Meraih Ampunan Allah Azza Wa Jalla di Bulan Sya’ban

Oleh KH Bachtiar Nasir
Agar kita memasuki Ramadhan dengan penuh keringanan, raihlah ampunan Allah agar jiwa kita tersirami ketenangan di bulan Sya’ban ini.
Ramadhan bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga bulan ampunan dari siksa api neraka.
Ramadhan tidak berdiri sendiri, tetapi ia memiliki pintu-pintu persiapannya. Salah satu pintu persiapan adalah Bulan Rajab yang penuh berkah dan merupakan bulan suci. Pintu persiapan lainnya adalah Bulan Sya’ban ini.
Itulah pintu-pintu, di mana benih-benih atau tunas-tunas yang sudah mulai kita tanam di Bulan Rajab, dan menyiraminya di Bulan Sya’ban menjelang masuk ke Bulan Ramadhan.
Manfaatkan semua momen hebat untuk mendapatkan ampunan Allah di bulan ini.
Senantiasalah berzikir mohon ampun,
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ.
“Ya Allah, Engkau Rabbku, tidak ada sembahan yang haq kecuali Engkau. Engkau menciptakanku dan aku hamba-Mu. Aku di atas perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku lakukan, aku mengakui untuk-Mu nikmat-nikmat-Mu atasku, dan aku mengakui untuk-Mu dosa-dosaku, maka ampunilah aku, sungguh tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau.”
Allah memberi ampunan luas atas dasar karena kebersihan hati kita.
Sejak awal Sya’ban sebaiknya kita sudah banyak yang mempersiapkan diri.
Ada juga yang menanti-nanti pertengahan Sya’ban, karena ada hadits dari Ibnu Majah yang berbunyi,
“Sesungguhnya Allah SWT melihat kepada hamba-Nya di malam Nisfu Sya’ban, maka Dia mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang yang menyekutukan Allah atau orang munafik/bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh sebagian ulama).
Pelajaran dari hadits di atas bahwa, pertama ampunan bersifat umum mencangkup semua makhluk. Kedua, ampunan itu pengecualian khusus untuk dua golongan: bukan karena kurangnya ibadah tetap karena rusaknya akidah, dan masih ada permusuhan dengan sesama.
Kemusyrikan menyebabkan rusaknya hubungan dengan Allah, dan bermusuhan menyebabkan rusaknya hubungan dengan manusia.
Ini menegaskan, bahwa tauhid kepada Allah dan kebersihan hati lebih penting daripada banyaknya amal saleh.
Jangan sampai banyak amal saleh tetapi lupa atau kurang istighfar. Dalam banyak hal boleh jadi istighfar pahalanya lebih besar.
Jadi, di Bulan Sya’ban ini hendaknya:
1. Perbanyak istighfar.
2. Mendoakan kedua orang tua, mintakan ampunan untuk kedua orang tua kita baik yang masih hidup atau yang sudah wafat.
3. Jauhi syirik, sejauh-jauhnya.
4. Jauhi permusuhan.
Hal yang penting adalah dosa-dosa kita di hadapan Allah diampuni, seperti kemusyrikan, kemunafikan.
Allah akan mengampuni dosa-dosa kita selama kita memohon ampunan-Nya. Katakan, “Aku mengemis kepada-Mu, Ya Allah, memohon ampunan dosa.”
Ingat juga dosa sosial kita, yang lebih berat daripada dosa pribadi. Misalnya menebang hutan, mengakibatkan banjir yang merugikan orang banyak, buang sampah sembarangan menyebabkan banjir dan merugikan banyak orang.
Ada hadits Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang menyuruh kita meminta ampunan atau kehalalan terhadap orang-orang yang sudah kita zalimi atau kita punya dosa terhadapnya.
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Barang siapa yang pernah berbuat zalim terhadap kehormatan saudaranya atau mengambil sesuatu darinya, hendaknya segera meminta maaf dan kehalalannya (di dunia ini) sebelum tiba hari di mana dinar dan dirham tak lagi bermanfaat. Jika tidak, maka pada hari kiamat, amal salehnya akan diambil sebanding dengan kezaliman yang telah diperbuat. Jika ia tidak lagi memiliki kebaikan, maka keburukan orang yang pernah ia zalimi akan dipindahkan kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 2449)
Tekanan dari hadits tersebut adalah,
1. Dosa kepada manusia tidak gugur dengan istighfar semata.
2. Jika amal kita habis, pahala kebaikan kita pindah ke dia.
3. Jika amalan kita habis, ini bahayanya, dosa orang lain akan dibebankan kepada kita.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita sebelum memasuki Ramadhan
Jangan cabut nyawaku sebelum Engkau ampuni dosa-dosa, dan jangan panjangkan umur kalau hanya diisi dengan perbuatan-perbuatan dosa.
