Agar Hati Mudah Menerima Nasihat

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
BEGITU banyak nasihat yang datang dan ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentu akan sangat berguna manakala nasihat itu kemudian dapat kita renungkan, kita ambil hikmahnya, dan kemudian bermanfaat bagi kita. Apalagi kalau sampai nasihat yang benar dan membawa kebaikan itu dapat kita amalkan. Karena itu, pembahasan ini menjadi sangat penting, yaitu bagaimana mengamalkan nasihat-nasihat yang ada dalam hidup kita.
Saya akan bacakan dari kitab Ya Ayyuhal Walad dari Abu Hamid al-Ghazal. Beliau menulis kitab ini berawal dari pertanyaan santrinya, “Guru tolong berikan nasehat kepadaku tentag nasihat yang bermanfaat.” Pertanyaan ini berdasarkan doa Rasul yang berarti, “Ya Allah lindungilah kami dari ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat.” Untuk menjawab pertanyaan yang penting ini, gurunya menjawab dengan tulisan.
Sebetulnya bila kembali pada hadits Nabi bahwa Ad-Dinnun Annasihah, dari kitab Arbain karya An-Nawawi, nasihat itu sebenarnya sebenarnya berasal dari Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan dari pemimpin-pemimpin kaum muslimin. Nasihat itu banyak sekali ada di sekitar kita. Nasihat dari Allah itu bisa berupa ayat-ayat Allah atau apa yang ada dalam penciptaan alam semesta. Maka, malulah bila kita mengabaikan nasihat-nasihat yang Allah berikan.
Lihatlah apa yang ada di sekitar kita. Di pagi hari ketika burung-burung sudah beterbangan kesana kemari untuk mencari rezeki, maka malulah bila kita masih bergelung di dalam selimut. Bila kita pergi ke rumah sakit, kita akan banyak menyaksikan mereka yang terbaring menahan sakit yang di derita, tanpa bisa melakukan aktivitas yang dengan mudah kita lakukan saat ini. Untuk bernafas mereka membutuhkan bantuan oksigen. Untuk bisa tertawa mereka tidak dapat melakukannya dengan puas karena nafas yang sesak atau ada bagian tubuh yang sakit.
Mereka juga tidak dapat berjalan-jalan menikmati keindahan di pagi hari karena memang tidak mampu, akibat kaki mereka lemah untuk menopang tubuhnya. Sementara kita bisa lari pagi, pergi ke tempat kerja, melakukan berbagai hal penting di pagi hari bahkan bercanda menemani anak-anak kita. Inilah nasehat-nasehat yang ada di sekitar kita. Agar kita bersyukur dan agar meningkatkan ketaan kita untuk semua karunia besar yang Allah Azza wa Jalla berikan.
Di dalam tubuh kita sendiri bahkan begitu banyak nasihat Allah berikan. Agar kita mengingat kebesaran dan kasih sayang yang berlimpah dari-Nya. Misalkan bulu kaki kita. Adakah yang pernah memikirkan kenapa bulu yang ada di kaki kita tidak bertumbuh memanjang dan lebat seperti bulu yang biasa kita sebut dengan rambut yang ada di atas kepala? Bisa dibayangkan kalau bulu kaki, bulu mata, atau bulu hidung kita memanjang seperti rambut kepala –padahal mereka sama-sama rambut. Inilah satu nasihat dari ribuan nasihat Allah yang ada di dalam tubuh kita.
Mudah Menerima Nasihat
Nasihat itu sebenarnya mudah dicari, mudah didapati, dan mudah untuk didengarkan. Apanya yang sulit? Yang sulit adalah menerimanya. Karena nasihat itu bagi orang yang hatinya sedang tunduk pada hawa nafsu, maka akan terasa pahit. Dengan demikian, bila ada nasihat-nasihat kebaikan, tetapi hati kita tidak bisa menerimanya, maka yang sebenarnya bermasalah adalah hati kita. Orang yang jiwanya sudah mengikuti hawa nafsu, maka akan selalu menolak nasihat dan kebenaran karena hatinya sedang tunduk kepada hawa nafsu. Sebaliknya, semua yang dilarang akan disukai oleh diri kita. Sayangnya, orang-orang yang sedang turun imannya, biasanya justru mendekat pada hal-hal yang tidak diridai Allah Azza wa Jalla dan menikmatinya.
Imam Ghazali berkata, “Khususnya orang-orang yang sulit menerima nasihat adalah mereka yang hanya berpendidikan formal. Mereka sulit untuk menerima nasihat dan kebenaran yang sebenarnya karena mereka orang yang sedang sibuk mencari hal-hal yang akan menonjolkan dirinya, supaya menjadi orang-orang yang terpuji di mata dunia.” Biasanya, mereka menuntut ilmu yang hanya berorientasi pada nilai, uang, dan profesi yang ujungnya adalah syahwat kepada dunia.
Mereka mengira bahwa ilmu dunialah satu-satunya yang dapat menjadi jalan untuk memperoleh kemuliaan di dunia. Mereka juga berpikir bahwa keselamatan di dunia ini hanya dengan ilmu dunia dan memiliki nilai bagus. Mereka lupa bahwa ilmu itu harus diamalkan. Pengamalan ilmu dalam kehidupan di dunia ini; yang sering diabaikan dalam proses menuntut ilmu.
Fungsi Ilmu
Apa sebenarnya fungsi dari ilmu? Inilah yang harus kita ketahui jelas bahwa ilmu sesungguhnya harus membuat seseorang semakin takut kepada Allah Ta’ala. Tujuan menuntut ilmu inilah yang seringkali tidak sampai dicapai oleh seorang pelajar, santri, maupun mahasiswa. Sehingga , banyak di antara kita yang berpikir bahwa selepas menuntut ilmu maka pengalamannya hanyalah untuk bisa berkerja atau mendapatkan uang yang banyak. Sebatas itu; sehingga lupa bahwa sesungguhnya ilmu itu harus membuat kita semakin dekat dan takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Orang-orang yang seperti ini pada akhirnya akan semakin sulit untuk mendapatkan nasihat dari ilmu. Karena itu tadi, ia merasa sudah cukup mendapatkan ilmu dan menuntut ilmu itu tidak menyenangkan. Padahal jika suatu ilmu diniatkan untuk mendekat dan menaati Allah, pasti ilmu tersebut akan membawa kebahagiaan bagi dirinya. Pasalnya, mendekat kepada Allah berarti mendekati kebahagiaan dan memenuhi apa sebenarnya yang kita butuhkan.
Seseorang yang memiliki ilmu sesungguhnya harus mengetahui bahwa muara dari ilmu sebenarnya adalah amal perbuatan yang sesuai dengan ilmu yang diketahuinya tersebut. Kelak di akhirat nanti, seseorang akan dimintai pertanggungjawabannya. Semakin banyak mengatahui maka akan semakin berat pertanggungjawaban yang akan dituntut kepadanya. Dan, orang yang paling berat siksanya di akhirat kelak adalah mereka yang berilmu, tetapi Allah tidak memberikan manfaat ilmu kepada orang tersebut; dikarenakan apa yang diniatkan dan menjadi orientasi ilmunya.
Oleh karena itu, amat penting bagi kita untuk memperhatikan apa yang menjadi niat kita ketika menuntut ilmu. Apa yang menjadi orientasi manakala menuntut ilmu akan mempengaruhi, sebesar apa hati kita dapat menerima kebenaran dan kebaikan.
Imam Junaid Al-Bahgdadi berkata, “Tidak ada yang bermanfaat ilmu di dunia ini kecuali ilmu yang diamalkan, yang ikhlas diniatkan untuk Allah dan, mencontoh pada Rasul-Nya. Dan, di antara ilmu istimewa dan bermanfaat itu adalah shalat malam.”*
