Tadzkirah

Membersihkan Karat Hati di Penghujung Sya’ban

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

​“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 1-5)

​Beberapa hari menjelang datangnya bulan Ramadhan, ada baiknya kita menilik kembali persiapan yang telah dilakukan. Mengapa perlu persiapan yang matang? Karena di bulan Ramadhan inilah kita akan membuka lembaran baru untuk satu tahun ke depan. Lembaran yang kelak akan dibawa oleh para malaikat yang turun ke bumi pada malam Lailatul Qadar. Inilah malam mulia saat segala urusan kita ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Di malam yang lebih mulia dari seribu bulan ini pula, Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa dan memberkahi perjalanan hidup kita.

​Manakala di bulan Sya’ban amalan kita selama setahun diangkat dan diperhitungkan, maka persiapan terbaik menjelang Ramadhan tentu adalah membersihkan hati dan pikiran dari segala penyakit hati. Dengan begitu, kita bisa menuliskan amal-amal terbaik di tahun mendatang. Hati pun terbebas dari belenggu kemarahan, dendam, dan iri hati.

​”Itu adalah bulan (Sya’ban) yang sering dilalaikan oleh manusia, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan itu, amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, maka aku menyukai jika amalku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad, dinilai Hasan oleh Al-Albani)

​Target Ramadhan

​Kita perlu mempersiapkan hati karena kita adalah makhluk yang diciptakan untuk beribadah. Ibadah dimulai dari hati dengan adanya niat. Maka, upayakanlah hati kita selaras dengan gerak langkah hidup sebagai perjalanan ibadah sebelum kelak kita berjumpa dengan-Nya.

​Bila pada hari-hari sebelumnya kita belum menetapkan target spesifik, maka kali ini saya ingin mengajak kita semua untuk berupaya meraih keutamaan malam Lailatul Qadar berdasarkan pengajaran para ulama.

​Jika ingin menjadi “nominator” peraih Lailatul Qadar, ketahuilah bahwa keutamaan malam tersebut diberikan kepada jiwa-jiwa yang layak. Oleh karena itu, “bejana” di dalam hati dan pikiran kita mesti dipersiapkan sepenuhnya. Hati yang layak disemayamkan cahaya firman dan asma Allah adalah hati yang bersih dari kesyirikan, kemunafikan, permusuhan, prasangka buruk, riya, dan ujub. Ini membutuhkan upaya berbenah diri yang serius agar kita mencapai kondisi qolbun salim (hati yang selamat).

​Kapasitas Qolbun Salim

​Pantaskanlah diri untuk didekati malaikat dan dipilih Allah sebagai kandidat peraih kemuliaan. Kuncinya adalah niat yang tulus. Perbanyaklah bertasbih untuk membersihkan “karat” hati dan pikiran negatif agar cahaya Ilahi dapat bersemayam tanpa terhalang kegelapan batin.

​Pemilik qolbun salim bukanlah orang yang tidak pernah memiliki luka hati, melainkan mereka yang memilih untuk tidak menyimpan penyakit yang merusak. Orang yang mendendam bagaikan orang yang meminum racun, tetapi berharap orang lain yang mati. Dalam ilmu tazkiyatun nafs, dendam adalah racun batin yang menghalangi cahaya Allah. Kebencian adalah beban yang memberatkan ruh untuk naik ke hadirat-Nya.

​Inilah hari-hari terakhir Sya’ban. Persiapkanlah hati agar selamat dari dengki dan syirik. Semoga kita pantas dipilih oleh para malaikat untuk menjadi kandidat yang dimahkotai ampunan dan rahmat-Nya, sehingga lembaran hidup kita setahun ke depan dinaungi berkah dan cinta Allah Ta’ala.

​“Allahumma inni a’udzubika minasysyakki wasysyirki wasysyiqaaqi wannifaaqi wa suu’il akhlaaqi wa suu’il manzhari wal munqalabi fil maali wal ahli wal waladi.”

​(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keraguan, syirik, perpecahan, kemunafikan, akhlak yang buruk, serta nasib buruk dalam harta benda, keluarga, dan anak-anak.)*