Hukum Puasa 8 Hari di Awal Zulhijjah dan Puasa Arafah

Pertanyaan:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustaz, apa hukumnya berpuasa 10 hari pertama Zulhijjah selama 8 hari? Dan bagaimana dengan puasa Arafah bagi jemaah haji?
Hamba Allah
Penjelasan:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Puasa di delapan hari pertama bulan Zulhijjah dianjurkan bagi semua umat Islam, termasuk jemaah haji. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذٰلِكَ بِشَيْءٍ.
“Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah untuk beramal saleh daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jihad di jalan Allah juga tidak lebih utama?” Beliau menjawab, “Tidak, kecuali seorang yang pergi berjihad dengan dirinya dan hartanya, lalu tidak kembali dengan apa pun.” (HR. Bukhari dan Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma).
Pendapat Para Ulama :
Dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (28/91) disebutkan:
اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَىٰ اسْتِحْبَابِ صَوْمِ الْأَيَّامِ الثَّمَانِيَةِ الَّتِي مِنْ أَوَّلِ ذِي الْحِجَّةِ قَبْلَ يَوْمِ عَرَفَةَ…. وَصَرَّحَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ بِأَنَّهُ يُسَنُّ صَوْمُ هٰذِهِ الْأَيَّامِ لِلْحَاجِّ أَيْضًا.
“Para ulama sepakat bahwa puasa di delapan hari pertama bulan Dzulhijjah sebelum hari Arafah dianjurkan. Mazhab Maliki dan Syafi’i menegaskan bahwa puasa ini juga disunnahkan bagi jamaah haji.”
Selain itu, dalam kitab Nihayah Al-Muhtaj (3/207) disebutkan:
وَيُسَنُّ صَوْمُ الثَّمَانِيَةِ أَيَّامٍ قَبْلَ يَوْمِ عَرَفَةَ، كَمَا صَرَّحَ بِهِ فِي “الرَّوْضَةِ” سَوَاءٌ فِي ذٰلِكَ الْحَاجُّ وَغَيْرُهُ، أَمَّا الْحَاجُّ فَلَا يُسَنُّ لَهُ صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ بَلْ يُسْتَحَبُّ لَهُ فِطْرُهُ وَلَوْ كَانَ قَوِيًّا، اقْتِدَاءً بِالرَّسُولِ صَلَّىٰ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلِيَقْوَىٰ عَلَىٰ الدُّعَاءِ.
“Puasa delapan hari sebelum hari Arafah disunnahkan, baik bagi jamaah haji maupun lainnya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Raudhah. Adapun bagi jamaah haji, tidak disunnahkan berpuasa pada hari Arafah, tetapi dianjurkan untuk berbuka meskipun ia kuat, meneladani Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, agar memiliki kekuatan dalam berdoa.”
Sedangkan puasa Arafah (9 Zulhijjah) adalah puasa yang sangat dianjurkan, Nabi shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
“Puasa pada hari Arafah, aku memohon pula kepada Allah, agar puasa itu bisa menghapus dosa setahun setahun penuh sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR Muslim)
Namun bagi jemaah haji yang ada di Arafah, Imam Nawawi menukil pendapat Imam Syafi’I dalam al-Mukhtashar dan juga pendapat dari para ulama mazhab Syafi’i yang menyatakan bahwa hukumnya mustahab (dianjurkan) bagi orang yang sedang berhaji untuk tidak berpuasa pada hari tersebut. Pendapat ini berdasarkan hadits dari Ummu Fadhl Raḍiyallāhu `anha,
أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صِيَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلْتُ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ بِعَرَفَةَ فَشَرِبَهُ
“Orang-orang bertengkar di dekatnya tentang puasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari ‘Arafah. Sebagian mereka mengatakan beliau puasa, dan sebagian lagi mengatakan tidak. Lalu kukirimkan kepada beliau secangkir susu. Saat itu beliau sedang berada di atas untanya di Arafah dan beliau pun meminumnya.” (HR Muslim).
Imam Syafi’i dalam Qaul Qadim mengatakan, “Jika seseorang mengetahui bahwa puasa Arafah tidak membuatnya lemah, lalu ia berpuasa maka itu baik baginya.” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, 6/380)
Adapun puasa pada tanggal 10 Dzulhijjah, para ulama sepakat, bahwa puasa pada hari hukumnya Haram, baik bagi yang sedang haji maupun orang yang tidak haji. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Raḍiyallāhu `anhu,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ
Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang berpuasa pada dua hari, yaitu pada hari Iedul Adlha dan Iedul Fithr. (HR Muslim). Demikian juga diriwayatkan dari Ibnu Umar Raḍiyallāhu `anhuma:
إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ صِيَامِ هَذَيْنِ الْيَوْمَيْنِ أَمَّا يَوْمُ الْأَضْحَى فَتَأْكُلُونَ مِنْ لَحْمِ نُسُكِكُمْ وَأَمَّا يَوْمُ الْفِطْرِ فَفِطْرُكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ.
“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari berpuasa pada dua hari ini, adapun hari Adlha, maka kalian makan sebagian dari daging sembelihan kalian, adapun hari Fithri maka merupakan berbuka kalian dari puasa.” (HR Abu Dawud). Imam an-Nawawi berkata,
“Semua ulama sepakat bahwa puasa pada hari raya Idul Fithri dan Idul Adha hukumnya haram. Dan barang siapa yang tetap berpuasa, puasanya tidak sah.” (Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab, 6/440)
Sedangkan pada hari Tasyriq (tanggal 11-13 Dzulhijjah), hukumnya juga haram kecuali bagi orang yang haji tamattu’ yang tidak bisa mendapatkan alhadyu (hewan kurban).
Berdasarkan riwayat dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar Raḍiyallāhu `anhum, keduanya berkata,
لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدْ الْهَدْيَ
“Tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari tasyriq kecuali bagi siapa yang tidak mendapatkan hewan kurban (Al Hadyu) ketika menunaikan haji.” (HR Bukhari).*
KH Bachtiar Nasir
