KSP

Tahun Baru Masehi dengan Energi Rajab

Oleh KH Bachtiar Nasir

Tahun baru 2026 akan segera datang, meninggalkan tahun 2025 disertai dengan segala dinamikanya.

Terkait 2026,  mari membawa energi Bulan Rajab yang merupakan salah satu Asyhurul Hurum atau bulan suci, dan kita isi dengan amal soleh.

Lihat Surah At-taubah ayat 36 :

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ مِنْهَاۤ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ ۗ وَقَا تِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآ فَّةً كَمَا يُقَا تِلُوْنَكُمْ كَآ فَّةً ۗ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 36)

Dalam ayat 36 Surah At-Taubah ada kata الْمُتَّقِيْنَ (al-Muttaqin) di ujung ayat, menegaskan bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa selama mengikuti perintah-Nya.

Seperti kita ketahui, Bulan Desember, dan bulan-bulan Masehi lainnya menggunakan kalender yang berdasarkan penanggalan sistem matahari. Sedangkan kalender pada bulan-bulan Islam memakai penanggalan bulan yang ditetapkan oleh Allah sebanyak 12 bulan. Perbedaannya adalah, penanggalan Islam atau Hijriyah Allah sendiri yang menetapkan banyaknya bulan dan nama-namanya beserta larangan-larangan yang terkait dilarang dilakukan pada bulan-bulan suci.

Hal ini ditegaskan pada kata عِنْدَ اللّٰهِ (indallah) dalam Surah At-Taubah ayat 36, maknanya adalah penanggalan Islam ini menurut ketentuan Allah, karena terkait dengan waktu-waktu ibadah.

Sayangnya di penghujung tahun Masehi orang muslim sibuk dengan pesta kembang api dan semacamnya. Padahal dalam Al-Qur’an lewat surah At-Taubah, ada 12 bulan yang empat diantaranya adalah bulan suci. Bulan Rajab salah satunya yang sekarang kita berada di dalamnya.

Akhir bulan Desember 2025 ini bertepatan dengan tanggal 12 Bulan Rajab. Kalimat ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ, artinya inilah ketetapan agama yang lurus. Karenanya yang tidak mengikuti ayat ini, yang mengadakan pesta-pesta tahun baru, tidak lagi mengikuti agama yang lurus.

Sekarang kita bertanya kepada diri sendiri, kita ingin dikenang sebagai apa saat wafat? Kalau bisa kita sudah menentukan sendiri definisi tujuan kita. Misalnya kita menginginkan diri sebagai orang saleh dengan definisi matinya syahid, di surga bersama Anbiya wal Mursalin. Kita akan memohon dengan doa اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (ihdinas shirotol mustaqim), “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Ihdinas shirotol mustaqim adalah jalannya para Nabi, thabi’in, dan para salihin.

Persiapkan kita selalu mengisi dengan asma Allah dan ayat-ayat-Nya.

Di akhir tahun ini dengan membawa semangat Bulan Rajab, mari definisikan diri, akhir hidup kita akan seperti apa. Apakah ingin mati dikenang sebagai orang kaya atau dikenang sebagai orang yang punya integritas? Apakah ingin mati dikenang sebagai orang yang sibuk dengan karir dan duniawinya? Hati-hati, khawatir mati dengan urusan duniawi, sementara kita belum sempat mendefinisikan diri akan mati seperti bagaimana.

Pilihan definisi akhir hidup kita adalah sebagai salihin, syuhada, atau seperti Anbiya wal Mursalin (para Nabi dan para Rasul).

Bagaimana mengisi akhir tahun Masehi dengan energi Rajab? Bagi yang belum punya definisi akhir hidup saat wafat, caranya adalah sesuai dengan isi ayat 37 Surah At-Taubah: Janganlah menzalimi diri sendiri pada empat bulan haram, termasuk Bulan Rajab. Jadikan bulan ini sebagai bulan pembinaan jiwa, jangan menganiaya diri sendiri, ini adalah bentuk tarbiyah pada diri sendiri. Ambillah tawaran dari Allah ini.

Waktu memiliki saat-saat spiritual. Bahkan orang musyrik pun memiliki waktu-waktu spiritual atau ritual khusus. Mereka punya momen mistis.

Kita sebagai muslim punya waktu-waktu spiritual yang bagus, spot-spot yang bagus yang memiliki nilai spiritual.

Bulan Rajab terkait dengan Ramadhan, di mana sampai Ramadhan akhlak sudah terbentuk secara permanen.

Jadikan syariat menjadi pembiasaan (habit) bukan merupakan beban atau pemaksaan. Planing kita hari ini menentukan masa depan.

Manfaatkan waktu agar kita punya keistimewaan permanen dalam diri kita sejak Rajab ini. Ukuran permanen sampai akhirat, bukan saja di dunia.

Kezaliman terhadap diri dalam konteks Surah At-Taubah ini bukan saja dalam dosa besar. Tetapi termasuk kezaliman adalah kelalaian yang berulang-ulang, maksiat yang dianggap biasa, mengabaikan lisan dan pandangan.