Tadabbur

Memupuk Rindu Berjumpa Allah Ta’ala

Oleh:

KH. Bachtiar Nasir

“Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Amr Al Asy’atsi telah mengabarkan kepada kami ‘Abtsar dari Mutharrif dari ‘Amir dari Syuraih bin Hani’ dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang berjumpa dengannya; dan barangsiapa yang benci berjumpa dengan Allah, maka Allah pun benci berjumpa dengannya.” Syuraih berkata; Aku kemudian menemui Aisyah, lalu aku bertanya; “Wahai Ummul Mukminin! Aku mendengar Abu Hurairah menyebutkan suatu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika demikian sungguh kita akan binasa!” Aisyah berkata; sesungguhnya orang yang binasa itu adalah orang yang dikatakan binasa oleh Rasulullah. Lalu Aisyah bertanya, “Apa yang dikatakanya itu?” Syuraikh menjawab; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Siapa senang berjumpa dengan Allah, Allah pun senang berjumpa dengannya dan barangsiapa benci berjumpa dengan Allah, Allah pun benci berjumpa dengannya. Namun, tidak ada seorang pun di antara kita kecuali benci dengan kematian!” Ia (Aisyah) berkata; “Sungguh hal itu telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak seperti yang kamu pahami, tetapi -yang dimaksud adalah- tatkala pandangan terangkat, dada berdetak dan dada menggigil, saat itulah orang yang senang berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang berjumpa dengannya; dan barangsiapa benci berjumpa dengan Allah, maka Allah pun benci berjumpa dengannya!” Dan, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali telah mengabarkan kepadaku Jarir dari Mutharrif dengan sanad ini seperti hadits ‘Abtsar. (HR. Muslim).

Orang yang gembira hatinya untuk bertemu dengan Allah Azza wa Jalla, maka Allah Azza wa Jalla juga sangat menantikan waktu untuk berjumpa dengan hamba tersebut.

Orang yang hatinya penuh kerinduan untuk bertemu dengan Allah ini biasanya juga menyiapkan berbagai bekal yang benar-benar akan membuatnya siap dan pantas bertemu dengan Allah Ta’ala. Kegembiraan dan kerinduan untuk dapat bertemu dengan Allah inilah yang harus dipelihara agar kita senantiasa bersemangat mengumpulkan dan mempersiapkan bekal terbaik untuk menghadap Allah Azza wa Jalla.

Ingat Allah
Seseorang yang sedang terbaring sakit, sejatinya tengah diberikan kesempatan istimewa untuk mempersiapkan perjumpaannya dengan Allah Ta’ala. Sebab, dikala sakitlah biasanya seseorang akan teringat pada Allah Azza wa Jalla dan meminta pertolongan kepada-Nya. Meski sakit dan usia senja tidak pasti menjadi penyebab kematian seseorang, tetapi inilah waktu yang biasanya paling menyadarkan seseorang bahwa diri dan nyawanya sesungguhnya berada dalam genggaman kehendak Allah Ta’ala. Lain lagi ketika seseorang dalam keadaan sehat dan gembira dengan nikmat yang Allah berikan, akan sangat sibuk dirinya mengerjakan aktivitas duniawinya dan semakin sedikit ia mengingat apa tujuan hidupnya diciptakan di dunia ini.

Sakit juga saat dimana seseorang diselamatkan pendengarannya dari mendengar yang tidak baik. Dijaga pandangan matanya dari melihat segala sesuatu yang diharamkan, serta diselamatkan tangan dan kakinya dan sekujur tubuhnya dari segala sesuatu yang dilarang.

Akan tetapi, ada waktu dimana kita seharusnya juga menyadari bahwa badan ini memang ada masanya harus kita lepaskan. Pasrahkanlah sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla. Namun, selagi masih diberikan kesempatan mari kita maksimalkan agar tubuh kita dapat mendirikan dan memperbanyak ibadah dengan sempurna.

Dia yang Selalu Berbahagia
Ada orang yang ketika vonis atas dirinya sudah jatuh dan penyakit yang dideritanya sudah tidak memiliki harapan hidup, justru terlihat semakin bahagia. Merekalah orang-orang yang sudah tidak sabar ingin segera berjumpa dengan Allah Rabbul ‘Alamiin.

Mereka adalah orang-orang yang merindukan Allah Ta’ala, sehingga Allah pun menyambut kepulangan mereka kembali dengan kerinduan yang besar.
Berbeda dengan orang-orang yang membenci pertemuan dengan Allah Ta’ala di waktu sehatnya, maka Allah pun akan membenci pertemuan dengan mereka.

Dan, satu yang begitu mereka benci manakala diingatkan akan pertemuan dengan Allah Azza wa Jalla adalah siksa yang kelak akan menimpa mereka. Oleh karena itu, perjumpaan dengan Allah adalah sesuatu yang sangat dibenci sekaliguis ditkuti oleh mereka.

Lalu, bagaimana dengan kita yang sesungguhnya juga banyak masih “takut” dengan kematian? Apakah kita tidak termasuk mereka yang rindu berjumpa dengan Allah Azza wa Jalla? Sesungguhnya tidak seperti itu yang dimaksudkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.

Banyak di antara kita yang belum siap bahkan merasa takut berjumpa dengan Allah karena merasa tidak siap bekal dan belum siap mempertanggungjawabkan apa yang akan Allah Ta’ala hisab. Namun, kita harus lebih mengimani kasih sayang Allah Azza wa Jalla yang bahkan melebihi apa yang mampu kita pikirkan. Dalam hadits tersebut, Aisyah ra mengatakan, “Tatkala pandangan terangkat, dada berdetak dan dada menggigil, saat itulah orang yang senang berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang berjumpa dengannya; dan barangsiapa benci berjumpa dengan Allah, maka Allah pun benci berjumpa dengannya.”

Artinya, mereka yang menginginkan perjumpaan dengan Rabbnya dan berusaha mempersiapkan pertemuan tersebut – meski dia merasa belum siap, bahkan takut – akan disambut dengan kerinduan yang besar dari Allah Azza wa Jalla. Bila sebelumnya ia merasa belum siap, maka senyum dari Allah-lah yang akan membuatnya siap. Bila sebelumnya ia takut, maka Allah-lah yang akan menggembirakannya dengan ridha-Nya yang menyempurnakan semua ikhtiar yang telah diupayakannya. Jadi, bukan kita yang sudah siap, tetapi kelak Allah lah yang akan membuat kita siap. Bukan kita yang menilai bahwa amal yang kita bawa sudah pantas, tetapi Allah-lah yang akan menyempurnakan nilainya karena ketulusan dan kesungguhan yang kita ikhtiarkan.

Begitu pula sebaliknya, orang yang membenci perjumpaan dengan Allah Ta’ala, maka Allah tidak akan pernah menganggap dia dan apa yang dibanggakannya ada. Meski, menurut kebanyakan manusia, itu merupakan amalan terbaik, tetapi jika bukan keikhlasan dan kesungguhan karena Allah yang menjadi dasarnya; Allah tidak akan menyambutnya.

Oleh karena itu, berderaplah sedari sekarang. Tugas kita adalah berusaha. Persiapkanlah amalan terbaik yang mampu kita upayakan dengan segenap cinta dan harap akan ridha-Nya. Kita tidak tahu, mana amalan kita yang disukai-Nya, tetapi tetaplah berusaha untuk dirihai-Nya. Berusahalah dan tingkatkanlah kualitas amal kita. Semoga kelak Allah akan menyambut kita dengan senyum-Nya.*