Dari Setetes Nutfah, Mengapa Manusia Masih Sombong?

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah SWT berfirman:
مِن نُّطْفَةٍ خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ
“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukan kadar (masing-masing).” (QS Abasa: 19).
Ayat tersebut mengajak manusia melihat kembali asal-usul dirinya. Manusia yang hari ini memiliki ilmu, kekuasaan, harta, jabatan, dan berbagai kelebihan ternyata berasal dari sesuatu yang begitu kecil dan sederhana: nutfah, setetes air mani.
Namun, pembicaraan ayat ini bukan semata-mata hendak menjelaskan tahapan embriologi manusia. Penyebutan nutfah lebih dalam daripada itu. Ia menjadi pengantar agar manusia menyadari kelemahan dan kehinaan asal penciptaannya sehingga tidak terjebak dalam kesombongan.
Manusia sering lupa diri ketika telah memiliki kelebihan. Ia merasa hebat karena ilmu, kuat karena kekuasaan, atau mulia karena kedudukan. Padahal, sebelum menjadi manusia yang dapat berjalan, berbicara dan berpikir, dirinya hanyalah berasal dari setetes nutfah.
Abdurrahman Habannaka menjelaskan bahwa kata khalaqa dalam ayat tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Penciptaan Allah berbeda dengan apa yang disebut manusia sebagai “menciptakan”. Allah menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Tidak ada bahan baku sebelumnya, tidak ada contoh yang menjadi acuan, dan tidak ada rancangan yang mendahului penciptaan-Nya.
Inilah yang disebut sebagai al-khalqu al-ibda’i. Penciptaan yang benar-benar menghadirkan sesuatu dari ketiadaan merupakan kekhususan Allah SWT. Manusia tidak berada pada posisi tersebut.
Manusia memang dapat disebut membuat atau menciptakan sesuatu, tetapi penciptaannya bersifat taswiri. Ada bahan yang telah tersedia, ada pengetahuan yang telah diperoleh, ada contoh yang diamati, dan ada hukum-hukum alam yang telah Allah tetapkan. Bahkan ketika manusia menghasilkan sebuah inovasi yang tampak sangat baru, tetap saja ia bekerja dengan bahan, kemampuan, dan hukum yang sebelumnya telah Allah ciptakan.
Al-Qur’an memberikan gambaran mengenai hal ini ketika menyebut Nabi Isa AS yang membuat bentuk burung dari tanah liat. Allah berfirman:
وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي
“Dan ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin-Ku…” (QS Al-Ma’idah: 110).
Kata takhluqu di sini dilekatkan kepada Nabi Isa AS. Namun, penciptaan tersebut tetap berlangsung dengan bahan yang telah tersedia, yakni tanah, dan berdasarkan bentuk makhluk yang telah Allah ciptakan. Karena itu, penciptaan manusia tidak pernah sama dengan penciptaan Allah.
Setelah menyebut khalaqahu, Allah melanjutkan dengan faqaddarah. Di sinilah manusia kembali diajak menyaksikan betapa sempurnanya pengaturan Allah dalam proses penciptaan.
Taqdir dalam penciptaan berarti setiap bagian dari makhluk diberi ukuran, kadar, fungsi, dan ketentuan yang tepat. Tidak ada bagian tubuh manusia yang hadir secara sia-sia. Semuanya berada dalam ukuran yang sesuai dengan tujuan penciptaannya.
Dari awal penciptaan, manusia berkembang secara bertahap. Organ-organ tubuh terbentuk dengan fungsi masing-masing. Sel berkembang dan memiliki spesialisasi. Saraf yang berkaitan dengan mata disusun sesuai dengan fungsi penglihatan. Begitu pula telinga dengan sistem pendengarannya. Setiap bagian memiliki karakteristik dan fungsi yang sesuai dengan ketetapan Allah.
Semakin direnungkan, semakin tampak bahwa tubuh manusia bukan sekadar kumpulan organ. Ada keteraturan yang luar biasa di dalamnya. Ada ukuran, fungsi, spesialisasi, dan hubungan yang begitu rumit antara satu bagian dengan bagian lainnya.
Menariknya, Allah menggunakan huruf fa dalam rangkaian khalaqahu fa qaddarah. Huruf tersebut menunjukkan urutan. Setelah Allah menciptakan, Dia menentukan kadar dan ketentuannya. Dengan demikian, penciptaan dan pengaturan itu tidak berdiri sendiri. Keduanya menunjukkan kesempurnaan ilmu dan kekuasaan Allah SWT.
Di sinilah ayat tersebut kembali membawa manusia kepada satu kesadaran penting: jangan sombong.
Sebab, manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. Ia tidak memilih bahan dasarnya. Ia tidak menentukan bentuk matanya, sistem sarafnya, detak jantungnya, atau bagaimana sel-sel tubuhnya bekerja. Semua itu telah ditentukan sebelum manusia mampu memahami dirinya sendiri.
Maka, semakin seseorang memahami penciptaan dirinya, seharusnya semakin rendah hatilah ia di hadapan Allah.
Ilmu tentang tubuh manusia semestinya tidak membuat manusia semakin sombong. Justru sebaliknya, ilmu itu seharusnya mengantarkan manusia kepada kekaguman terhadap Sang Pencipta.
Dari nutfah manusia diciptakan. Lalu ia diberi ukuran, bentuk, fungsi, kemampuan, dan kehidupan. Karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk merasa dirinya paling hebat.
Yang layak memiliki kesombongan hanyalah Allah SWT. Sedangkan manusia, betapapun tinggi kedudukannya, tetaplah makhluk yang pernah berasal dari setetes nutfah dan kelak akan kembali menjadi tanah.
Kesadaran tentang asal penciptaan bukan untuk merendahkan manusia, tetapi untuk mengembalikan manusia kepada tempat yang semestinya: sebagai hamba yang tunduk kepada Penciptanya.*
