Podcast dengan Abraham Samad, UBN Ajak Umat dan Politisi Hindari ‘Syirik Politik’

JAKARTA–Perhelatan Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden di depan mata. Bahkan hiruk pikuknya sudah terasa dalam satu tahun belakangan.
Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) mengingatkan kepada para calon presiden maupun calon legislatif agar menjadi contoh baik bagi masyarakat. Para calon pemimpin diharapkan jangan menjadi teladan kemusyrikan.
Menurut UBN, demikian sapaan karibnya, saat ini di Indonesia telah terjadi ‘syirik politik’. Yakni pemberhalaan uang dan kekuasaan.
“Ada dua berhala dalam dunia politik kita. Satu uang, dua kekuasaan. Ini menjadi berhala baru yang disembah,” ungkap UBN saat menjadi narasumber podcast mantan Ketua KPK ‘Abraham Samad Speak Up’, di Jakarta, Selasa (3/10/2023).
Dikatakan UBN, banyak yang menganggap kekuasaan dapat diraih dengan uang. Mereka yang memiliki banyak uang yakin dapat meraih kekuasaan.
“Sekarang sudah seperti akidah, yang punya uang (yakin) menang. Banyak uang bisa menjadi caleg, bupati, gubernur walaupun integritas tidak ada. Dua berhala ini. Uang untuk meraih kekuasaan. Ini barangkali istilahnya syirik politik,” ujar UBN yang juga Pimpinan Perkumpulan AQL.
Dengan uang, lanjut UBN, para politisi merasa jumawa dapat meriah kemenangan. Sementara yang tidak punya uang, pesimis kalah.
UBN mengajak para politisi dan masyarakat agar tidak terjerembap ‘syirik politik’, yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan.
“Jangan halalkan segala cara untuk menyembah berhalamu yang bernama kekuasaan. Bahwa presiden adalah cita-cita saya dalam berpolitik yang tertinggi,” ungkap UBN.
UBN menyitir ayat 26 Surat Al Imran.
Qulillāhumma mālikal-mulki tu`til-mulka man tasyā`u wa tanzi ‘ul-mulka mim man tasyā`u wa tu’izzu man tasyā`u wa tużillu man tasyā`, biyadikal-khaīr, innaka ‘alā kulli syai`ing qadīr.
Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
“Kekuasaan itu milik Tuhan, jadi jangan kau rampas hak Tuhan. Kamu akan celaka. Apalagi bangsa ini muslim. Ini titipan Allah Subhanahu wa Ta’ala,” kata UBN mengingatkan.*
