Tadabbur

Nasihat Imam Malik kepada Penguasa

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

 

Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Imam Malik pernah diminta memberi nasihat kepada Khalifah Harun Al-Rasyid. Sang Khalifah memerintah antara tahun 170–193 H (786–809 M), masa kejayaan Daulah Abbasiyah yang penuh dengan gemerlap peradaban. Baghdad kala itu menjadi pusat ilmu, seni, sastra, dan budaya; mutiara dunia Islam yang dikagumi banyak bangsa. Para ulama pun bangga menyematkan nama Baghdad di belakang nama mereka, sebagai tanda kehormatan dan kebanggaan.

Namun di tengah keemasan itu, Imam Malik tetap menjaga jarak dari kekuasaan. Bukan karena menolak, melainkan demi menjaga kemurnian ilmu dari godaan dunia dan agar nasihatnya tetap tajam berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Beliau wafat pada tahun 179 H, sembilan tahun setelah masa pemerintahan Harun Al-Rasyid dimulai.

Keteguhannya tampak jelas ketika beliau menolak permintaan agar Al-Muwaththa’ dijadikan kitab fiqh resmi negara. Baginya, ilmu adalah warisan seluruh umat Islam, bukan milik satu mazhab atau satu penguasa. Tidaklah layak bila umat dipaksa berjalan hanya dalam satu jalan, sementara kebenaran hadir dalam banyak bahasa dan ragam pemahaman.

 

Lima Nasihat Imam Malik

Suatu ketika, Khalifah Harun Al-Rasyid meminta nasihat kepada Imam Malik. Meski penguasa tertinggi, beliau tetap diliputi kegelisahan: bagaimana kelak mempertanggungjawabkan kekuasaan di hadapan Allah? Maka Imam Malik memberikan lima nasihat agung, yang bukan hanya untuk sang Khalifah, melainkan juga untuk siapa saja yang dititipi harta, jabatan, dan kekuasaan.

Pertama, ingatlah sakaratul maut. Saat-saat ketika napas kian berat, wajah orang-orang tercinta penuh cemas, dan dunia perlahan meninggalkanmu. Yang lebih menakutkan dari sekadar kematian adalah apa yang menanti sesudahnya: menghadap Allah Ta’ala, diadili, lalu ditetapkan apakah engkau penghuni surga atau neraka. Semakin banyak dunia yang dikejar, semakin panjang hisabnya. Halalnya akan dihisab, haramnya akan diazab.

Kedua, persiapkanlah bekal untuk hari itu. Dunia hanyalah ladang memperpendek hisab, bukan menambahnya. Harta, jabatan, dan kekuasaan seringkali justru memperpanjang hisab dan menjerumuskan langkah ke neraka. Ingatlah ayat Allah:

“Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku.” (QS. Al-Mu’minun: 108)

Betapa pedihnya bila Allah berpaling, tidak sudi berbicara, bahkan tidak memberi pertolongan.

Ketiga, renungkanlah keadaan orang-orang yang taat. Wajah mereka bercahaya, hati mereka tenang, dan mereka dimuliakan dengan kesempatan menatap wajah Allah. Kenikmatan sekecil apa pun di surga jauh lebih agung daripada gemerlap dunia yang paling besar sekalipun.

Keempat, sisihkanlah waktu untuk Allah, baik malam maupun siang. Jangan habiskan seluruh hidup untuk dunia. Bangunlah malam dengan shalat sunah semampu yang engkau bisa, dan lengkapi siang dengan shalat rawatib qobliyah dan ba’diyah. Berpuasalah di hari-hari putih setiap bulan. Maka Allah akan membangun rumah di surga untukmu, tempat engkau membaca apa yang engkau suka.

Kelima, sucikan hartamu dengan zakat terbaik, agar jiwa pun bersih dengannya. Bila sudah mencapai nisab dan haul, jangan ditunda. Dahulukan kaum Muslimin, sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 60.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah sendiri yang menetapkan delapan golongan penerima zakat, bukan Nabi ataupun selainnya. Maka jagalah zakatmu, dan tunaikan dengan ridha Allah.