Jurnalis muslim Adalah Muazin Peradaban

Jum’at, 15 Mei 2026 kemarin, beberapa jurnalis berdiskusi dengan KH Bachtiar Nasir di AQL Islamic Center, Tebet Jakarta Selatan.
Diskusi sambil ngopi pagi hari itu membahas tentang peran jurnalisme Islam di tengah serbuan berita yang beredar di masyarakat, baik dari media televisi, media sosial, dan platform lainnya.
“Betapa peran jurnalis begitu penting sebagai penyampai informasi, berita, atau pewarta,” Ustadz Bachtiar membuka obrolan. Namun di tengah persaingan komoditi berita, banyak yang asal yang penting viral padahal belum tentu benar. Jurnalisme seperti kehilangan getaran ruhnya.
Sekarang ini siapa pun bisa menjadi penyampai berita demi mendapatkan like and comment sebanyak-banyaknya tanpa memedulikan validitas kebenarannya.
Jika kita mundur jauh ke masa-masa silam, Nabi Ibrahim Alaihissalam sudah menjalankan tugas jurnalistiknya sebagai penyampai seruan Allah kepada segenap manusia di bumi ini.
Jurnalisme Ibrahim secara akidah ada di surah Al-Hajj ayat 27:
وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍۙ ٢٧
(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.
Seruan (az-zin) Nabi Ibrahim tersebut kepada seluruh manusia berlaku hingga sekarang.
Nabi Ibrahim Alaihissalam adalah muazin atau penyeru yang memanggil-manggil manusia untuk datang ke Baitullah, kembali pada kebenaran.
Dalam tafsir As-Sa’di dikatakan, ‘Sungguh, jika engkau telah memanggil mereka, niscaya mereka akan mendatangimu sebagai orang-orang yang berhaji atau mengerjakan umrah. “Dengan berjalan kaki,” maksudnya berjalan di atas kaki-kaki mereka karena terdorong oleh rasa kerinduan (kepadanya). “Dan mengendarai unta yang kurus,” maksudnya unta kurus yang melintasi perjalanan yang susah dan padang pasir yang ganas. Ia meneruskan langkahnya sampai ke tempat yang paling mulia “dari segenap penjuru yang jauh,” dari setiap negeri yang jauh.
Nabi Ibrahim telah melaksanakan perintah Allah sebagai muazin kepada seluruh manusia. Sesudah itu disusul oleh keturunannya, termasuk umat Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.
Maka, mereka berdua menyeru umat manusia untuk berhaji ke Baitullah. Keduanya mensosialisasikan dan mengulang-ulanginya. Dan sungguh telah terwujud janji Allah itu. Orang-orang datang dengan berjalan kaki dan menumpangi kendaraan dari belahan bumi TImur dan Barat.
Tugas sebagai penyampai pesan telah dijalankan oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam.
Muazin di sini bukan hanya sekedar orang yang mengumandangkan azan.
Hidayah dari ayat 27 Surah al-Hajj dan hubungannya dengan jurnalisme Islam adalah tugas menyampaikan seruan untuk kembali pada kebenaran.
Surah Al-Hajj ayat 27 ini bukan sekadar seruan untuk berhaji, tetapi juga ajakan untuk kembali kepada kebenaran. Di sinilah tugas jurnalis muslim, tidak boleh menulis demi untuk viral. Ia menulis karena menyebarkan kebenaran semata.
Jika berita sudah berubah menjadi komoditas, maka yang hilang pertama kali adalah nurani. Berita dan kabar yang disuguhkan tidak lagi menjadi media untuk mencerdaskan umat, tetapi menjadi alat untuk menggiring opini publik yang bisa memperuncing konflik. Bahkan sekarang suguhan berita seperti menguliti keburukan sesama manusia.
Seorang jurnalis muslim seperti Ibrahim Alaihissalam yang berdiri di atas dan menyeru kepada seluruh manusia kembali pada kebenaran.
Surah Al Kautsar menjadi penjaga bagi para jurnalis muslim.
Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah! Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah). (Surah Al-Kautsar)
Surah yang pendek ini menjadi muhasabah, bahwa setelah diberi banyak kenikmatan, jurnalis muslim haruslah disiplin shalat karena itu perintah Allah. Bila seorang jurnalis tidak disiplin ibadah, dia akan kehilangan kepekaan batinnya, dia akan menormalisasi tidak shalat berjamaah. Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan hilangnya kejernihan hati dalam melihat realitas. Hal yang penting diingat, kualitas tulisan bisa dilihat dari kualitas penulisnya.
Pesan ayat terakhir Surah Al-Kautsar, dialah yang terputus (dari rahmat Allah). Artinya telah terputus dari kebenaran. Rahmat Allah adalah ketenangan bagi pembawa kebenaran. Karenanya jika ada berita yang menyudutkan, jangan membalas keburukan dengan keburukan. Tetap belas dengan kebaikan yang lebih baik.
Media yang terputus dari rahmat Allah adalah media yang tidak memihak kepada kebenaran.
Seorang jurnalis muslim sebenarnya statusnya adalah muazin zaman atau muazin peradaban yang seperti Nabi Ibrahim Alaihissalam yang memanggil seluruh manusia untuk berhaji.
Di ayat 27 Surah Al-Hajj, yang disebut lebih dulu adalah pejalan kaki, bukan pemilik kendaraan. Artinya, yang perlu diperhatikan lebih dulu adalah kaum miskin atau lemah.
Setiap kita adalah muazin peradaban, menyerukan kebenaran, yang menyuruh umat untuk tidak terjebak berita tidak benar. Terlebih seorang jurnalisme islam mesti meluruskan kebenaran, bukan terseret dalam memecah belah. Sebab sekarang berita sudah menjadi komoditi, bukan lagi sebagai azan peradaban.
Al-Hajj ayat 27 adalah bagaimana Ibrahim Alaihissalam menyeru manusia untuk datang ke Baitullah? Inilah juga dasar dari jurnalisme islam, bagaimana menyampaikan berita yang benar?
Pertama, harus menjadikan kebenaran sebagai kiblat. Media tidak boleh tunduk pada tekanan pemilik modal, kepentingan politik dan kelompok. Jurnalisme islam tidak boleh memecah belah.
Kedua, jurnalisme islam harus menjadikan keadilan sebagai ruh framingnya dalam mengetengahkan berita.
Ketiga, jurnalisme Islam harus menjaga kesucian bahasa. Bahasa jurnalistik adalah media untuk menyadarkan publik. Jangan sampai bahasa dalam jurnalisme digunakan untuk membunuh karakter manusia.
Keempat, siap mengorbankan secara profesional. Jangan sampai sikap yang lurus menghilangkan akses bagi kebenaran. Pengorbanan seorang jurnalis diuji demi menjaga amanah profesi.
Pada akhirnya seorang jurnalis sejatinya adalah seorang muazin peradaban yang menyeru orang-orang kembali pada kebenaran.
