kelima dari Surat Al-Fatihah yang artinya “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan
Meski Nabi sudah tiada, tetapi syafaatnya membersamai kita sampai sekarang.
Jika ingin mendapatkan warisan Nabi, maka pelajari ilmunya, sebab Nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar dan dirham.
Seperti yang dikatakan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu. Baka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Siapa pun yang menuntut dan mengamalkan ilmu syari’at, berarti ia telah mendapatkan warisan yang paling mulia dan kekal.*
