Artikel

Bersama Gaza, Bersama Kebenaran

 

Oleh:

KH. Bachtiar Nasir

HARI ini, saudara-saudara kita di Gaza tengah menghadapi krisis kemanusiaan. Anak-anak bukan mati karena peluru, tetapi mereka mati perlahan karena kelaparan berkepanjangan yang disebabkan upaya genosida yang dilancarkan oleh Israel. Upaya ini dilancarkan secara terang-terangan dan didukung -penuh oleh negara-negara sekutu Israel seperti Amerika, Perancis, Inggris, dan belasan lainnya; termasuk negara-negara Timur Tengah sendiri.

Lebih dari 2 juta jiwa dibayangi kematian karena kelaparan akut yang kini dengan sengaja disebabkan oleh blokade Israel. Tidak ada air bersih dan tidak ada apa pun yang dapat mereka gunakan untuk mengganjal perut. Dunia tahu dan menyaksikan hal ini, tetapi sebagian besarnya bungkam. Kita, sebagai negara dengan populasi umat Islam yang terbesar di dunia tidak bisa bungkam dan tidak boleh menutup mata atas kenyataan yang ada di depan mata ini. Apalagi tujuannya adalah genosida atas saudara-saudara kita kaum Muslimin di Tanah Para Nabi itu, supaya misi Yahudi meruntuhkan Masjidil Aqsha dan menggantikannya dengan kuil Sulaiman; bisa berjalan mulus.

Dimana Kita Berpihak?

Presiden pertama republik ini, Ir. Soekarno pernah mengatakan bahwa kolinialisme belum mati. Maka hari ini, kolonialisme itu menginjak-injak kemanusiaan dan keadilan di Gaza dan Indonesia harus berdiri di pihak yang benar. Kita, sebagai muslim dan anak negeri ini harus menyatakan dengan tegas; ada di pihak mana. Tak hanya menyatakan keberpihakan, kita pun harus bisa mengambil sikap sekaligus berkontribusi untuk membantu meringankan penderitaan yang tengah menghimpit saudara-saudara kita di Palestina.

Jangan lagi bertanya, mengapa kita harus membantu mereka, padahal kaum Muslimin di negeri sendiri juga banyak yang masih terhimpit kemiskinan. Karena di hati kita, kaum dhuafa di negeri ini tetaplah memiliki tempat yang selalu menjadi tujuan sedekah dan kepedulian kita yang tak henti. Bagi yang masih menanyakan ini; mungkin karena tidak tahu dan belum berbagi dalam langkah yang sama, sehingga masih bertanya, mengapa kita membantu saudara kita di Palestina.

Cukuplah menjadi manusia untuk turut merasakan sakitnya penderitaan saudara-saudara kita di Palestina. Dan, cukuplah menjadi manusia untuk memahami kata “berterima kasih” kepada saudara-saudara kita di Palestina yang pertama kali mengakui kemerdekaan Republik Indonesia, saat belum satu pun negara di bumi ini yang mengakui dan mendukung kemerdekaan negara kita – walau mereka tidak pernah sekalipun memintanya.

Dari Hati

Bila kita tak bisa memberikan jiwa dan harta untuk membersamai mereka, maka jangan berhenti untuk memberikan dukungan kepada mereka; terutama dengan doa. Doa adalah upaya terbaik dari seorang Muslim agar saudaranya mendapatkan yang terbaik. Doa juga merupakan bentuk kasih sayang dan kepedulian tertinggi karena ia lahir dari hati yang meminta kepada Rabb Yang Maha Tinggi, khusus untuk mereka yang senantiasa ada di hatinya.

“Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Apalagi, bila doa yang dipanjatkan tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan dia yang didoakan atau berada jauh dari jangkauan matanya, maka hati yang berusaha menjangkau itu akan senantiasa berada di bawah pengawasan dan doa dari malaikat yang membersamainya.

Doa seorang muslim untuk saudaranya (muslim lainnya) yang tidak berada di hadapannya akan dikabulkan oleh Allah. Di atas kepala orang muslim yang berdoa tersebut terdapat seorang malaikat yang ditugasi menjaganya. Setiap kali orang muslim itu mendoakan kebaikan bagi saudaranya, niscaya malaikat yang menjaganya berkata, “Amin (semoga Allah mengabulkan) dan bagimu hal yang serupa.” (HR. Muslim).

Jadi, jangan tunda hati kita untuk mendoakan yang terbaik untuk saudara-saudara kita sesama muslim, dimana pun mereka berada. Terutama mereka yang tengah berada dalam tekanan dan cengkeraman tangan-tangan orang kafir dan dzalim. Mohonlah kepada-Nya agar menurunkan pertolongan bagi mereka, terutama saudara-saudara kita di Gaza. Agar mereka bisa mendapatkan makanan dan air bersih guna melanjutkan perjuangan mereka menjaga Al-Aqsha.

Ini Pembuktian

Syahid memang sesuatu yang mereka dambakan. Namun, kita juga kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kondisi yang kini mereka alami. Terutama tentang respon yang kita ambil manakala tahu penderitaan mereka. Kita mungkin tidak bisa melakukan hal yang besar, kita mungkin tidak bisa menghentikan perang dengan kemampuan pribadi, kita memang tidak bisa membuka blokade –bahkan untuk membuat diri kita masuk ke Gaza; tetapi kita kita bisa menyatakan keberpihakan kita, kepedulian kita, bahkan merayu-Nya untuk mengangkat penderitaan saudara-saudara kita. Ini justru kebutuhan kita. Kebutuhan untuk membuktikan diri kepada-Nya bahwa kita tidak diam.

Bersuaralah dalam doa dan dukungan kita pada mereka dengan mendesak pemimpin negeri ini untuk :

1. Menolak dengan tegas blokade dan genosida.

2. Menyerukan agar dibukanya diplomasi daurat untuk menghentikan perang dan mengirimkan bantuan tanpa syarat.

3. Memutuskan semua hubungan industri dan ekonomi dengan entitas pelaku kejahatan.

4. Aktifkan peran Indonesia di PBB dan Mahkamah Internasional

5. Bentuk tim resmi tanggap kemanusiaan Indonesia untuk Palestina.

Pada akhirnya, perjuangan kita melawan kolonialisme memang belum selesai. Apalagi perjuangan untuk meninggikan yang haq di atas kebathilan, akan terus berlangsung hingga hari pembalasan. Dimana tampak nyata bahwa kebenaran dan kemuliaan memang hanya milik Allah Azza wa Jalla. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang diperkenankan bergabung bersama orang-orang yang berbangga di hari itu.*