Menjemput Pertolongan Allah

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al Imran ayat 103).
Genosida yang dilakukan oleh Israel di Gaza terus berlanjut. Dulu, tahun 1967, ada perang enam hari negara Arab dengan Israel. Tiga negara Arab bersatu, yaitu Mesir, Suriah, dan Lebanon. Namun, apa yang terjadi, hanya enam hari berperang, mereka bertekuk lutut pada Israel. Padahal Israel saat itu, senjatanya ketika itu masih belum secanggih sekarang. Sayangnya aliansi tiga negara Arab itu pecah karena penghianatan dari dalam. Karena itulah, mereka dengan cepat dikalahkan Israel.
Hari ini hari ke-126, Gaza sendirian. Israel saat ini memiliki senjata-senjata yang dikatakan termasuk empat besar terkuat di dunia. Di belakangnya ada Amerika, Perancis, Italia, Belanda, Inggris, dan kawan-kawan. Namun, Gaza dengan para pejuang Allah di garis depan masih tegak berdiri. Mengibarkan bendera tauhid, meskipun kini rakyat Gaza dan para pejuang benar-benar menghadapi krisis kemanusiaan yang sulit diterima nurani. UNRWA yang berada di bawah PBB, kini diputus bantuannya. Konferensi mahkamah internsional yang dilangsungkan di Belanda justru mengizinkan genosida terus berlangsung. Dan, kelaparan, krisis air bersih, dan musim dingin menghantui.
Gaza sekarang seperti sendirian. Kepada siapa Gaza harus bermohon? Lailahaillallah wahdahula syarikalah lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wahuwa ala kulli syai-in qadir (Tiada Tuhan selain Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Kondisi seperti ini membuat faksi-faksi militer yang ada di Gaza saat ini bersatu. Walau faksi politik belum bisa bersatu. Kondisi ini sejatinya hampir sama dengan apa yang dialami oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta kaum Muslimin manakala menghadapi pemboikotan kaum kafir Quraisy. Saat itu, paman dan istri beliau wafat setelah melewati masa pemboikotan yang berat. Paman Nabi, Abi Thalib adalah penyokong dan pelindung dakwah Rasulullah saw – walau beliau masih menyembah berhala.
Begitu pula dengan Khadijah, sang istri. Beliaulah yang pertama kali beriman kepada tauhid dan beliau pula yang menguatkan dan mendukung dakwah Nabi; dari segala segi. Materiil maupun moril. Wafatnya Khadijah ra merupakan pukulan yang berat bagi Rasulullah saw. Di saat itulah dunia bagaikan meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.
Inilah saat dimana Allah Azza wa Jalla bagaikan melepaskan segala sandaran dan ketergantungan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada selain Allah Ta’ala. Kaumnya yang selama ini melindungi atas nama keluarga diboikot, paman yang selama ini melindunginya secara politis dan sang istri tercinta yang selalu memberikan dukungan psikologis dan materi; wafat meninggalkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berusaha mencari dukungan militer ke Thaif, pemuda-pemuda disana malah melemparinya dengan batu. Sementara kondisi kaum muslimin tak berdaya dan seringkali dianiaya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendirian. Kepada siapa Rasulullah harus memohon pertolongan? Tak ada yang lain kecuali Allah saja.
Allah Azza wa Jalla pun memberikan pertolongan sekaligus pelipur lara bagi Rasulullah saw dengan peristiwa Isra dan Mi’raj. Dilepaskan-Nya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari segala ketergantungannya di bumi dan diringankan dirinya untuk naik ke langit.
Satu dalam Iman
Kondisi “sendirian” ini pun pernah dialami oleh para pejuang kemerdekaan di Indonesia. Saat penjajahan selama ratusan tahun tak henti-henti, rakyat dan para pejuang dihimpit rasa hampa. Tidak ada bantuan, rakyat kelaparan dan dijadikan budak, dan para pejuang tidak memiliki senjata yang memadai untuk melawan. Di saat itulah, datang pertolongan Allah Ta’ala melalui sekelompok pejuang yang membangkitkan semangat dengan menggunakan bambu runcing. Senjata tradisional yang berhadapan dengan bedil dan granat penjajah. Namun, para pejuang tidak gentar. Dengan semangat fii sabilillah, mereka menerjang penjajah. Hanya satu kalimat yang mereka teriakkan saat itu, “Merdeka atau mati!” Kalimat inilah yang menjadi modal kemerdekaan kita. Kalimat ini pula yang berhasil mengusir penjajah yang hendak kembali dan menjadi spirit hingga hari ini.
Ketergantungan para pejuang kepada Allah Azza wa Jalla ketika itu sangatlah kuat. Itulah yang membuat Indonesia hingga hari ini masih ada. Apa yang membuat mereka bersatu? Iman. Mereka bersatu karena iman.
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat ayat 10).
Dengan yang berbeda agama, mereka menggunakan konsep Bhineka Tunggal Ika. Berbeda tapi tetap dalam satu payungan iman kepada Allah Ta’ala. Warna-warni bangsa ini memang luar biasa, oleh karena itu para pendiri bangsa ini menyikapinya dengan kearifan yang luar biasa dengan Bhineka Tunggal Ika dan Sumpah Pemuda.
Kalimat langit berupa tauhid kepada Allah Azza wa Jalla inilah yang hingga hari ini melindungi Gaza dan orang-orang di dalamnya dalam keteguhan yang luar biasa. Sehingga mereka bisa tegak menantang Israel dan negara-negara Arab tetangganya yang justru mengirimkan kain kafan untuk mereka. Merekalah yang dipakai oleh Allah Ta’ala untuk berdiri membela kemuliaan Islam. Merekalah yang menegakkan leher untuk menantang dan mengancam siapa pun yang hendak merendahkan agama Allah.
Orang-orang di Gaza berkata, “Inilah ongkos tanah kami, inilah harga negeri kami, inilah harga pembuktian cara beragama kami.” Inilah yang membuat Palestina sampai hari ini masih tegak berdiri. Rakyatnya harus mengungsi di perbatasan dengan keadaan yang menyedihkan. Dalam keadaan yang lapar, haus, dingin, dan takut. Sementara Gaza tak henti dibombardir dan semua yang bernyawa menjadi target penembakan. Lantas, dengan keadaan demikian, apakah ada rakyat Palestina, warga Gaza yang memprotes pemimpinnya atau menghujat para pejuangnya untuk menghentikan perang? Tidak ada. Mereka dengan ikhlas mengatakan, “Inilah harga tanah kami. Inilah harga agama kami.”
Inilah kalimat langit yang tertanam di kalbu rakyat Gaza. Keterikatan mereka dengan Allah Azza wa Jalla yang membuat mereka tak merasa bersedih atas apa yang menimpa mereka. Karena, semuanya memang hanya untuk Allah, terjadi karena Allah, dan kelak berpulang kepada-Nya.*
