Tadzkirah

Berkunjung ke Rumah Rasulullah

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَ‌سُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْ‌جُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ‌ وَذَكَرَ‌ اللَّـهَ كَثِيرً‌ا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia paling mulia yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika sebagian orang atau tokoh unggul atau menonjol dalam sebagian bidang, dan lemah dalam bidang yang lain, maka Rasulullah unggul dalam semua aspek kehidupan ini, dalam ibadahnya, pergaulannya, keberaniannya, kedermawanannya, kelemah-lembutannya, kezuhudannya, kerendahan hatinya, kebijaksanaannya, kecerdasannya dan aspek-aspek lainya. Sehingga Allah Ta’ala pun mengabadikan keagungan akhlak beliau dalam al-Qur`an yang akan dibaca sampai hari kiamat:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4).

Kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini merupakan sebuah fenomena unik yang tidak terdapat pada seorangpun di muka bumi ini, dimana seluruh aspek kehidupan beliau terbuka dan transparan, tidak ada rahasia sedikit pun. Bahkan sampai ke tempat tidur beliau. Setiap detail kehidupan beliau dari lahir sampai meninggal semua terbuka dan diketahui oleh umat. Hal itu untuk memudahkan kita untuk mencontoh dan meneladani beliau.

Untuk itu kita akan mencoba berkunjung ke rumah manusia paling agung dan makhluk yang paling dicintai oleh Allah SWT, yaitu Rasulullah SAW melalui huruf dan kalimat. Kita akan melihat keadaannya ketika berada di rumahnya, mendengar ucapan beliau, hidup sehari di rumah beliau untuk menggali mutiara dan hikmah darinya.

Rumah Rasulullah 

Di sebelah timur Masjid Nabawi kita dapat melihat rumah Nabi SAW yang sangat sederhana, tanpa hiasan perabot dan hanya dialasi tikar usang. Bangunan rumah Rasulullah SAW dibangun dari tanah lumpur dan batu yang ditumpuk serta beratapkan daun kurma, dimana atapnya dapat dicapai dengan tangan. Dalam kitab al-Thabaqat al-kubra, Ibnu Sa’d menyebutkan bahwa Hasan al-Basri berkata, “Saya pernah memasuki rumah istri-istri Nabi SAW pada masa kekhalifahan Ustman bin Affan, dimana tanganku dapat mencapai atapnya”.

عن ثابت قال: أخرج إلينا أنس بن مالك قدح خشب مضبباً  بحديد، فقال :يا ثابت، هذا قدح رسول الله

Dari Tsabit, ia berkata, “Anas bin Malik ra. (pelayan Rasulullah) pernah memperlihatkan kepadaku tempat minum Rasulullah yang terbuat dari kayu yang keras dan di patri dengan besi. Kemudian Anas berkata kepadaku, ‘Wahai Tsabit, inilah tempat minum Rasulullah.” (HR. Tirmidzi). Dengan gelas dari kayu itulah Nabi SAW. air, perasan kurma, madu dan susu.

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : ” إِنَّمَا كَانَ فِرَاشُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَنَامُ عَلَيْهِ أَدَمًا حَشْوُهُ لِيفٌ

Dari Aisyah ra. Ia berkata, “Sesungguhnya tempat kasur Rasulullah SAW. yang menjadi tempat tidur beliau itu adalah dari kulit yang diisi dengan serabut kurma”. (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafadz Muslim).

Ketika Umar bertamu ke rumah Rasulullah SAW beliau menceritakan:

وَإِنَّهُ لَعَلَى حَصِيرٍ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ شَيْءٌ وَتَحْتَ رَأْسِهِ وِسَادَةٌ مِنْ أَدَمٍ حَشْوُهَا لِيفٌ وَإِنَّ عِنْدَ رِجْلَيْهِ قَرَظًا مَصْبُوبًا وَعِنْدَ رَأْسِهِ أَهَبٌ مُعَلَّقَةٌ فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْحَصِيرِ فِي جَنْبِهِ فَبَكَيْتُ فَقَالَ مَا يُبْكِيكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ كِسْرَى وَقَيْصَرَ فِيمَا هُمَا فِيهِ وَأَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمْ الدُّنْيَا وَلَنَا الْآخِرَةُ

Saat itu beliau berada di atas tikar yang tidak dilapisi sesuatu apa pun. Di bawah kepalanya hanya terdapat bantal yang terbuat dari kulit yang berisikan sabut. Pada kedua kakinya terdapat dedaunan yang dituangkan, sementara di kepalanya terdapat kulit yang telah disamak. Aku melihat bekas tikar itu di sebelah kiri badannya, dan aku pun menangis. Beliau bertanya, “Apa yang menyebabkanmu menangis?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Kisra dan Kaisar keduanya berada dalam kesenangan, sementara Anda wahai Rasulullah..” akhirnya beliau bersabda: “Tidakkah kamu ridla apabila dunia ini menjadi milik mereka, sedangkan akhirat untuk kita?” (HR. Bukhari)

Subhanallah! Seorang Rasulullah dan manusia paling mulia, seandainya ia meminta kepada Allah SWT segala perbendaharaan di langit dan bumi, maka Allah akan memberikannya. Tetapi beliau bersikap qana’ah dan zuhud terhadap dunia karena akhiratlah yang menjadi tujuannya, dan beliau tahu bahwa dunia hanyalah sekedar tempat berlalu bukan tempat pemberhentian terakhir.

Hal itu tidaklah mengherankan karena itulah yang menjadi motto hidup beliau

عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” طُوبَى لِمَنْ هُدِيَ إِلَى الْإِسْلَامِ وَكَانَ عَيْشُهُ كَفَافًا وَقَنَعَ

Fadhalah bin ‘Ubaid ra. meriwayatkan bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW. bersabda, “Berbahagialah orang yang mendapat hidayah Islam, dan hidupnya sederhana dan qona’ah (ridha dan senang dengan apa yang ada).” (HR. Tirmidzi, Ahmad, al-Nasa`I dan Hakim).

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مِحْصَنٍ الْخَطْمِيِّ ، عَنْ أَبِيهِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Dari Salamah bin ‘Ubaidillah bin Mihshan al-Khathami dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Baihaqi).

 Melakukan pekerjaan rumah

عَنِ الْأَسْوَدِ ، قَالَ : سَأَلْتُ عَائِشَة ، مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ ؟ قَالَتْ : ” كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

Dari al-Aswad, ia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah tentang apa yang dilakukan Nabi SAW di rumahnya? Aisyah menjawab, “Rasulullah SAW melakukan pekerjaan rumah, yaitu membantu pekerjaan keluarganya, jika waktu sholat masuk maka beliau keluar untuk menunaikan sholat.” (HR. Bukhari).

عَنْ عَائِشَةَ ، أَنَّهَا سُئِلَتْ : مَا كَانَ عَمَلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِهِ ؟ قَالَتْ : ” مَا كَانَ إِلا بَشَرًا مِنَ الْبَشَرِ ، كَانَ يَفْلِي ثَوْبَهُ ، وَيَحْلِبُ شَاتَهُ ، وَيَخْدُمُ نَفْسَهُ

Aisyah meriwayatkan bahwa beliau ditanya tentang pekerjaan Rasulullah SAW di rumahnya? Maka beliau menjawab, “Beliau sama seperti manusia lainnya, beliau menjahit sendiri bajunya, memerah susu dan melayani dirinya sendiri.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Hibban)ز

Makanan di rumah Rasulullah 

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : ” إِنْ كُنَّا آلَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنَمْكُثُ شَهْرًا مَا نَسْتَوْقِدُ بِنَارٍ ، إِنْ هُوَ إِلَّا التَّمْرُ وَالْمَاءُ

Dari Aisyah ra. ia berkata, “Sungguh kami keluarga Muhammad SAW. benar-benar berdiam selama sebulan tanpa menghidupkan api (untuk membuat makanan), yang ada hanyalah kurma dan air.” (HR. Bukhari dan Muslim).

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ ، أَنَّهَا كَانَتْ تَقُولُ ” وَاللَّهِ يَا ابْنَ أُخْتِي إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ ، ثُمَّ الْهِلَالِ ، ثُمَّ الْهِلَالِ ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ ، وَمَا أُوقِدَ فِي أَبْيَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَارٌ ، قَالَ : قُلْتُ يَا خَالَةُ : فَمَا كَانَ يُعَيِّشُكُمْ ؟ ، قَالَتِ الْأَسْوَدَانِ : التَّمْرُ وَالْمَاءُ ، إِلَّا أَنَّهُ قَدْ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جِيرَانٌ مِنْ الْأَنْصَارِ ، وَكَانَتْ لَهُمْ مَنَائِحُ ، فَكَانُوا يُرْسِلُونَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَلْبَانِهَا فَيَسْقِينَاهُ

‘Urwah meriwayatkan bahwa Aisyah berkata kepadanya, “Demi Allah! Wahai keponakanku, sungguh kami melihat kepada anak bulan kemudian satu anak bulan sehingga tiga anak bulan dalam masa dua bulan dan tidak dinyalakan api (tidak memasak makanan) dalam rumah-rumah Rasulullah. Aku berkata: wahai bibiku! Apakah yang menghidupkan kamu? Ia menjawab: cAswadan iaitu tamar dan air. Tetapi, Rasulullah SAW mempunyai tetangga dari kalangan Anshar yang mempunyai unta atau kambing yang mempunyai susu dan mereka memberi susu-susu mereka kepada Rasulullah SAW lalu baginda memberi minum kepada kami.” (HR. Bukhari dan Muslim).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : ” مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلَاثَ لَيَالٍ تِبَاعًا حَتَّى قُبِضَ

Dari Aisyah ra, Ia berkata, “Keluarga Muhammad SAW tidak pernah kenyang dengan makanan gandum selama tiga hari berturut-turut, sampai beliau meninggal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ ، قَالَتْ : دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ، فَقَالَ : ” هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ ” ، فَقُلْنَا : لَا ، قَالَ : ” فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ

Dari Aisyah ra. Ia berkata, “Suatu hari Rasulullah SAW datang ke rumah dan berkata, “Apakah kamu mempunyai sesuatu (untuk dimakan)? Kami menjawab, “Tidak ada”, maka beliau berkata, “Kalau begitu aku berpuasa.” (HR. Muslim).

Perlakuan Rasulullah terhadap keluarganya

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي

Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah sebaik-baik kalian terhadap keluargaku”. (HR. Tirmizi dan al-Baihaqi).

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : ” كُنْتُ أَشْرَبُ وَأَنَا حَائِضٌ ، ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ ، فَيَشْرَبُ ، وَأَتَعَرَّقُ الْعَرْقَ ، وَأَنَا حَائِضٌ ، ثُمَّ أُنَاوِلُهُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَيَضَعُ فَاهُ عَلَى مَوْضِعِ فِيَّ

Dari Aisyah, ia berkata, “Saya pernah minum pada waktu haid, lalu saya memberikannya kepada Nabi SAW maka beliau meletakkan mulutnya di bekas tempat mulutku, dan aku menggigit kikil dalam keadaan haid, lalu aku berikan kikil tadi kepada nabi, maka beliau meletakkan mulutnya ditempat mulutku.” (HR. Muslim).

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : ” مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ ، وَلَا امْرَأَةً ، وَلَا خَادِمًا ، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dari Aisyah ra. ia berkata, “Rasulullah SAW. tidak pernah memukul dengan tangannya, tidak perempuan dan tidak juga pembantu kecuali jika beliau sedang berjihad di jalan Allah SWT. (HR. Muslim).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِي جَارَهُ ، وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا. رواه البخارى ومسلم وهذا لفظ البخارى

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari akhir maka hendaklah dia tidak menyakiti tetangganya. Saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada perempuan. Karena sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah bagian yang paling atasnya. Jika kamu berusaha meluruskannya, maka kamu akan membuatnya patah. Dan jika dibiarkan, ia akan terus bengkok. Karena itu, saling berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada Perempuan.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafadz Bukhari).

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : أَقْبَلَتْ فَاطِمَةُ تَمْشِي كَأَنَّ مِشْيَتَهَا مِشْيَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : ” مَرْحَبًا بِابْنَتِي ” ، فَأَجْلَسَهَا ، عَنْ يَمِينِهِ ، أَوْ عَنْ شِمَالِهِ

Dari Aisyah ra. ia berkata, “Fathimah datang sambil berjalan, dan jalan itu persis sama dengan jalannya Rasulullah SAW, maka Rasulullah berkata kepadanya, “Selamat datang anakku” lalu beliau mendudukkannya di kanan atau kiri beliau.” (HR. Muslim).

Tidur Nabi 

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ، ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ ، فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ ” ، قَالَ : فَرَدَّدْتُهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا بَلَغْتُ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ قُلْتُ : وَرَسُولِكَ ، قَالَ : لَا ، وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

Dari al-Bara` bin ‘Azib, ia berkata, “Nabi SAW bersabda: “Jika kamu mendatangi tempat tidurmu (hendak tidur) maka hendaklah kamu berwudhu` seperti wudhu`mu untuk sholat, lalu berbaring di atas bagian kanan tubuhmu, kemudian bacalah, “Ya Allah aku serahkan wajahku kepada-Mu, aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu dalam keadaan harap dan cemas hanya kepada-Mu, Tidak ada tempat berlindung dan tidak ada yang dapat menyelamatkan diri dari (siksa)Mu kecuali hanya kepada-Mu. Ya Allah Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus. Jika kamu mati pada malam itu, maka kamu mati di atas fitrah (Islam), dan jadikanlah doa ini sebagai akhir apa yang kamu ucapkan.” Perawi (al-Bara`) berkata, “Lalu aku mengulangi doa ini di hadapan Rasulullah SAW ketika sampai pada Ya Allah aku beriman kepada kitab yang telah Engkau turunkan dan Rasul-Mu,” maka Rasulullah bersabda: “Bukan begitu, tapi dan beriman kepada Nabi yang telah Engkau utus.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengibaskan tempat tidur, lalu membaca doa seperti dalam hadits berikut ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ ، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ ، ثُمَّ يَقُولُ : بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي وَبِكَ أَرْفَعُهُ ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا ، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “ Nabi SAW bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian beranjak menuju tempat tidur maka hendaklah dia mengibaskan tempat tidurnya karena dia tidak mengetahui apa yang ia tinggalkan di atasnya, kemudian hendaklah ia membaca, ‘Dengan nama-Mu ya Tuhan aku letakkan tubuhku dan dengan Mu pula aku mengangkatnya. Jika Engkau mencabut ruhku maka rahmatilah ia, dan jika Engkau melepaskannya maka jagalah ia sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang sholeh. (HR. Bukhari dan Muslim).

Meniup kedua telapak tangan dan membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas, lalu mengusapkan kedua tangan itu ke seluruh tubuh.

عَنْ عَائِشَةَ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا ، فَقَرَأَ فِيهِمَا : قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi SAW apabila beranjak ke tempat tidurnya pada setiap malam, beliau menghimpun dua telapak tangannya, kemudian meniupkan padanya sambil membaca Qul huwallaahu ahad (surat Al-Ikhlash), Qul a’uudzu bi-rabbil-falaq (surat Al-Falaq), dan Qul a’uudzu bi-rabbin-naas (surat An-Naas). Setelah itu mengusapkan kedua telapak tangannya itu ke seluruh tubuhnya yang mampu untuk diusap, dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukannya tiga kali.” (HR. Bukhari).

Meletakkan tangan di bawah pipi kanan lalu membaca doa dalam hadit berikut ini.

عَنْ حَفْصَةَ رضي الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْقُدَ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى تَحْتَ خَدِّهِ ثُمَّ يَقُولُ :اللَّهُمَّ قِنِى عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ. ثلاث مرار

Hafshah ra. meriwayatkan bahwa jika ingin tidur Rasulullah SAW meletakkan tangannya yang kanan di bawah pipinya kemudian membaca, “Ya Allah lindungilah aku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan para hamba-Mu.” (HR. Abu Daud).

Qiyamul lail

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ، قَالَ : ” أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

Aisyah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW biasa bangun malam melaksanakan sholat sampai kedua kaki beliau bengkak, maka Aisyah berkata kepada beliau, “Mengapa anda melakukan ini ya Rasulullah, padahal Allah sudah mengampuni dosa anda yang lalu dan yang akan datang? Maka beliau bersabda, “Apakah tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim).

عن عَائِشَةَ رضي الله عنها قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قام من اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ افْتَتَحَ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

Dari Aisyah ra. ia berkata, “Jika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bangun pada waktu malam untuk melaksanakan shalat malam, beliau membuka shalat malamnya dengan mengerjakan dua raka’at ringan.” (HR. Muslim).

Dari Hudzaifah ra, ia berkata :

صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ذات ليلة فافتتح البقرة فقلت يركع عند المائة ثم مضى فقلت يصلي بها في ركعة فمضى فقلت يركع بها ثم افتتح النساء فقرأها ثم افتتح آل عمران فقرأها يقرأ مترسلا إذا مر بآية فيها تسبيح سبح وإذا مر بسؤال سأل وإذا مر بتعوذ تعوذ

“Pada suatu malam, aku shalat bersama Nabi SAW Mulailah beliau membaca surat Al-Baqarah. Aku berpikir beliau akan rukuk pada ayat keseratus, namun beliau terus. Aku berpikir Al-Baqarah akan beliau baca dalam satu raka’at. Setelah selesai, aku berpikir sekarang beliau akan rukuk. Ternyata beliau melanjutkan membaca surat An-Nisaa’, kemudian disambung dengan surat Ali ‘Imran. Beliau membaca surat-surat tersebut dengan perlahan. Jika beliau melewati ayat yang me-Maha Suci-kan Allah, beliau bertasbih; jika melewati ayat yang mengandung pengertian permintaan, beliau meminta; dan jika melewati ayat yang menyebutkan perlunya berlindung (kepada Allah), maka beliau meminta perlindungan diri”. (HR. Muslim).

Setelah Subuh

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ” كَانَ إِذَا صَلَّى الْفَجْرَ ، جَلَسَ فِي مُصَلَّاهُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَسَنًا

Jabir bin Samurah meriwayatkan bahwa di antara kebiasaan Nabi SAW. adalah duduk di tempat shalatnya setelah shalat shubuh sampai matahari agak meninggi. (HR. Muslim).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

Dari Anas bin Malik ra. ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “BarangSiapa yang shalat shubuh berjamaah kemudian dudukmengingat Allah hingga matahari terbit kemudian shalat sebanyak dua rakaat, maka untuknya pahala sebagaimana pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna sempurna.” (HR. Tirmidzi).

Shalat Dhuha

عَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ” يُصَلِّي الضُّحَى أَرْبَعًا ، وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ

Dari Aisyah ra. ia berkata, “Biasanya Rasulullah SAW shalat Dhuha 4 raka’at, dan beliau menambahnya sebanyak yang Allah kehendaki. (HR. Muslim).

عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ : يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى. رواه مسلم

Abu Dzar meriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda: “Setiap pagi, setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan sedekahnya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, dan melarang berbuat kemunkaran adalah sedekah. Dan semua itu dapat diganti dengan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR. Muslim).

Sikap Rasulullah terhadap pembantunya

عَنْ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ ، قَالَ : رَأَيْتُ أَبَا ذَرٍّ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ وَعَلَى غُلَامِهِ مِثْلُهَا فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ ، قَالَ : ” فَذَكَرَ أَنَّهُ سَابَّ رَجُلًا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَعَيَّرَهُ بِأُمِّهِ ، قَالَ : فَأَتَى الرَّجُلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ إِخْوَانُكُمْ وَخَوَلُكُمْ جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدَيْهِ ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ عَلَيْهِ

Dari al-Ma’rur bin Suwaid, ia berkata, “Saya melihat Abu Dzar memakai pakaian yang sama dengan yang dipakai oleh pembantunya, maka kami bertanya kepadanya tentang hal itu, beliau menjawab, “Saya dulu pernah mencela seseorang pada zaman Rasulullah SAW dengan menghina ibunya. Orang itu kemudian mendatangi Nabi SAW dan menceritakan hal itu kepada beliau, maka Nabi SAW bersabda, “Sungguh kamu adalah seseorang yang masih ada sifat jahiliyyah dalam dirimu, Para hamba sahaya itu adalah saudara-saudaramu juga merupakan pembantu-pembantumu. Oleh Allah mereka itu dijadikan berada dibawahtanganmu-yakni berada di bawah kekuasaanmu. Barangsiapa yang saudaranya itu ada di bawah tangannya – yakni barangsiapa yang memiliki hambasahaya, hendaklah ia memberinya makan dari apa yang dimakan olehnya sendiri, memberinya pakaian dari apa-apa yang dikenakan olehnya, janganlah memaksa mereka mengerjakan sesuatu yang tidak mampu mereka lakukan, tetapi jikalau mereka engkau paksa sedemikian, maka wajiblah engkau menolong mereka itu. (HR. Bukhari dan Muslim).

Anas bin Malik berkata:

فَخَدَمْتُهُ فِي السَّفَرِ وَالْحَضَرِ ، مَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا هَكَذَا ، وَلَا لِشَيْءٍ لَمْ أَصْنَعْهُ لِمَ ، لَمْ تَصْنَعْ هَذَا هَكَذَا

Aku telah membantu rasulullah baik waktu dalam perjalanan atau sedang tinggal, beliau tidak pernah berkata, “kenapa kamu kerjakan itu ” tentang suatu pekerjaan yang aku lakukan, dan tidak pernah bertanya sesuatu pekerjaan yang aku tinggalkan ” kenapa kamu tingalkan itu? “ (HR. Bukhari dan Muslim).

عن أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ” إِذَا أَتَى أَحَدَكُمْ خَادِمُهُ بِطَعَامِهِ ، فَإِنْ لَمْ يُجْلِسْهُ مَعَهُ فَليُنَاوِلْهُ لُقْمَةً أَوْ لُقْمَتَيْنِ أَوْ أُكْلَةً أَوْ أُكْلَتَيْنِ ، فَإِنَّهُ وَلِيَ عِلَاجَهُ

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Jikalau seseorang di antara engkau semua telah didatangi oleh pelayannya dengan membawa makanannya, maka jikalau ia tidak mengajak duduk bersama pelayannya itu, hendaklah memberinya saja sesuap atau dua suap, satu macam atau dua macam suapan makanan, sebab sesungguhnya pelayan itu telah merampungkan pekerjaannya.” (HR. Bukhari).

Sikap terhadap tamu

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْكَعْبِيِّ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ ، فَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ ، وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ

Abu Syuraih al-Ka’bi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya dengan pemberian untuknya sehari semalam. Hak bertamu adalah 3 hari, setelah itu adalah sedekah, dan tidak halal seorang bertamu hingga menyulitkan tuan rumah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ جَزْءٍ ، قَالَ : ” مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Abdullah bin Harits bin Juz, ia berkata, Saya tidak pernah melihat orang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW. (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Sikap terhadap Tetangga

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْخُزَاعِيِّ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ، فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ، فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَسْكُتْ

Abu Syuraih al-Khuza’I meriwayatkan bahwa Nabi SAW. bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya, Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tamunya, dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia mengatakan yang baik atau dia diam.” (HR. Muslim).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Dari Aisyah ra. dari Nabi SAW. beliau bersabda, “Jibril senantiasa menasehatiku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapat bagian harta waris.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selalu Berdzikir Disetiap Keadaan

عن عائشة قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يذكر الله على كل أحيانه

Dari Aisyah ra. ia berkata, “Rasulullah SAW selalu berdzikir di setiap waktu.” (HR. Muslim).

Diantara hak Rasulullah terhadap kita adalah mengikuti sunnah-sunnah beliau dan menjadikan beliau sebagai suri tauladan yang harus kita ikuti jalan dan gaya hidup beliau. Dan di antara hak Rasulullah SAW juga adalah selalu bershalawat kepada beliau.

إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab [33]: 56).

Jangan sampai kita menjadi umat Nabi Muhammad yang enggan masuk surga, sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah SAW.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, ” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?” Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku (mengikuti aku) masuk surga dan siapa yang menyelisihi aku berarti ia enggan.” (HR. Bukhari).*