Tanda seseorang jujur dalam inabah

Oleh KH Bachtiar Nasir
بسم الله الرحمن الرحيم
Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziah, tanda seseorang jujur dalam inabah adalah dia jujur dalam inabah kepada Allah, hatinya akan berhenti dan bersih dari berpikir tentang kenikmatan akan dosa. Dia bersih dari pikiran-pikiran kotor terkait maksiat. Dia tidak akan bisa menikmati pikiran kotor tentang dosa dan maksiat.
Dia akan mengulang-ulang tempat-tempat yang dia benci ketika berbuat dosa, demi mengingat kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.
Jika dia masih terus merasakan nikmatnya ketika ingat berbuat dosa, berarti dia belum murni dalam inabah.
Lanjut kata Ibnul Qayyim, “Jika ditanya, manakah dari dua keadaan berikut ini yang lebih tinggi derajatnya?”
Pertama, apakah orang yang merasakan kenikmatan perbuatan dosa lalu dia memerangi dan meninggalkannya karena takut dan cinta kepada Allah dan demi memuliakan Allah, itu lebih tinggi derajatnya?
Atau kedua, orang yang merasakan kenikmatan dosa tetapi telah mati di dalam hatinya, dan tempatnya di hatinya telah digantikan dengan rasa gembira, damai, dan dia merasakan manisnya bersama Allah.
Kenapa golongan kedua ini lebih tinggi derajatnya? Bukankah orang-orang yang berjuang melawan hawa nafsu pahalanya lebih besar?
Kata Ibnul Qayyim, keadaan yang kedua itu lebih tinggi dan lebih sempurna derajatnya, karena balasan seorang mujahid hawa nafsu adalah keridhoan Allah dan limpahan pahala-Nya.
Mereka adalah golongan manusia yang tidak punya lagi dorongan untuk melakukan maksiat, karenanya mereka lebih utama dari golongan pertama. Mereka telah pindah pada derajat orang-orang yang dalam ilmunya dan sempurna imannya.
Orang-orang yang golongan pertama itu akan terus bermujahadah dan berusaha menjadi seperti orang-orang golongan kedua.
Golongan orang-orang yang pertama tetap memiliki nilai perjuangan dan kedekatan kepada Allah.(*)
