Jangan Lalai, Kita Sedang Menuju Pulang

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
KITA sering menjalani hidup seolah-olah waktu tidak akan habis. Rencana disusun panjang, target ditumpuk tinggi, dan urusan dunia terus dikejar tanpa jeda. Padahal, ada satu hal yang pasti dan sering kita lupakan, hidup ini ada batasnya.
Dari sinilah seharusnya kita mulai melihat hidup dengan cara yang berbeda. Bukan dengan rasa takut yang berlebihan, tapi dengan kesadaran yang jernih: bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menyiapkan kepulangan.
Kematian, dalam banyak ajaran Islam, bukan sekadar akhir. Ia adalah perpindahan. Dari dunia yang sementara menuju kehidupan yang abadi.
Masalahnya, kita sering terlalu sibuk di “ruang tunggu” ini, sampai lupa bahwa kita sebenarnya sedang dalam perjalanan.
Kita mengejar banyak hal—harta, pencapaian, pengakuan—seolah itu tujuan akhir. Padahal, seperti diingatkan dalam Surah At-Takatsur, kesibukan memperbanyak urusan dunia justru bisa melalaikan.
Jika sudut pandang diubah, hidup menjadi lebih jernih. Yang semula terasa sangat penting, perlahan tampak biasa saja. Yang dulu dikejar mati-matian, ternyata tidak semuanya perlu dipertahankan.
Sebaliknya, hal-hal yang sering kita anggap sepele justru menjadi sangat berarti, shalat yang khusyuk, hati yang bersih, hubungan yang baik dengan orang tua dan sesama. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang kita punya, tapi seberapa siap kita pulang.
Kesadaran akan kematian bukan untuk membuat hidup terasa sempit. Justru sebaliknya, ia membuat hidup lebih terarah.
Kita jadi lebih hati-hati dalam memilih. Lebih jujur dalam bertindak. Lebih ringan dalam melepaskan. Dan yang paling penting, lebih cepat kembali ketika melakukan kesalahan. Taubat tidak lagi ditunda. Kebaikan tidak lagi menunggu waktu “nanti”.
Bayangkan jika suatu saat kita benar-benar dipanggil. Apa yang ingin kita rasakan? Panik karena belum siap, atau tenang karena sudah berusaha?
Al-Qur’an memberi gambaran indah tentang akhir perjalanan itu dalam Surah Al-Fajr, “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai…”
Itulah panggilan yang diharapkan setiap orang beriman, pulang dalam keadaan diterima.
Maka mungkin yang perlu kita ubah bukan hidup kita secara drastis, tapi cara kita memandangnya. Bahwa setiap hari adalah kesempatan. Setiap kesalahan masih bisa diperbaiki.
Dan setiap langkah kecil menuju kebaikan tetap berarti. Karena hidup yang baik bukan yang paling lama, tapi yang paling siap ketika waktunya tiba.*
