Setahun Genosida Gaza: Hidup Ini Aqidah dan Jihad

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (QS. Al-Isra ayat 4)
Bulan ini genap setahun genosida yang terjadi di Gaza. Serangan Israel semakin brutal dan menjadi-jadi. Orang-orang lemah yang tak bisa berbuat apa-apa, menjadi sasaran empuk serangan bom. Membuat anak-anak tak lagi punya rumah dan kesempatan untuk sekadar bermain. Kelaparan merajalela dimana-mana. Kekejaman terhadap rakyat sipil sudah di luar batas rasa kemanusiaan.
Berbagai macam kejahatan mereka pertontonkan kepada manusia di seluruh dunia. Kejahatan-kejahatan yang bahkan mungkin tidak pernah terlintas di benak manusia normal. Mereka membuat tiga jenis penjara:
Pertama, penjara di Tepi Barat. Ini adalah penjara yan terbesar di muka bumi. Mereka membangun tembok yang sangat tinggi mengitari Tepi Barat.
Kedua, penjara di Al-Quds. Mereka membuat blockade ekonomi yang sangat menyengsarakan masyarakat Palestina. Tidak ada kebebasan untuk bisa hidup sejahtera.
Ketiga, penjara Gaza. Ini adalah penjara yang paling lengkap “penyiksaannya”. Dihujani bom dan semua senjata berat yang dilarang oleh konvensi dunia, diblokade ekonominya, dan dihentikan bantuan bahan makanannya.
Namun, yang sekarang terjadi, Amerika dan negara-negara Eropa terang-terangan datang ke Gaza untuk ikut “menikmati” genosida. Mereka mengebom rumah sakit, sekolah-sekolah yang menjadi tempat berlindung pengungsi, dan menghancurkan pemukiman penduduk dengan dalih yang tentu saja tak pernah terbukti: bahwa di tempat-tempat inilah pasukan HAMAS bermarkas. Tentu saja, pemikiran pengecut ini menggambarkan siapa sebenarnya mereka. Yaitu, sekumpulan orang-orang pengecut yang berlindung di belakang tank-tank dan serangan udara.
Tuli dan Bisunya Dunia
Inilah bencana kemanusiaan terbesar di muka bumi ini. Namun, dunia bagai tuli mendengar jerit dan tangis kematian orang-orang Palestina. Negara-negara Arab yang merupakan tetangga terdekat memilih bungkam. Daripada kehilangan jaminan keamanan dan kemudahan bisnis. Jemaah-jemaah Jumat pun semakin sedikit yang menyuarakan seruan untuk membantu dan mendoakan saudara kita di Palestina, khususnya di Gaza, hari ini.
Padahal dulu, ketika ada pembantaian di Surabaya, hampir seluruh dunia Arab, shalat ghaib untuk kaum muslimin di Indonesia. Dulu, ketika dunia takut mengakui kemerdekaan Indonesia, ulama Palestina yang bernama Muhamammad Amin al-Husaini-lah orang yang pertama kali melobi Liga Bangsa Arab untuk mengakui kemerdekaan negara ini. Padahal ia adalah orang yang hidup dalam kesulitan karena diasingkan. Hingga, Mesir menjadi negara yang pertama kali menyatakan pengakuaannya atas kemerdekaan bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, jika kita masih takut menyuarakan rasa kemanusiaan, kita masih malas belajar dan berjuang, apalagi masih memilih untuk terus dalam zona nyaman; maka bukan mustahil, apa yang menimpa saudara-saudara kita, kelak akan menimpa kita.
“Innal hayata aqidatun wajihadun“
Sesungguhnya hidup adalah jihad dan aqidah. Syair dari Asy-Syauqi ini tak lain adalah penegasan bahwa hidup ini adalah hanya untuk berjuang mempertahankan aqidah hingga titik darah penghabisan.
Prinsip Sejati
Apa yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dari saudara-saudara kita di Palestina? Mengapa hingga saat ini mereka tetap kuat dan memilih untuk tetap menjaga Al-Aqsha?
Itu bersebab dari prinsip hidup mereka yang benar-benar menjadikan Laa Ilaaha IlaLlah, Muhammadurrasulullah sebagai satu-satunya aqidah dan sandaran dalam hidup. Hidup ini hanya untuk mempertahankan satu-satunya iman dalam hidup. Apa pun aktivitas hidup yang dijalani, semuanya hanya untuk menuju pada ridha-Nya. Pada penghambaan yang murni kepada Allah Azza Wajalla.
“Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Hasyr ayat 23-24).
Kita di Indonesia diamanahi negeri dengan penduduk mayoritas muslim. Negeri yang dikaruniai kekayaan alam yang berlimpah dan sumberdaya manusia yang luar biasa.
Perjuangan kita di negeri ini adalah untuk menjadikan bangsa ini, bangsa yang merdeka seutuhnya dan yang ber-Pancasila seutuhnya. Dimulai dengan ber-Ketuhanan Yang Maha Esa sebenar-benarnya.
Perjuangan ini panjang dan luar biasa.
Hanya orang-orang yang bersandar pada Allah, sabar, dan ikhlas lah yang mampu bertahan dan kelak mendapatkan rahmat-Nya. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 218, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”*
