KSP

Jahatnya Bisikan Setan Menggoda Manusia

Oleh KH Bachtiar Nasir

Surah An-Nas:

١ – قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ
٢ – مَلِكِ النَّاسِۙ
٣ – اِلٰهِ النَّاسِۙ
٤ – مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ
٥ – الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ
٦ – مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Artinya:
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sesembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

Surah ini mengajak kita memohon perlindungan kepada Allah dengan tiga sifat Allah: Robbinnas, Malikinnas, dan ilahinnas.

Kita meminta perlindungan dari kejahatan yang luar biasa, dan faktanya banyak manusia yang kalah dalam melawan kejahatan ini. Dalam kenyataannya manusia banyak melakukan apa yang diajarkan oleh setan, dan terbawa sampai bulan puasa ini. Karenanya tanpa pertolongan Allah kita tidak akan terbebas dari kejahatan setan ini.

Secara neuroplastisitas, kejahatan waswas pada manusia datang dari setan yang membisikan. Pelakunya adalah makhluk yang tersembunyi. Di sini ains menerjemahkannya, sesuai dengan pendapat tafsir para ulama.

Pada hakikatnya tidak ada benturan antara Al-Qur’an dengan sains. Karenanya seharusnya kita semakin cerdas beragama. Kita tidak mudah dimanipulasi oleh setan yang senantiasa berada di balik layar dalam mengelabui kita.

Kejahatan setan ini pelakunya tersembunyi. Obyek sasaran mereka adalah titik sentral manusia.

Apakah di Bulan Ramadhan kita berhasil membuat alur baru di dalam otak kita? Alur baru ini yang membentuk kebiasaan baru kita, terlepas dari kebiasaan yang sudah berjalan dengan pengaruh oleh setan sebelumnya. Apakah kita mampu meninggalkan kebiasaan buruk dengan self control kita, saat Shiyam di siang hari dan qiyam di malam hari.

Takwa bisa diukur menggunakan sains

Sekarang kita lihat struktur ancaman menurut surah An-Nas.

Menurut tafsir Ibnu Asyur, permohonan perlindungan dari Surah An-Nas bukan dari ancaman fisik tetapi metafisik berupa bisikan yang terus-menerus masuk ke dalam kesadaran manusia. Dan ini bisikan jahat yang terus diulang-ulang masuk ke dalam hati manusia. Lalu pelakunya tersembunyi.

Makna penting dari tafsir Al-Asyur:

Inilah proses repetisi atau pengulangan. Gangguan setan ini bukan sekali datang, tetapi impuls atau dorongan-dorongan yang selalu berulang-ulang. Tanpa sadar kita larut mengikutinya. Pikiran otomatis mengikuti sugesti yang terus masuk ke dalam sistem kesadaran.

Dalam bahasa sederhana, menurut Ibnu Asyur, bisikan ini adalah lintasan makna yang berulang ke dalam jiwa sampai dia menetap.

Biasanya persepsi kita terhadap surah An-Nas mengarah pada sosok jin yang mengganggu manusia.

Dari sisi lain, yakni sisi sains, bahwa permohonan perlindungan di sini bukan perlindungan dari sakit, kecelakaan, atau gangguan fisik lainnya. Tetapi yang kita minta adalah perlindungan yang masuk ke dalam psikis kita, karena bisikan setan ini berulang-ulang, berupa rasa waswas pada diri manusia.

Kata yuwaswisu menunjukkan bisikan setan bukan sekali saja, tetapi berulang-ulang masuk ke dalam otak kiri yang suka pada pengulangan. Pengulangan ini lama-lama akan dianggap normal.

Contohnya, shalat tarawih. Hari pertama Ramadhan sudah berniat tarawih di masjid. Lalu datang godaan untuk shalat di rumah saja. Kita tetap ke masjid karena bisa melawan bisikan godaan itu. Malam kedua, bisikan itu datang lagi, kita mulai goyah, dan shalat di rumah. Malam ketiga di rumah lagi. Lama-lama jadi normalisasi shalat tarawih di rumah.

Kasus kedua misalnya membaca Qur’an. Berniat usai tarawih baca Qur’an, lalu muncul pikiran untuk cek HP dulu, kalau-kalau ada pesan masuk. Akhirnya kita pun membuka HP. Pertama, cek sebentar. Besok malamnya cek HP lagi usai tarawih lebih lama dari sebelumnya. Malam selanjutnya buka HP lagi. Akhirnya bacaan Qur’an lalai karena keseringan membuka dan memeriksa isi HP.

Kita tidak sadar, bahwa alur yang dibuat setan itu dibuat begitu kuat.

Nah, di Ramadhan ini alur takwa kita bangun untuk mengganti alur lama yang biasa mengikuti bisikan setan. Lama-lama jalur lama akan pudar terlupakan. Setelah Ramadhan setan akan menggoda lagi. Nah disinilah pertarungan kita, apakah kita kuat? Tergantung apakah kita kuat membangun alur baru dan mempertahankan meskipun Ramadhan sudah lewat.

Kenapa kita diperintahkan berzikir 33 kali setelah shalat? Kita memang harus kuat dalam alur itu dan kita kerjakan dengan rutin.

Saat sedang puasa kita bisa menahan emosi. Hari selanjutnya mulai sedikit marah jika tersulut emosi. Hari selanjutnya lagi amarah mulai tidak tahan lagi. Demikian kerja setan berulang-ulang menggoda manusia.

Begitulah waswas datang dari bisikan yang berulang-ulang menjadi reaksi otomatis, sebab otak kita belajar dari pengalaman. Otak dan pikiran kita seperti tanah basah. Kalau sekali diinjak, selanjutnya lebih mudah menyusuri alur jalan itu.

Jika kita tidak membuat tanggul takwa untuk membendung pikiran dan bisikan negatif, akan mudah kebobolan menghadapi bisikan setan.

Kalau awal-awal kita mangkir membaca Qur’an, dan tidak dilawan, lama kelamaan akan menjadi kebiasaan.

Yang dimaksud dengan waswas menetap di dalam dada, Ibnu Asyur menjelaskannya, bahwa waswas masuk ke pikiran, lalu berulang-ulang, dan akhirnya menetap.

Jadi Ramadhan ini jadikan sebagai latihan menghentikan repetisi. Misalnya latihan membatasi makan, kurangi hiburan dan scrolling HP. Akhirnya Ramadhan memberi kita kesempatan memutus hubungan buruk kebiasaan lama menuju kebiasaan baru yang lebih baik.

Intinya, dosa besar tidak dimulai dari tindakan besar, tetapi dari pikiran kecil yang diulang-ulang sampai menjadi normalisasi.

Tidak ada dosa kecil jika terus menerus dikerjakan.

Bahasa agamanya, tidak ada dosa besar bersama istighfar yang terus menerus dan bertaubat, dosa besar akan hancur.

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhumma berkata :

لا كبيرة مع الإستغفار ولا صغيرة مع إصرار

“Tidak ada Istilah dosa besar kalau diiringi istighfar, dan tidak ada istilah dosa kecil kalau dilakukan terus menerus.”

Setan, lewat bisikan inspirasi-inspirasi kecil yang mereka lakukan berulang-ulang kepada manusia, agar itu menjadi kebiasaan.

Di sinilah kita perlu berjuang untuk membangun takwa.