Parenting

Belajar Mendidik Anak Saleh dari Keluarga Nabi Ibrahim

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shafat: 102)

Di momen Idul Adha tahun ini, marilah kita mengenang sebuah keluarga yang diabadikan di dalam Al-Qur’an. Bukan keluarga yang kaya raya, bukan keluarga yang memiliki rumah megah, juga bukan keluarga yang hidupnya selalu mudah. Namun, sebuah keluarga yang komunikasi di dalamnya dibangun di atas iman.

Ayahnya bernama Ibrahim Alaihissalām, ibunya bernama Hajar ra, dan anaknya bernama Ismail Alaihissalām. Rumah mereka tidak penuh dengan fasilitas, tetapi penuh dengan ketaatan. Apa yang mereka jalani setiap hari tidak selalu mudah, tetapi arah hidup mereka jelas: menuju Allah Azza wa Jalla.

Komunikasi dalam Doa

Allah Ta’ala kemudian memuliakan kisah agung keluarga ini melalui doa sang ayah, “Rabbi hab li minash-shalihin (Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang saleh).” (QS. Ash-Shafat: 100)

Perhatikanlah, Nabi Ibrahim tidak terlebih dahulu meminta anak yang kaya, pintar, sukses dalam karier, terkenal, ataupun memiliki jabatan tinggi. Namun, beliau meminta anak yang saleh karena anak yang saleh merupakan harta yang tidak pernah habis; aset tak ternilai di dunia dan akhirat. Anak yang saleh adalah cahaya rumah dan doa yang tak berhenti mengalir bahkan ketika orang tuanya telah berada di alam kubur.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ketika manusia meninggal dunia maka amalnya akan terputus kecuali tiga perkara, salah satunya adalah doa anak yang saleh. Oleh karena itu, ketika mendoakan anak, jangan hanya berhenti pada urusan dunia. Urusan dunia boleh diminta, tetapi inti doa adalah memohon agar anak-anak kita dianugerahi kesalehan, ketaatan, kelembutan hati dalam menyambut perintah Allah, dan keteguhan untuk senantiasa berada di jalan-Nya.

Inilah komunikasi pertama dan utama yang harus dibangun orang tua kepada anak, yaitu komunikasi doa yang melangitkan anak. Menghadirkan anak di hadapan Allah Azza wa Jalla sebagai hamba yang kelak meneruskan ketaatan dan ketundukan hanya kepada-Nya. Doa inilah yang akan menyambungkan harapan dalam hati orang tua dengan frekuensi hati anak-anak kita, atas izin dan kasih sayang Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala kemudian menjawab doa Nabi Ibrahim Alaihissalām dengan menghadirkan Ismail as yang tumbuh dalam dekapan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan hati yang lembut untuk menerima perintah Rabb-nya.

“Fabasysyarnaahu bighulaamin haliim (Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat penyabar).” (QS. Ash-Shafat: 101)

Ghulamun halim adalah gambaran seorang pemuda yang lembut, matang, tidak mudah meledak, mampu menahan diri, kuat jiwanya, dan tenang dalam menghadapi ujian. Inilah karakter anak yang kadang lupa diminta orang tua dalam doa. Sering kali kita lebih banyak mendoakan anak agar berhasil mencapai kesuksesan versi dunia, padahal tidak semua anak diizinkan Allah Ta’ala mencapainya demi kebaikan dan keselamatannya di dunia maupun akhirat.

Bahkan, kita lebih sering membicarakan ukuran-ukuran dunia kepada anak sehingga mereka lebih hafal urusan dunia, tetapi tidak memahami tujuan hidup, ke mana harus melangkah, dan mengapa harus mengejar apa yang dibanggakan kebanyakan orang. Mereka tidak mengenal tujuan tertinggi kehidupan, apalagi mengenal Tuhan yang menciptakannya.

Komunikasi tanpa iman, tanpa mengenalkan Allah Ta’ala kepada anak, hanya akan membuat anak keras hati, hidup dengan target semu, dan haus akan pujian manusia. Tidak akan lahir anak yang lembut hatinya dalam menyambut perintah Allah dan Rasul-Nya meskipun ia mengetahui bahkan menghafalnya. Tidak akan lahir anak yang sabar dalam menghadapi ujian dan tekanan, serta matang dan bijak dalam menyikapi persoalan kehidupan.

Inilah pelajaran dari keluarga Ibrahim. Banyak orang tua mendidik anaknya menjadi pintar, tetapi lupa mendidiknya menjadi halim. Banyak orang tua mendidik anaknya menjadi sukses, tetapi lupa mendidiknya menjadi sabar. Banyak orang tua mendidik anaknya untuk menang, tetapi lupa mendidiknya agar tunduk kepada Allah Ta’ala.

Komunikasi melalui Keteladanan

Padahal, keluarga Ibrahim mengajarkan bahwa anak yang kuat bukan hanya anak yang pandai berbicara, tetapi anak yang mampu berkata:

“…satajidunii insya Allahu minash-shabirin (Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar).” (QS. Ash-Shafat: 102)

Ismail Alaihissalām membuktikan bahwa ia adalah pemuda yang kuat menerima dan menjalankan perintah Allah Ta’ala. Tidak ada penolakan, tidak ada penyangkalan, apalagi tuduhan bahwa orang tuanya mengada-ada. Semua itu mencerminkan teladan yang diberikan kedua orang tuanya, Nabi Ibrahim as dan Hajar ra.

Ketika Nabi Ibrahim Alaihissalām meninggalkan Hajar dan bayi Ismail di padang pasir yang sunyi karena perintah Allah, Hajar tidak menunjukkan penolakan setelah mengetahui bahwa itu adalah perintah dari Rabb-nya. Karena itu, komunikasi iman yang dibangun dalam keluarga juga harus direfleksikan kepada anak melalui teladan nyata dari orang tua.

Idul Adha kembali mengingatkan kita tentang pentingnya komunikasi iman yang harus dihidupkan di dalam rumah. Setiap perintah Allah dan Rasul-Nya harus disampaikan dengan benar dan baik kepada anak-anak, dibarengi dengan keikhlasan orang tua untuk menjadi teladan bagi mereka.

Idul Adha juga mengingatkan sebuah kepastian bahwa setiap keluarga pasti akan diuji. Ada yang diuji dengan pasangan, anak, ekonomi, maupun berbagai persoalan lainnya. Ada “Ismail-Ismail” dalam kehidupan kita, yaitu sesuatu yang sangat dicintai, tetapi harus dikorbankan demi ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Namun, dari sinilah akan lahir hamba-hamba yang kokoh imannya. Hamba yang tetap menjadikan Allah Ta’ala dan perintah-Nya sebagai pusat hati, pikiran, dan tindakan. Hamba yang menjadikan cinta kepada Allah sebagai syarat utama dalam setiap ketundukan dan keikhlasan.

Inilah komunikasi iman yang harus kita bangun dalam keluarga dan di setiap ruang hati anak-anak kita. Komunikasi yang hadir karena kita mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan cara yang jujur, benar, dan baik.*