Ma’iyatullah, Kebersamaan dengan Allah

Oleh KH Bachtiar Nasir
Bismillahirrahmanirrahim,
Dalil tentang bahasan ini, ada di Surah Al-Anfal ayat 12:
اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ ١٢
Artinya:
(Ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir; maka penggallah atas leher-leher mereka dan tebaslah tiap-tiap ujung jari mereka.”
(QS Al-Anfal:12)
Ada suatu peristiwa terkait ayat ini yang harus kita perhatikan yakni peristiwa Perang Badar, ketika malaikat mendapat perintah, “Wahai para malaikat, sesungguhnya Aku bersamamu, teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir.
Dalam Perang Badar ada kejadian-kejadian yang sungguh istimewa. Ada orang mukmin yang ketika akan menebas orang kafir, sebelum berbuat, jari-jari orang kafir itu telah putus lebih dahulu. Tiba-tiba kekuatan para sahabat Nabi dalam Perang Badar itu meningkat, dan tiba-tiba pula pada pasukan kafir timbul rasa takut yang sangat mendalam seperti perjalanan perang selama satu tahun. Pasukan kafir mengalami tekanan batin dan depresi.
Di ayat ini menarik untuk kita renungkan, kenapa Allah taala berkata kepada malaikat, “Sesungguhnya aku bersama kamu”. Bahkan Allah menguatkan mereka dan kekuatan yang Allah berikan kepada malaikat adalah Al-Ma’iyyah, kebersamaan bersama Allah
Inilah rahasia kemenangan dalam Perang Badar. Pasukan muslim menang di perang badar padahal lawan tidak seimbang. Rahasianya adalah Allah mewahyukan kepada malaikat bahwa Aku bersama kalian, teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.
Ternyata kalau Allah sudah menolong, betul-betul sampai pada masalah teknis, seperti yang dilakukan malaikat kepada pasukan Rasulullah dalam Perang Badar.
Semua itu bermula dari Al-Ma’iyyah, kondisi di mana kita sudah bersama Allah dan dibersamai oleh-Nya. Ada orang-orang yang mengaku bersama Allah tetapi sebenarnya tidak dibersamai Allah.
Ada orang-orang yang bersyukur karena lolos dari jeratan hukum. Apakah kelak di akhirat dia akan lolos? Kalau bermaksiat itu tetaplah salah. Ada orang-orang yang mengaku bersama Allah, padahal Allah tidak membersamai.
Kalau kita sudah dibersamai Allah, Dia akan menyuruh malaikat untuk membersamai kita.
Misalkan kita bisa naik pesawat dengan selamat, bukan karena pilotnya yang handal atau pesawatnya yang bagus, tapi karena dibersamai Allah tidak ada kerusakan pesawat, Allah mengatur tekanan udara, sehingga penerbangan mulus.
Hidayah:
📜 1. Tafsir Al-Alusi:
Kebersamaan Allah dengan orang beriman lebih kuat daripada seluruh pasukan di muka bumi. Saat Allah berkata: Aku bersama kalian, maka segala ketakutan pun sirna.”
(Al-Alusi: Ma’iyyah di sini adalah pertolongan, taufik, dan penguatan hati.)
📜 2. Abdurrahman Habannakah:
“Kemenangan orang beriman bukan hanya dengan pedang, tetapi dengan keteguhan hati yang Allah tanamkan melalui wahyu dan ma’iyyah-Nya.”
(Habannakah: Allah meneguhkan jiwa mukmin hingga tak goyah meski diserbu rasa gentar.)
📜 3. Tafsir Ibnu Katsir:
“Rasa takut musuh bukan hasil kekuatan kita, melainkan pancaran kekuatan Ilahi yang menjatuhkan ketakutan ke hati mereka.”
(Tafsir Ibnu Katsir: Allah sendiri yang menanam rasa gentar di hati
musuh.)
📜 4. Tadabbur ulama:
“Jika hati mulai ragu, ulangi dalam bisikan: Sesungguhnya Allah bersamaku. Karena inilah kalimat yang menumbuhkan keberanian tak terbatas.”
(Tadabbur ulama: keyakinan akan ma’iyyah-lah yang menjadikan sedikit menjadi banyak, lemah menjadi kuat.)
📜 5.Ruh al-Ma’ani:
“Keteguhan bukan soal seberapa kuat engkau berdiri sendiri, tapi seberapa dalam engkau meyakini pertolongan Allah yang tak pernah tidur.”
(Ruh al-Ma’ani: “ثَبِّتُوا” – Allah memerintahkan malaikat meneguhkan hati para pejuang iman.)
Quote:
Jika hati mulai ragu, bisikkan dalam hati, bahwa Allah bersama kita. (*)
