Artikel

Sinetron di Bulan Ramadhan

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustaz, biasanya di bulan Ramadhan ini, televisi-televisi kita berlomba-lomba menyiapkan dan membuat program untuk ditayangkan kepada pemirsanya. Di antara program itu adalah sinetron-sinetron. Baik yang religi maupun tidak. Terkadang yang katanya sinetron religipun menayangkan hal-hal yang tidak mendidik sama sekali, bahkan malah mendiskreditkan simbol atau nilai yang ada dalam Islam. Apakah menonton sinetron-sinetron seperti itu di bulan Ramadhan dapat mengurangi pahala puasa kita, Ustaz? Mohon penjelasannya.

Hamba Allah

Jawab:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.

Tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan ibadah puasa kepada orang beriman adalah agar mereka bisa mengendalikan hawa nafsunya. Sehingga dapat mencapai derajat takwa. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Surat Al-Baqarah [2]: 183).

Pada intinya takwa adalah dimana seorang hamba membuat dinding pembatas (pelindung) antara dirinya dengan kemurkaan Allah dan siksaan neraka-Nya. Konsekuensi dari takwa itu tentunya menjalankan semua yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala larangannya dengan penuh keikhlasan hanya karena Allah semata.

Bulan Ramadhan dengan segala keutamaan dan kemuliaannya merupakan salah satu nikmat besar yang diberikan Allah kepada umat Islam yang semestinya kita syukuri. Dengan mengisinya dengan amal ibadah dan segala ketaatan  kepada AllahTa’ala dari awal hingga akhir bulan Ramadhan itu sehingga tujuan dari ibadah puasa itu dapat dicapai. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ ، وَمَرَدَةُ الْجِنِّ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ ، وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ ، وَنَادَى مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ ، وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ

Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Jika malam pertama Ramadhan datang, maka setan-setan, dan jin-jin pembangkang dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pintunya pun yang terbuka, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Lalu ada suara yang menyeru, ”Wahai pencari kebaikan! Sambutlah, wahai pencari kejelekan! berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang dimerdekakan dari neraka. Dan demikian itu pada setiap malam.” (Riwayat Tirmizi, An-Nasa`i, Ahmad dan Ibnu Majah).

Menghabiskan waktu luang dengan banyak menonton hal-hal yang tidak bermanfaat, meskipun dibolehkan tentu bertentangan dengan maksud dari berpuasa dan Ramadhan itu sendiri.

Apalagi jika di dalam sinetron-sinetron itu banyak ditampilkan hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala seperti perempuan yang berpakaian minim, perkataan keji, bahkan terkadang diselipkan budaya dan pemikiran yang bertujuan menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai Islam dan mengubah identitas dan karakter umat Islam. Hal itu tentu lebih dilarang lagi karena puasa itu bukan hanya sekadar meninggalkan makan, minum dan berhubungan suami istri. Hakikat puasa adalah mempuasakan seluruh anggota badan dan hati dari hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala.

Menonton sinetron-sinetron yang banyak menayangkan hal-hal yang diharamkan Allah seperti itu memang tidak membatalkan ibadah puasa. Dalam artian bahwa kita tidak diminta untuk menggantinya di hari lain, tetapi hal itu dapat mengurangi pahala ibadah puasa kita. Bhkan bisa menghabiskan pahala puasa kita. Sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa bagian yang ia dapatkan (hanyalah) lapar dan dahaga. Dan betapa banyak orang yang melakukan qiyamullail, namun bagian yang ia dapat hanyalah bergadang malam.” (Riwayat Ahmad, An-Nasa`i, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan melakukan itu, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (Riwayat Bukhari).

Jangan sampai Ramadhan tahun ini berlalu dan kita tidak mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dijanjikan bagi mereka yang berpuasa pada bulan ini dengan penuh keimanan dan hanya mengharap balasan dari Allah. Karena itu merupakan kerugian yang nyata. Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقِيَ الْمِنْبَرَ ، فَقَالَ : ” آمِينَ ، آمِينَ ، آمِينَ ” ، فَقِيلَ لَهُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا كُنْتَ تَصْنَعُ هَذَا ؟ فَقَالَ : ” قَالَ لِي جِبْرِيلُ : أَرْغَمَ اللَّهُ أَنْفَ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ دَخَلَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَقُلْتُ : آمِينَ . ثُمَّ قَالَ : رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا لَمْ يُدْخِلْهُ الْجَنَّةَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ . ثُمَّ قَالَ : رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أَوْ بَعُدَ ، ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ ، فَقُلْتُ : آمِينَ

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar dan mengatakan : Amin, amin, amin. Maka ditanyakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, apa yang anda lakukan?” Beliau menjawab: “Malaikat Jibril berkata kepadaku: Semoga Allah mencelakakan hamba atau menjauhkannya, (yaitu) orang yang  mendapatkan bulan Ramadan, tetapi dirinya tidak mendapatkan ampunan. Maka aku pun berkata: “Amin.” Kemudain (Jibril) mengatakan: “Celakalah seorang hamba atau dijauhkan, (yaitu) orang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah salah satu dari keduanya, akan tetapi hal itu  tidak memasukkannya ke surga.” Maka aku pun mengatakan, “Amin”. Kemudian (Jibril) mengatakan lagi: “Semoga Allah mencelakakan seorang hamba atau menjauhkannya, dimana ketika disebutkan namaku, tetapi dia tidak bershalawat kepada engkau.” Maka akupun berkata “Amin.’ (Riwayat Tirmizi, Ahmad dan Ibnu Khuzaimah).

Semoga kita tidak termasuk yang menyia-nyiakan kesempatan Ramadhan yang Allah anugerahkan kepada kita yang mungkin saja adalah Ramadhan terakhir, dengan mengisinya dengan segala amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Wallahu a’lam bish shawab.

KH Bachtiar Nasir