Tadabbur

Allah Sebaik-baik Pewaris

Oleh:
KH Bachtiar Nasir 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya, ‘Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang paling baik’.” (QS. Al Anbiya ayat 89).

Memahami doa sangatlah penting karena dengan menghayati doa yang kita baca, kita tidak seperti orang yang mengingau dalam berdoa. Bagaimana mungkin kita bersungguh-sungguh dalam berdoa, kalau kita tidak paham apa yang kita minta. Sebaliknya, jika memahami apa yang kita minta, kemungkinan besar doa kita akan terkabul.

Namun, yang terpenting di dalam doa kita, terkandung puja dan puji kepada Allah. Itulah point yang sebenarnya paling penting dalam berdoa. Orang yang meminta kepada Allah Ta’ala, pastilah akan diberi oleh-Nya. Akan tetapi, orang yang senantiasa memuji Allah Azza wa Jalla akan mendapatkan lebih dari apa yang biasanya diminta oleh mereka yang meminta.

Pada ayat 89 surat Al Anbiya kita diminta untuk mengingat dan menghadirkan di dalam hati; bagaimana dimensi yang tercipta manakala Nabi Zakaria Alaihissalam menyeru sepenuh ketundukkan diri kepada Tuhannya. Kita diminta untuk melihat satu peritiwa penting yang menghadirkan hubungan yang sangat personal antara seorang Nabi Allah Ta’ala kepada Rabbnya. Ketika ia meminta kepada Tuhannya, bahwa beliau tidak ingin hidup seorang diri. Di saat yang sama, beliau juga menyatakan bahwa Allah Azza wa Jalla adalah sebaik-baik pewaris yang Maha Hidup yang kekal abadi, bahkan setelah semuanya mati.

Kekuatan Doa
Ini adalah doa penuh berkah yang diminta Nabi Zakaria Alaihissalam kepada Tuhannya. Istri Nabi Zakaria divonis sebagai perempuan yang mandul. Namun, ia tidak pernah berputus asa untuk memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar dikaruniai keturunan. Puncaknya adalah manakala ia melihat Maryam yang dititipkan kepadanya oleh keluarga Imran. Dan, dikaruniai berbagai keberkahan termasuk lahirnya Nabi Isa Alaihissalam.

Ini termasuk pesan yang istimewa untuk kita. Bahwa untuk menjadi orang tua, tidak semata-mata karena hubungan darah. Namun, juga berarti menjadi orangtua, manakala kita memiliki seorang anak ideologis. Di mata Allah Ta’ala, mengasuh anak baik secara biologis maupun ideologis sama-sama utama dan mulia.

Di ayat ini, Nabi Zakaria tak pernah putus meminta kepada Rabb-nya agar diberi keturunan agar tidak hidup sendirian. Nabi Zakaria memuji kepada Allah dengan pujian yang selaras dengan apa yang dimintanya kepada Allah Ta’ala. Doa ini dibaca Nabi Zakaria dengan suara yang lirih dan dibarengi dengan kekekuatan hati dalam bermunajat kepada Tuhannya. Kekuatan keyakinan bahwa Allah Ta’ala pasti akan mengabulkan doanya.

Sebaik-baik Pewaris
Dia meminta kepada Allah kemudian memuji Rabb-nya setelah dia meminta. Anta khairul waritsiin mengisyaratkan bahwa hanya Allah-lah yang Maha Kekal, yang akan tetap ada meski semuanya telah lenyap. Dia-lah Al-Baqa yang selamanya tetap ada dan abadi.

Nabi Zakaria Alaihissalam memohon kepada Allah Ta’ala agar ada yang kelak akan melanjutkan misi kenabian yang telah dikaruniakan kepadanya. Memohon agar kebaikan-kebaikan yang telah dianugerahkan kepadanya tetap berlanjut untuk kemaslahatan umat manusia. Kemudian, beliau ber-tawasul dengan tepat dengan memuji Allah sebagai khairul waritsiin (sebaik-baik pewaris). Inilah yang diajarkan Allah Azza wa Jalla kepada Nabi Zakaria sebagai contoh bagi setiap hamba-Nya. Agar meminta kepada Allah dengan pujian yang tepat.

Inilah pentingnya tadabur doa agar tidak hanya memahami apa yang kita inginkan tetapi juga memahami tawasul apa yang tepat. Ber-tawasul dengan memuji Allah Azza wa Jalla dengan cara bagaimana yang tepat. Bahwa semua ayat tentu hebat, tetapi Alah yang pilihkan; bahwa untuk meminta keturunan dan tidak hidup dalam kesendirian maka pujilah Allah sebagai khairul waritsiin. Dialah sebaik-baik yang Mahahidup. Dialah yang kekal bahkan ketika semua yang ada di langit dan bumi telah mati.

Doa Nabi Zakaria ini kemudian Allah Ta’ala kabulkan. Di ayat 90 surat Al-Anbiya, Allah Ta’ala berfirman:

فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَٰشِعِينَ

“Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”

Inilah karunia yang Allah Azza wa Jalla berikan kepada orang-orang yang meminta kepada-Nya dengan selalu memuji-Nya. Yang memohon kepada-Nya dengan sepenuh harap dan cemas serta selalu bersegera menyambut perintah-Nya berbuat kebaikan. Apa yang mereka lakukan adalah salah satu penyebab diijabahnya doa.

Namun, yang terpenting adalah dalam bentuk apa pun teman yang Allah berikan, baik itu keturunan maupun pasangan hidup; itulah kebesaran dan kasih sayang-Nya. Bahwa semua itu berasal dari-Nya dan sejatinya, Dia-lah yang selalu ada dan membersamai kita. Dia yang kekal menemani kita. Bila diberikan-Nya keturunan kepada kita, maka itulah kasih sayang-Nya. Namun, bila keturunan itu tak kunjung hadir, maka sesungguhnya Dialah Sang Maha Hidup, khairul waritsiin yang selalu ada untuk kita.*