Meneladani Dokter Pecinta Al-Qur’an

DI TENGAH kehidupan modern yang serba cepat, kesibukan kerap dijadikan alasan untuk menjauh dari Al-Qur’an. Padahal, sejarah Islam justru memperlihatkan bahwa orang-orang yang paling produktif adalah mereka yang paling dekat dengan kalam Allah. Kisah dr. Supandi Hasan, Sp.PD menjadi salah satu potret yang mengingatkan bahwa profesi, prestasi, dan kedekatan dengan Al-Qur’an bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Sebagai dokter spesialis penyakit dalam yang setiap hari bergelut dengan pasien, dr. Supandi tetap menjaga kebiasaan bermurajaah. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, ia diminta menyambung bacaan Surah Thaha ayat 124-126. Tanpa ragu, ayat-ayat itu mengalir dengan tartil dan makhraj yang baik. Pemandangan tersebut menghadirkan pesan sederhana namun kuat: kesibukan tidak menghalangi seseorang untuk tetap akrab dengan Al-Qur’an apabila hati memang terpaut kepadanya.
Ayat yang dibacanya berbicara tentang orang yang berpaling dari peringatan Allah sehingga menjalani kehidupan yang sempit. Pesan itu semakin mengena ketika dr. Supandi menuliskan bahwa sebelum melakukan visite ia membiasakan membaca satu atau dua ayat Al-Qur’an.
Ia juga mengungkapkan pengalamannya menghadapi pasien yang mengeluhkan sesak, padahal hasil pemeriksaan paru-paru, jantung, dan ginjal menunjukkan kondisi yang baik. Pengalaman tersebut mengingatkan bahwa tidak semua kegelisahan manusia bersumber dari penyakit fisik. Ada kalanya hati yang jauh dari Allah menjadi sebab hilangnya ketenangan.
Tentu, Islam mengajarkan bahwa penyakit harus diobati melalui ikhtiar medis yang benar. Namun pada saat yang sama, Al-Qur’an mengingatkan bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan jasad, melainkan juga hati dan jiwa. Karena itu, pengobatan dan penguatan spiritual bukanlah dua hal yang dipertentangkan, melainkan saling melengkapi.
Gelar Abadi
Kecintaan dr. Supandi kepada Al-Qur’an juga tampak ketika memberikan sambutan kepada para wisudawan penghafal Al-Qur’an. Dengan suara bergetar menahan haru, ia menegaskan bahwa gelar dokter spesialis akan berhenti di dunia, sedangkan kemuliaan sebagai penjaga Al-Qur’an akan terus menyertai hingga akhirat. Pesan tersebut bukanlah bentuk merendahkan ilmu pengetahuan, tetapi mengingatkan bahwa nilai seorang manusia di sisi Allah tidak ditentukan oleh jabatan, melainkan oleh ketakwaannya.
Harapan yang ia sampaikan pun layak menjadi cita-cita umat. Indonesia membutuhkan dokter yang hafal Al-Qur’an, dosen yang hafal Al-Qur’an, insinyur yang hafal Al-Qur’an, profesor yang hafal Al-Qur’an, hingga para pemimpin yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Negeri ini sesungguhnya tidak kekurangan orang cerdas, tetapi masih membutuhkan lebih banyak pribadi cerdas yang takut kepada Allah.
Perjalanan hidup dr. Supandi membuktikan bahwa menghafal Al-Qur’an tidak menghambat prestasi akademik. Bekal hafalan yang ditempa sejak belajar di pesantren justru mengantarkannya menyelesaikan pendidikan kedokteran hingga meraih gelar spesialis. Kisah ini menjadi bantahan terhadap anggapan bahwa menghafal Al-Qur’an akan membuat seseorang tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan profesi.
Sejarah peradaban Islam pun menunjukkan pola yang sama. Banyak ilmuwan Muslim besar tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan Al-Qur’an. Wahyu tidak pernah menjadi penghalang berkembangnya ilmu pengetahuan. Sebaliknya, Al-Qur’an menjadi sumber inspirasi yang mendorong lahirnya tradisi berpikir, meneliti, dan berkarya demi kemaslahatan manusia.
Karena itu, kisah dr. Supandi sesungguhnya bukan hanya tentang seorang dokter penghafal Al-Qur’an. Kisah ini adalah pengingat bahwa siapa pun dapat menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan, apa pun profesinya. Kesibukan bukan alasan untuk menjauh dari kalam Allah, sebab setiap manusia memperoleh waktu yang sama, yakni 24 jam dalam sehari. Yang membedakan hanyalah bagaimana waktu itu digunakan.
Pada akhirnya, setiap orang akan meninggalkan gelar, jabatan, dan seluruh pencapaiannya di dunia. Yang akan tetap menyertai adalah amal saleh dan kedekatan dengan Allah SWT. Maka, menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat dalam setiap fase kehidupan merupakan investasi yang nilainya tidak akan pernah habis, baik di dunia maupun di akhirat.*
Laporan: UBNNewsroom
