KSPTadzkirah

Lorong Waktu Hari Arafah

Apa bedanya Hari Arafah dan Arafah?

Jika mengacu pada Hari Arafah, bukan pada tanggal 26 Mei berdasarkan penanggalan Masehi hari ini. Tetapi Hari Arafah adalah tanggal 9 Dzulhijjah pada penanggalan Hijriyah.

Ada perbedaan lorong waktunya antara tanggal 26 Mei hari ini dengan tanggal 9 Dzulhijjah, meskipun sama-sama hari ini adalah hari wukuf di Arafah.

Orang-orang yang berada di lorong waktu 9 Dzulhijjah mendapat banyak kesempatan yang seharusnya disambut dengan kebahagiaan dan harapan. Perbanyak doa-doa kepada Allah, dan melakukan ibadah-ibadah.

Bagi kita yang tidak berhaji, kita bisa melakukan ibadah lainnya, di luar wukuf.

Arafah yang berlokasi sekitar 20 km dari Mekkah adalah kawasan wukuf para jemaah haji. Jika kita berada di Padang Arafah bukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, tidak akan mendapatkan keistimewaan Hari Arafah.

Antara Arafah dan Arafat

Arafat adalah bentuk jamak dari kata arafah. Arafat juga merupakan nama yang sudah dikenal sebagian tempat wukuf para jemaah haji.

Hari Arafah adalah hari di mana waktunya untuk wukuf di tempat tersebut, dan hanya dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Dinamakan Arafah عرفات, yang terdiri dari huruf ر ,ع, dan ف (ain, ro, dan fa). Artinya mengetahui, memahami, atau saling mengenal.

Beberapa pendapat mengenai Arafah

Pertama, sebagai tempat bertemunya kembali Nabi Adam dan Hawa dan mengenal kembali setelah terpisah cukup panjang dari istrinya.

Setelah mereka melakukan kesalahan di surga dan berdoa, رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ, mereka bertemu kembali setelah lama terpisah Allah pertemukan dan perkenalkan kembali Adam dan Hawa di Arafah.

Kedua, malaikat Jibril memperkenalkan manasik haji kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam di tempat itu.

Ketiga, dinamakan Arafah karena manusia saling mengenal di sana saat wukuf, di antara orang-orang terpilih yang datang di Arafah. Saat shalat Zuhur, itulah mulainya waktu Arafah sampai terbenamnya matahari.

Keempat, kata Arafah dari al-‘Araf yang artinya harum.

Keutamaan hari Arafah

Pertama, berdasarkan hadits Aisyah Radhiallahu, tidak ada satu hari pun pada hari itu Allah membebaskan manusia dari neraka.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

Tidak ada hari di mana Allâh Azza wa Jalla membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para malaikat dan berkata: Apa yang mereka inginkan?” [HR. Muslim no. 1348]

Bayangkan, Allah mendekat dan membanggakan mereka di depan malaikat, dan malaikat diperintahkan bertanya apa yang mereka (manusia) inginkan.

Suatu hari seorang pria dari kaum Yahudi mendatangi Umar bin Khattab dan berkata:”Wahai Amirul Mukminin, ada sebuah ayat dalam kitab kalian yang biasa kalian baca. Seandainya ayat itu turun kepada kami kaum Yahudi, niscaya akan kami jadikan hari turunnya tersebut sebagai hari raya (perayaan).”

Al-Maidah ayat 3 yang dimaksud orang Yahudi itu adalah kalimat, Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Maka, siapa yang terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Itulah ayat terakhir yang diturunkan pada haji wada’. Itu juga pertanda bahwa Kesempurnaan Islam: Penegasan bahwa Allah Subhana Wa Ta’ala telah menyempurnakan agama Islam dan meridhoinya sebagai agama bagi umat manusia.*