Tadabbur

Syukur yang Berkualitas

Ilustrasi

Oleh:
KH. Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim ayat 7)

Tidak bisa dipungkiri bahwa kata kunci untuk terjadinya pertambahan dan pertumbuhan baik dari skala materi maupun immateri adalah syukur kepada Allah Azza wa Jalla. Syukur adalah cikal bakal dari bertumbuh dan bertambahnya segala sesuatu yang secara kasat mata hanya berawal dari sesuatu yang mungkin tidak perlu dihitung.

Ayat ini menjadi pembuka bagi siapa pun yang ingin memiliki cara istimewa yang hanya dimiliki “orang-orang elit” didikan Allah Ta’ala; yang otomatis “berbeda kelas” dengan kebanyakan orang. Inilah cara bersyukur yang bergengsi.. Kelompok ini sudah ditetapkan oleh Allah hanya sedikit.

Kelompok syukur basic level biasanya bersyukur kepada Allah karena hal-hal material yang secara kasat mata menguntungkan. Ini semua nikmat standar bagi setiap orang. Sebagaimana binatang yang juga pintar bersyukur pada pemiliknya yang memberi makan. Seperti kuda yang diberi rumput teratur, maka ia akan sangat sigap untuk melakukan tugasnya.

Namun, kelompok advance level – lah yang bisa mensyukuri hal-hal sensitif yang kadang terlewat oleh manusia-manusia yang bersyukur dengan standar yang biasa saja. Seperti nikmat pendengaran. Ingatlah bahwa nikmat ini disebut Allah dengan pendengaran, bukan dengan nikmat “punya telinga”. Bila bersyukur atas nikmat telinga, maka hewan pun dapat melakukannya.

Orang-orang cerdas sangat fokus kepada info-info penting untuk kemudian menyerapnya supaya tidak ada yang hilang dari info tersebut. Kemudian diolah oleh akalnya dan ditanamkan kedalam hatinya sebagai sebuah kebenaran yang akan semakin mengokohkan hidupnya. Dia bukan hanya mensyukuri adanya nikmat telinga yang diberikan oleh Allah Ta’ala melainkan sudah mensyukuri sesuatu yang tidak nampak dari adanya telinga tersebut yaitu fungsi telinga untuk mendengar.

Yang kedua adalah nikmat pengelihatan. Namun, bagi saya, ini lebih dari sekadar apa yang kita lihat. Melainkan sebuah pandangan. Yang digunakan bukan hanya mata kepala, tetapi juga mata hati yang mampu memandang segala masalah dan fenomena kehidupan. Mata hati tentu bukan sesuatu yang kasat mata, tetapi dia adalah barometer kehidupan seorang hamba yang akan mengarahkan kemana dia mesti melangkah.

Ini jelas berbeda dengan hewan yang hanya mengejar dan memburu apa yang dilihatnya untuk dijadikan sebagai mangsa yang mengenyangkannya. Dari mata turun ke perut. Tentu ini sangat riskan bila terjadi juga pada manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۖ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

Katakanlah, “Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, pengelihatan dan hati nurani bagi kamu. (Tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS Al-Mulk ayat 23).

Kelompok Cerdas Berkelas
Orang-orang cerdas tentu memiliki cara pandang yang berbeda. Orang-orang yang cerdas melibatkan akal dan hatinya manakala melihat segala sesuatu. Mereka dapat bersyukur atas apa yang Allah karuniakan dan terlihat oleh dirinya karena telah melalui proses penyerapan dengan akal dan hati. Inti sari dari apa yang mereka pikirkan dan hayati dengan bathin, itulah yang menjadi bahan baku bersyukur kepada Allah Ta’ala.

Mata memiliki kapasitas yang berbeda dengan telinga. Jika telinga hanya dapat fokus mendengar pada satu bunyi untuk mengidentifikasinya, maka mata memiliki kapasitas yang luar biasa untuk dapat menangkap berbagai bentuk, warna, dan rupa kemudian sekaligus mengidentifikasinya. Kemudian ia mengirimkannya ke otak untuk menjadi ingatan yang saat itu juga mampu diulang. Bahkan, mata mampu memanggil kembali memori yang telah lalu dalam pustakanya untuk mengidentifikasi sesuatu.

Allah-lah yang telah menciptakan pendengaran, pandangan-pandangan, dan af idah. Af idah adalah daya rasa yang ada di dalam nurani. Allah kemudian bertitah bahwa untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, meraup manfaat yang sebesar-besarnya, serta meraih benefit yang sehebat-hebatnya; maka kita manusia harus dapat menggunakan tiga peringkat yang Allah berikan ini.

Bukan hanya telinga, tetapi apa yang digunakan manusia sebagai pendengaran. Bukan hanya mata, tetapi apa yang dia pandang. Dan, bukan hanya kalbu, tetapi daya rasa yang digunakan untuk menangkap dan mengukuhkan kebenaran.

Misalkan saja seorang pelukis handal, maka untuk membuat sebuah karya fenomenal, dia butuh untuk mendengarkan tentang apa saja mengenai objek yang akan menjadi bahan utama karyanya. Dia butuh memandang dengan perenungan yang menggunakan ketajaman mata hati. Yang kemudian diolahnya di dalam kalbu hingga menghasilkan maha karya yang istimewa. Inilah yang disebut dengan Al-Jamalu yang bila sudah bercampur dengan rasa murni berupa kasih sayang, kelembutan, ketulusan, dan segala rasa yang baik. Hingga harga dan kualitas yang dihasilkan pun jauh lebih bergengsi dan berkualitas tinggi. Orang-orang mampu mengolah segala sumber daya yang dikaruniakan Allah Azza wa Jalla inilah yang disebut dengan Qaliilammaa tasykuruun (sebagian kecil orang-orang yang bersyukur).

Kebanyakan manusia hanya menghargai apa yang terlihat dengan mata. Oleh karena itu, kebanyakan yang didapat pun hanyalah yang biasa-biasa saja. Bukan sesuatu yang istimewa, apalagi yang fenomenal. Berbeda dengan orang yang bekerja dengan mengerahkan segala daya pikir dan rasanya seraya bersyukur kepada Allah Ta’ala. Tentu kualitas yang dihasilkannya adalah yang luar biasa dan berharga. Sebagaimana Allah berfirman bahwa Dia akan menambahkan nikmat-Nya yang sangat diharapkan bagi orang-orang yang bersyukur.

Selalu Ada Allah
Bersyukurlah yang banyak atas nikmat mampu mendengar, mampu memandang, dan mampu mengoptimalkan segala daya akal dan rasa yang dimilikinya. Oleh karena itu, Rasulullah saw selalu berdoa, “Allahumma matti’naa bi asmaa’inaa wa abshaarina wa quwwatinaa ma ahyaytana waj’alhul waaritsa minna waj’alhu tsa’ranaa ‘alaa man ‘aadanaa wa laa taj’al mushiibatanaa fii diininaa wa laa taj’alid dunya akbara hamminaa wa laa mablagha ‘ilminaa wa laa tusallith ‘alainaa man laa yarhamunaa.”

“Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami.” (HR Tirmidzi dan Hakim). Inilah doa untuk bisa mensyukuri segala nikmat Allah yang diberikan secara luar biasa kepada kita.

Pamungkasnya adalah orang-orang yang paling beruntung adalah mereka yang setelah mendapatkan nikmat pendengaran, kemudian mengatakan “Sami’na waatha’na”. Mereka orang-orang yang setelah meyakini kebenaran dari Allah kemudian mengatakan, “Kami tunduk dan kami patuh”, kemudian dia mengerjakan segala sesuatu hanyalah karena Allah Ta’ala. Bukan semata untuk mendapatkan imbalan, bukan semata untuk naik jabatan, juga bukan untuk mendapatkan popularitas. Namun, tidak lain hanyalah karena Allah Azza wa Jalla. Mereka inilah orang-orang yang sudah “selesai” dengan urusan dunianya. Bukan berarti butuh tidak butuh uang dan kewenangan, melainkan, dalam setiap langkahnya, ada Allah disana.*