Artikel

Satu Tubuh, Satu Luka

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

HARI ini, dunia kembali menyaksikan penderitaan yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina. Di sana, Al-Aqsha ternoda, anak-anak menangis, para ibu kehilangan buah hati, dan darah syuhada membasahi bumi yang diberkahi.

Gaza dilaparkan oleh blokade, dicekik oleh penindasan, dan dibiarkan berjuang sendirian. Luka mereka adalah luka kita. Tangisan mereka adalah tangisan kita. Sebab kita adalah satu tubuh, satu umat, satu barisan di hadapan Allah.

Sebagai umat yang satu, kita tidak boleh memandang tragedi ini sebagai masalah “mereka” saja. Dalam pandangan Islam, penderitaan yang menimpa satu muslim di satu tempat adalah penderitaan seluruh umat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan bahwa hubungan antar sesama umat Islam itu sangat kuat dengan menggambarkannya sebagai hubungan persaudaraan. Allah Ta’ala berfirman:

 

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّـهَ لَعَلَّكُمْ تُرْ‌حَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).

Bahkan, banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyebutkan “diri” seseorang atau “kaum” sebagai bentuk panggilan kepada saudara seiman, menandakan bahwa kesamaan keyakinan menjadikan saudara muslim yang lain itu sama dengan dirinya sendiri. Misalnya dalam ayat:

 وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ

“Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.” (QS. Al-Hujurat [49]: 11).

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa “mencela dirimu sendiri” di sini maksudnya adalah mencela saudaramu sesama muslim.

Rasulullah ﷺ pun menegaskan kuatnya hubungan itu dalam banyak hadits.

Dari An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan dan kasih sayang antar mereka adalah bagaikan satu jasad, apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan susah tidur dan terasa panas.” (HR. Muslim).

Abu Musa radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah bagaikan bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan lainnya,” lalu beliau menjalinkan jari-jemarinya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka sangat penting bagi kita untuk menunjukkan dukungan dan solidaritas terhadap perjuangan umat Islam di Palestina. Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak boleh mendzaliminya dan menyerahkannya kepada musuh. Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan darinya kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Membantu Palestina adalah wujud nyata dari jihad di jalan Allah—jihad dengan harta, tenaga, doa, dan semua kemampuan yang kita miliki. Nabi ﷺ memperingatkan:

“Barangsiapa mati dan tidak pernah berperang di jalan Allah dan tidak pernah bercita-cita untuknya, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim).

Dan juga, “Barangsiapa yang belum pernah berperang, atau menyediakan perbekalan untuk orang yang berangkat berperang, atau menanggung keluarga orang yang berperang dengan baik, maka ia akan ditimpa bencana dahsyat sebelum hari kiamat.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

 

Faedah Solidaritas 

Sangat penting bagi kita umat Islam untuk memperlihatkan dukungan dan solidaritas kita terhadap perjuangan, penderitaan dan kegembiraan umat muslim di Palestina termasuk  muslim lainnya di mana pun mereka berada, karena sangat banyak manfaatnya. Di antaranya adalah:

Pertama, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits-hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas bahwa itu merupakan salah satu tanda kesempurnaan iman seorang mukmin. Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ fatawa menjelaskan bahwa sudah seharusnya orang mukmin ikut gembira dengan kegembiraan saudaranya dan ikut sedih dan berduka cita atas penderitaan dan kesulitan yang menimpa saudaranya. Dan barangsiapa yang tidak demikian maka berarti ia bukan bagian dari orang-orang beriman.

Kedua, hal itu juga merupakan bentuk pertolongan terhadap umat Islam yang dizalimi dimana pun mereka berada dan membantu mereka dengan apa yang kita mampu. Baik dengan ikut berperang di samping mereka, membantu dengan harta dan dengan berdoa untuk mereka yang tentunya tidak ada yang tidak bisa melakukannya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Abdullah bin Umar ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak boleh mendzaliminya dan menyerahkannya kepada musuh. Dan barangsiapa yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan menghilangkan darinya kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hair kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, untuk mengingatkan musuh-musuh Islam bahwa umat Islam itu adalah satu bagaikan satu tubuh, di mana satu bagian disakiti maka seluruh tubuh akan merasakan sakit itu. Sehingga mereka berpikir untuk melakukan penindasan dan kezaliman terhadap umat Islam di mana pun karena pasti seluruh kaum muslimin akan melawannya.

Keempat, agar kita tidak termasuk orang yang enggan berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan apa yang mampu kita lakukan yang merupakan salah satu cabang kemunafikan dan akan ditimpakan bencana sebelum hari kiamat.

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa mati dan tidak pernah berperang di jalan Allah dan tidak pernah bercita-cita untuknya, maka ia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.” (HR. Muslim).

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ لَمْ يَغْزُ أَوْ يُجَهِّزْ غَازِيًا أَوْ يَخْلُفْ غَازِيًا فِي أَهْلِهِ بِخَيْرٍ أَصَابَهُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ بِقَارِعَةٍ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Abu Umamah meriwayatkan dari Nabi SAW. bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang belum pernah berperang, atau menyediakan perbekalan untuk orang yang berangkat berperang, atau menanggung (mengurus) keluarga orang yang berperang dengan baik, maka ia akan ditimpa dengan bencana dahsyat sebelum hari kiamat.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Semoga kita menjadi bagian dari umat yang membela saudaranya di Palestina dengan seluruh kemampuan yang kita miliki. Semoga Allah menolong mereka, menguatkan mereka, dan memberikan kemenangan bagi Islam dan kaum muslimin. Aamiin. Wallahu a‘lam bish-shawab.*