Mengejar Dunia yang Melelahkan

Oleh KH Bachtiar Nasir
Mengejar dunia itu mengejar sesuatu yang tidak ada habisnya, yang hasilnya hanya melelahkan.
Mungkin sebagian dari kita belum bisa menyelami kata-kata ini: Andai orang-orang di dalam kubur ditanya, Jika kamu diberi waktu sebentar saja dihidupkan kembali, apa yang akan kamu lakukan?”
Orang yang di dalam kubur itu akan menjawab, bahwa dia akan beramal saleh dan amal saleh yang utama adalah sedekah.
Tapi jika sudah di dalam kubur semua sudah terlambat, tidak ada gunanya lagi. Penyesalan selalu ada di akhir.
Inilah yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an:
Surah Asy-Syura ayat 20:
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰخِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖۚ وَمَنْ كَانَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَاۙ وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ ٢٠
Artinya: Siapa yang menghendaki balasan di akhirat, akan Kami tambahkan balasan itu baginya. Siapa yang menghendaki balasan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya (balasan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian sedikit pun di akhirat.
Jadi, barangsiapa yang mengejar akhirat maka Allah akan tambahkan dan barangsiapa yang mengejar dunia akan Allah berikan tetapi tidak mendapatkan sedikitpun bagian di akhirat.
Mencari dunia sekeras-kerasnya, bekerja dan berusaha, pada akhirnya para pencari dunia ini seperti yang digambarkan dalam Surah At-Takatsur:
Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, (niscaya kamu tidak akan melakukannya).
Sekarang kamu belum tahu, tapi suatu kali kelak, kamu akan tahu, yang kita kejar di dunia tidak akan kembali seratus persen. Tapi kalau mengejar akhirat, semuanya akan kembali kepada kita.
Kalau ada di antara kita ada yang sedang malas atau futur ibadahnya, sedang kehilangan shalat-shalat sunahnya, sudah lelah secara spiritual, cepatlah bangun. Jangan sampai kematian menjemput dalam keadaan seperti ini.
Mari berdoa dengan zikir:
أَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَاسْتَطَعْتُ وَأَعُوذُ بكَ مِنْ شَرِمَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَى وَأَبُوهُ لَكَ بِذَنْبي فَاغْفِرْ لِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنتَ.
Artinya: “Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau. Engkau yang menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu, dan aku di atas ikatan janji-Mu (yaitu selalu menjalankan amal ketaatan kepada-Mu) dengan semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku, dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku. Sesungguhnya, tiada yang bisa mengampuni segala dosa kecuali Engkau.”
Ya Rahman ya Rahim,
Seringkali aku bertanya kepada diriku, sudahkah aku mengirimkan kasih sayang-Mu kepada sesama?
Ya Rahman Ya Rahim,
Jika Allah Maha Penyayang, kenapa aku keras kepada sesamaku, padahal sesiapa yang menyayangi semua di bumi, maka yang di langit akan menyayangiku?
Ya Rahman ya rahim, aku lupa bertaubat padahal dosa datang terus, seolah-oleh aku tidak serius memohon ampunan dosa.
Tolonglah aku Ya Allah untuk selalu menyebut Nama-Mu dalam keadaan ramai atau sepi.
Tolong aku, agar aku senantiasa pandai bersyukur atas semua nikmat-Mu.
Terima kasih ya Allah, masih ada hayat di kandung badan.
Jadikanlah sisa-sisa umur kami dengan berkah dan hanya untuk beribadah kepada-Mu.
Jika hidup menuju mati, kenapa hidup hanya memikirkan untuk kebutuhan hidup saja dan melupakan bekal kematian? Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat kematian.
Orang yang lupa akhirat adalah orang bodoh yang mengutamakan hawa nafsunya daripada akalnya.
Astaghfirullah Robbal baroya, Astaghfirullah minal Khothoya…
اَسْـتــَـــغْـفِرُ الله ْ رَبَّ الــْـــــْبَرَايـَا اَسْتــَغْــفِرُ الله ْ مِنَ الــْخَـطَايـَـا
رَبِّ زِدْنـِيْ عِلــْـمًا نــَافــِعًا وَوَافِــقْ لـِيْ عَــمَلا ً مَقــْــبُـــوْلاً
Aku mohon ampun kepada Tuhannya manusia. Aku mohon ampun kepada Allah dari segala kesalahan.
Jika Allah Maha Melihat, mengapa masih saja kita melakukan kemaksiatan?
Al Mulk ayat 14:
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ
Artinya: Apakah (pantas) Zat yang menciptakan itu tidak mengetahui, sedangkan Dia (juga) Mahahalus lagi Maha Mengetahui?
Apakah yang menciptakanmu itu bukan zat yang maha melihat?
Al-anam ayat 103:
لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ ١٠٣
Artinya: Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat menjangkau segala penglihatan itu. Dialah Yang Mahahalus lagi Mahateliti.
Kalau Dia Maha Mengetahui, mengapa kita masih saja melakukan hal-hal maksiat? Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Al-Hadid · Ayat 4
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاۤءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَاۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌۗ ٤
Artinya: Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian, Dia berkuasa atas ʻArasy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya serta apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dia bersamamu di mana saja kamu berada. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
