Tadzkirah

Diutus Sebagai Rahmat, Dihadirkan Sebagai Cahaya

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْ‌سَلْنَاكَ إِلَّا رَ‌حْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya` [21]: 107).

Ayat suci ini adalah penegasan ilahi, bahwa risalah kenabian yang dipikul oleh junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah anugerah agung bagi seluruh jagat raya. Kehadirannya bukan hanya cahaya bagi manusia, tetapi juga rahmat yang meliputi segala ciptaan.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, disebutkan bahwa Allah menjadikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rahmat yang dicurahkan kepada alam semesta. Siapa yang menyambut rahmat ini dengan iman dan syukur, maka kebahagiaan dunia dan akhirat akan menaunginya. Namun, siapa yang berpaling dan mengingkarinya, kerugianlah yang akan menjadi temannya di dunia dan di akhirat.

Bahkan, keberadaan beliau pun rahmat bagi orang-orang kafir. Sebab, dengan diutusnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, azab yang memusnahkan —seperti yang pernah menimpa umat-umat terdahulu— tidak lagi diturunkan. Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan beroleh rahmat di dunia dan akhirat, sedangkan yang ingkar tetap terlindungi dari kebinasaan total.

Objek utama dari rahmat kenabian ini adalah manusia. Melalui risalahnya, manusia dipanggil untuk mengenal dan mengikrarkan kalimat tauhid: tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa. Seperti ditegaskan dalam kelanjutan ayat:

قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Katakanlah: Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku ialah bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. Maka berserah dirilah kepada-Nya.” (QS. al-Anbiya` [21]: 108).

Dengan demikian, hakikat rahmatan lil ‘alamin adalah membimbing manusia menuju tauhid, mengajak mereka mengucapkan dan menghayati kalimat agung: Laa ilaaha illallah.

Allah Ta’ala berfirman pula:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْ‌سَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرً‌ا وَنَذِيرً‌ا ﴿٤٥﴾ وَدَاعِيًا إِلَى اللَّـهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَ‌اجًا مُّنِيرً‌ا

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada Allah dengan izin-Nya, serta cahaya yang menerangi.” (QS. al-Ahzab [45-46]).

Di dalam ayat ini, tergambar dengan indah fungsi kenabian yang diamanahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pertama, beliau adalah saksi atas amal perbuatan manusia, yang baik maupun yang buruk.

Kedua, beliau adalah pembawa kabar gembira, agar umat senantiasa teguh dalam iman dan takwa.

Ketiga, beliau adalah pemberi peringatan, agar manusia menjauhi kezaliman, kebodohan, dan kegelapan jahiliyyah.

Keempat, beliau adalah penyeru, yang memanggil hati manusia untuk kembali kepada Allah SWT.

Kelima, beliau adalah pelita, cahaya yang menyingkap gulita, penerang jalan di tengah pekat hawa nafsu dan kebingungan hidup.

Maka, kehadiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pelita yang tak pernah padam, rahmat yang terus mengalir, dan cahaya yang menuntun jiwa-jiwa yang haus akan kebenaran. Beliau bukan hanya guru bagi umatnya, melainkan juga saksi, penyeru, dan cahaya yang menembus segala batas zaman.

Kita, sebagai umatnya, dipanggil untuk menyambut rahmat itu dengan keimanan yang tulus, dengan syukur yang mendalam, dan dengan amal yang nyata. Sebab, siapa yang berpegang teguh pada risalah beliau akan menemukan jalan keselamatan, sementara siapa yang berpaling akan tersesat dalam kegelapan dunia dan akhirat.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang Engkau utus sebagai rahmat bagi semesta alam. Jadikanlah hati kami senantiasa terang dengan cahaya risalahnya, teguh dengan kalimat tauhidnya, dan lembut dengan akhlaknya.

Semoga kita semua tergolong sebagai umat yang mendapat naungan rahmat beliau, hingga kelak dapat minum dari telaganya, dan dikumpulkan bersamanya di surga-Mu yang penuh kedamaian.*