Artikel

Kurir Ar-Rahman: Mengantarkan Cinta, Mendidik Kebahagiaan

Oleh:

Ridwan Hakim, Lc, M.E.*

 

Ar-Rahman adalah bagian dari Asmaul Husna yang menjadi salah satu nama surat dalam Al-Qur’an. Ar-Rahman merupakan bentuk superlatif dari kata rahmat yang artinya menurut Buya Hamka adalah kasih, sayang, cinta dan pemurah. Para mufassir menyebutkan bahwa rahmat Allah ﷻ yang terkandung dalam nama Ar-Rahman adalah berkenaan dengan kasih sayang yang luas. Rahmat ini meliputi seluruh makhluk dalam dimensi kehidupan dunia. Berbeda dengan rahmat yang terkandung dalam nama Ar-Rahim; ia berkenaan dengan kasih sayang Allah ﷻ yang abadi tak berakhir bahkan memuncak pada kehidupan akhirat.

Lalu apa saja bentuk kasih sayang Ar-Rahman? Mari kita lihat firman Allah ﷻ pada ayat-ayat pembuka dalam surah Ar-Rahman:

ٱلرَّحۡمَـٰنُ ۝١ عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ ۝٢ خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ ۝٣ عَلَّمَهُ ٱلۡبَیَانَ۝٤

“Ar-Rahman,Yang telah mengajarkan Al-Qur’an, menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara.”

 

  • Pengajaran adalah bagian dari Bentuk Rahman Allah ﷻ

Manifestasi dari nama Allah ﷻ Ar-Rahman adalah pengajaran Al-Qur’an; baru kemudian, penciptaan manusia. Setelahnya adalah pengajaran bahasa yang digunakan manusia untuk memahami, menyimpan dan menyampaikan data dan informasi antar sesama manusia.

Dari tiga perbuatan Allah ﷻ Ar-Rahman, dua di antaranya adalah pengajaran ilmu (‘allama). Ilmu pertama adalah Al-Qur’an yang merupakan bentuk rahmat paling utama diberikan kepada semua manusia. Al-Qur’an merangkum semua ilmu tentang hakikat alam semesta yang ditundukkan untuk manusia agar menjadi fasilitas dalam menjalankan peran mereka sebagai khalifah. Di dalamnya terdapat juga ilmu tentang syariat perintah Allah ﷻ yang merupakan manual prosedur dan intruksi kerja manusia sebagai hamba dan khalifah. Terakhir, ilmu yang paling berharga adalah pengenalan tentang Allah ﷻ serta semua dimensi akhirat; walau ini merupakan perkara gaib di luar dimensi keduniaan manusia, namun justru semua itulah masa depan paling pasti yang harus dikenali.

Ilmu kedua yang diajarkan Allah ﷻ Ar-Rahman adalah al-bayan dimana para mufassir menginterpretasikannya menjadi bahasa; yakni kemampuan memahami tanda atau membuat tanda untuk menjelaskan sebuah pesan. Dalam dimensi kehidupan dunia, tidak ada makhluk yang memiliki kemampuan ini selain manusia; hal ini bahkan sudah menjadi pembahasan penelitian yang mengungkap perbedaan unik manusia dengan hewan[1]. Tentu saja rahmat Allah ﷻ ini merupakan fasilitas khusus bagi manusia untuk menjalankan perannya sebagai khalifah. Dengan bahasa (al-bayan) ini mereka mampu membuat peradaban memakmurkan bumi dengan memahami pesan wahyu serta pesan dari sejarah generasi sebelumnya.

Dalam menjelaskan tafsir kata ‘al-bayan’ disini, Teungku Hasbi Ash-Shiddieqy menuliskan: “Manusia dalam hidup di dunia ini tidak bisa hidup sendirian, dia memerlukan masyarakat. Oleh karena itu dia memerlukan bahasa sebagai alat penghubung (komunikasi) antara dia dengan masyarakatnya dan alat untuk memelihara ilmu yang diterimanya dari orang-orang sebelumnya untuk disampaikan kepada orang-orang sesudahnya”.

 

  • Peran Pengajaran untuk Kesempurnaan Manusia

Lalu bagaimana dengan perihal penciptaan manusia yang merupakan manifestasi kedua dari nama Ar-Rahman?

Tentu saja keberadaan manusia tak akan memiliki arti dan manfaat tanpa dua unsur manifestasi lainnya. Tidak akan sempurna penciptaan manusia tanpa pengajaran dua ilmu di atas. Walaupun dalam kaitannya dengan kesempurnaan manusia, ada perbedaan fungsi dari kedua ilmu ini; yang satu adalah ‘tujuan’ sedangkan yang lainnya adalah ‘alat’.

Pengajaran ilmu Al-Qur’an adalah tujuan yang harus dicapai oleh manusia, sedangkan ilmu bahasa (al-bayan) adalah alat yang diberikan oleh Allah ﷻ agar digunakan manusia untuk bisa mengolah data-data informasi Al-Qur’an. Dengan keduanya, manusia mendapatkan kesempatan untuk berikhtiyar untuk mencapai kesempurnaan penciptaannya; hingga terhimpunlah rahmat terbesar Allah ﷻ Ar-Rahman di dimensi kehidupan dunia dan  Ar-Rahim di dimensi kehidupan akhirat. Hal ini berdasarkan penjelasan Al-Alusi dalam tafsirnya; Ruhul Ma’ani, dimana beliau mengemukakan sebuah opini yang menjawab kenapa pengajaran Al-Qur’an didahukan dari penciptaan manusia, lalu kemudian alasan penyebutan al-bayan:

لأنه مشير إلى الغاية من خلق الإنسان وهو كماله… لأن البيان هو الذي به يتمكن عادة من تعلم القرآن وتعليمه…

Karena ia (pengajaran Al-Qur’an) menunjukkan kepada tujuan dari penciptaan manusia, dan itulah kesempurnaannya (sebagai manusia)… Penyebutan al-bayan adalah karena dengannya-lah (manusia) mampu belajar dan mengajarkan Al-Qur’an.

Begitu pentingnya pengajaran bagi manusia hingga Allah ﷻ menisbatkannya langsung kepada diri-Nya pada surah Ar-Rahman ini. Dalam pandangan lahiriah manusia, memang mereka tidak mendapatkan pengajaran langsung dari Allah ﷻ. Namun para nabi dan rasul mendapatkannya langsung dari Allah ﷻ, bahkan sejak nabi pertama; Adam as, dalam surah Al-Baqarah ayat 31:

وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِی بِأَسۡمَاۤءِ هَـٰۤؤُلَاۤءِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِینَ

Dan Dia (Allah ﷻ) ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”

Bila Adam as sebagai manusia sekaligus khalifah pertama diajarkan langsung oleh Allah ﷻ, maka generasi manusia pada ratusan bahkan ribuan tahun sepeninggalnya juga harus mendapatkan pengajaran ilmu. Para Nabi dan Rasul pun kemudian diutus agar menjadi perantara pengajaran Allah ﷻ yang akan menuntun manusia kepada kesempurnaan mereka. Dalam surah Al-Baqarah ayat 151 Allah ﷻ berfirman:

كَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا فِیكُمۡ رَسُولࣰا مِّنكُمۡ یَتۡلُوا۟ عَلَیۡكُمۡ ءَایَـٰتِنَا وَیُزَكِّیكُمۡ وَیُعَلِّمُكُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَیُعَلِّمُكُم مَّا لَمۡ تَكُونُوا۟ تَعۡلَمُونَ

Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu (tazkiyah), dan mengajarkan kepadamu (taklim) Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.

 

  • Guru; Penerus Tugas Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ adalah nabi terakhir yang mendapatkan pengajaran Al-Qur’an secara langsung melalui wahyu. Tugas beliau adalah menjadi perantara pengajaran Allah ﷻ terkait Al-Qur’an dan Sunnah. Lebih spesifik bahkan beliau ﷺ menyebut bahwa dirinya adalah guru (mu’allim). Dalam sebuah Hadith beliau ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا

“Sungguh, aku hanya diutus sebagai muallim (guru/pengajar)”, (HR. Ibnu Majah & Ad-Darimi).

Demikianlah peran dan tugas pengajaran manusia; asalnya adalah oleh Allah ﷻ Ar-Rahman hingga akhirnya diemban oleh guru (mu’allim). Rasulullah ﷺ model terbaik dari umat manusia yang memerankan pengajaran ini. Hanya saja beliau ﷺ telah selesai sempurna menunaikan amanah mengajarkan kepada umat manusia hal-hal pokok dan inti wahyu. Pengajaran itu dikemas dengan bahasa dan bahasan yang sesuai dengan zamannya hingga dapat dipahami bahkan diajarkan kembali oleh murid-murid beliau ﷺ, setelah wafatnya.

Wafatnya Rasulullah ﷺ tentu adalah peristiwa kesedihan besar bagi seluruh umat. Tapi peristiwa itu bukanlah masalah bagi pengajaran Al-Qur’an, karena estafet amanah dari Allah ﷻ ini telah diwariskan kepada seluruh umat. Rasulullah ﷺ memaklumatkan pada khutbah perpisahannya:

ألا ليبلغ الشاهد منكم

Ketahuilah, hendaknya yang hadir dari kalian menyampaikan kepada yang tidak hadir. (HR. Bukhori)

Maklumat ini menjadi landasan penting yang harus mendasari tugas seorang guru, dimana Rasulullah ﷺ sendiri yang langsung menugaskan tugas pengajaran ini. Imam Bukhari yang meriwayatkan hadith ini bahkan memberikan judul bab untuk menjelaskan kandungannya: “Bab Hendaknya Asy-Syahid (Yang Menyaksikan/ Mengetahui) akan Ilmu ini Menyampaikan kepada Al-Ghaib (Yang Tidak Hadir/ Tidak Mengetahui)”.

Manusia hari ini tidak akan mengalami pengajaran Allah ﷻ Ar-Rahman secara langsung seperti para Nabi, tidak juga akan mengalami pengajaran Rasulullah ﷺ secara langsung seperti para sahabat. Tapi bukan berarti manusia terputus dari manifestasi kasih sayang Ar-Rahman yang sudah kita jelaskan di atas. Disinilah urgensi dan kemuliaan peran Guru berkarakter asy-syahid, yang mengetahui dengan betul-betul seakan menyaksikan kebenaran ilmu; mereka mendapatkan mandat legal dari Rasulullah ﷺ untuk meneruskan ilmu ini kepada generasi-generasi manusia seterusnya.

Kalau misi diutusnya Rasulullah ﷺ adalah sebagai guru, lalu kemudian beliau juga memberi mandat pengajaran ini kepada setiap guru yang asy-Syahid, maka keberadaan peran guru-guru tersebut adalah bentuk rahmat Allah ﷻ kepada alam semesta. Perhatikan kaitan antara sabda Rasulullah ﷺ yang menyatakan bahwa beliau diutus hanya sebagai guru (mua’llim)  dengan pesan Allah ﷻ yang terkandung dalam firman-Nya di surah Al-Ankabut ayat 107:

﴿وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا رَحۡمَةࣰ لِّلۡعَـٰلَمِینَ﴾

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.

 

  • Guru Mengantarkan Cinta

Bila diperhatikan dari sejak pemaparan awal tulisan ini, kita bisa mendapati bahwa ayat-ayat pembuka surah Ar-Rahman harusnya memberikan sebuah kesadaran. Kesadaran akan manifestasi kasih sayang Ar-Rahman dalam kehidupan kita; dimana pengajaran ilmu ternyata adalah hal terbesar dari-Nya. Tak hanya itu, peran pengajaran ilmu juga adalah manifestasi berkah diutusnya Rasulullah ﷺ yaitu Rahmatan Lil ‘Alamin.

Kesadaran ini penting untuk membuat kita menghargai peran guru yang melaksanakan pengajaran. Bahwa hakikatnya segala ilmu yang kita ketahui bersumber dari Allah ﷻ Ar-Rahman dan juga Rasul Rahmatan Lil ‘Alamin ﷺ. Namun ada pengantar yang menjadi perantara antara pengetahuan kita dengan sumber itu; dialah guru. Guru ibarat kurir rahmat dalam setiap pengajarannya. Dalam proses pengiriman atau pengajaran ini ada tiga aspek yang bisa diperhatikan oleh seorang guru sebagai kurir Ar-Rahman; aspek hubungan dengan pengirim dan penerima, serta aspek amanah pengantaran atau pengemasan paket ilmu yang diantar.

Pertama, aspek komunikasi sang kurir dengan sang pengirim. Kurir adalah wakil resmi dari pengirim. Apa jadinya kalau kurir sama sekali tidak punya saluran komunikasi dengan pengirim. Jika demikian, maka kurir ini bisa dipastikan bukan mengantar paket yang benar, atau bahkan dia hanya modus sebagai kurir padahal penipu yang meminta upah pengantaran kepada penerima.

Oleh karena itu, guru haruslah punya hubungan spesial yang melegitimasi perannya sebagai pengantar rahmat ilmu dari Allah ﷻ. Guru yang bathinnya tidak terhubung dengan Allah ﷻ akan membawa rahmat atau ilmu palsu. Sebagaimana guru yang lahiriahnya tidak berkesesuaian dengan syariat akan membuat ragu penerima paket untuk mengambil paket rahmat ilmu darinya.

Aspek kedua adalah komunikasi sang kurir dengan penerima. Kurir haruslah memegang alamat dan mempelajari medan yang harus ditempuh agar paket sampai kepada penerima. Bahkan sebagai antisipasi, kurir haruslah punya saluran komunikasi dengan penerima. Dalam hal guru sebagai kurir Ar-Rahman hendaknya demikian adanya. Murid-murid pada hakikatnya adalah penerima paket, yang bisa jadi ada hubungan ketaqwaan yang spesial dan dekat antara mereka dengan Allah ﷻ, hingga seorang guru diutus untuk mengajarinya. Ingat firman Allah  ﷻ di surah Al-Baqarah ayat 282:

وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۖ وَیُعَلِّمُكُمُ ٱللَّهُۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَیۡءٍ عَلِیمࣱ

Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Terakhir adalah aspek pengantaran paket ilmu. Kurir semestinya mengantarkan keseluruhan paket, mau diterima ataupun tidak, yang jelas ia harus tersampaikan. Kurir juga tidak boleh menambahkan hal-hal yang bukan bagian dari paket lalu dikatakan bahwa itu adalah dari pengirim. Namun kurir bisa berinisiatif dalam memilih wadah penyimpanan dan moda tranportasi pengantaran. Demikian juga halnya dalam proses pengantaran rahmat ilmu dari Allah swt haruslah murni dan terjaga dari distorsi. Walaupun seorang guru juga harus bisa berinovasi dalam media dan cara pengemasan serta metode pengajaran yang sesuai dengan murid atau penerima ilmu.

 

  • Guru Mendidik Kebahagian

Peran Rasulullah ﷺ sebagai sebagai guru yang mengajarkan Al-Qur’an adalah rahmat terbesar bagi manusia dan alam semesta. Hanya saja pengajaran Rasulullah saw bukanlah sekedar membawa data-data atau memberi tahu pengetahuan yang bersifat kognitif; menjadikan murid dari tidak tahu menjadi tahu. Namun Rasulullah saw ditugaskan juga untuk menyentuh aspek apektif dengan menjadikan murid dari tidak mau menjadi mau. Kalau pengetahuan adalah ranah akal pikiran yang rasional, maka kemauan adalah ranah hati perasaan yang emosional.

Tugas Rasulullah saw dirinci, bahwa al-Qur’an yang dibaca (tilawah) harus dilanjutkan proses yang membuat umat mengetahui kebenaran Allah swt (taklim) lalu kemudian proses yang menjadikan mereka menginginkan kebenaran tersebut (tazkiyah). Mengetahui sesuatu itu benar belum tentu menjadikan seseorang menginginkannya. Padahal kebahagiaan itu hanya dapat terjadi ketika keinginanlah yang terwujud, bukan sekedar kebenaran. Kebahagiaan itu akan sempurna dunia akhirat adalah saat yang kita inginkan adalah kebenaran, saat yang mengendalikan emosional kita adalah hal yang rasional. Itulah mengapa dua proses ini harus dijalankan oleh Rasulullah saw; taklim dan tazkiyah.

Maka setiap guru tidak cukup menjadi pribadi yang benar, karena ini hanya aspek kognitif dari proses taklim. Guru juga harus menjadi pribadi yang baik bahkan paling baik di mata murid-muridnya hingga mereka tidak hanya memahami kebenaran dari pengajaran tapi juga merasakan kebaikan yang menyentuh emosional mereka. Dengannya, lengkaplah proses taklim dan tazkiyah seorang guru yang tidak hanya mengantarkan kebenaran tapi juga mendidik kebahagiaan hakiki sang murid.

Buya Hamka mengatakan dalam tafsirnya: “Rahmat ilahi yang utama ialah ilmu pengetahuan yang dianugrahkan Allah swt kepada kita manusia. Mengetahui adalah suatu kebahagiaan, apatah lagi kalau yang diketahui itu Al-Qur’an”.

Daftar Pustaka

Ad-Darimi, Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman. Musnad (Sunan) Ad-Darimi. Saudi Arabia, Darul Mughni, 2000, https://app.turath.io/book/21795.

Al-Alusi, Syihabuddin Mahmud bin Abdullah. Ruhul Ma’ani. Edited by Ali Abdul Bari Athiah, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1994 / 14 15 H. turath.io, https://app.turath.io/book/22835.

Al-Bukhori, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail. Shahih Al-Bukhori. Edited by Muhammad Zuhair An-Nashir, Daar Thauq An-Najaa, 2002 / 1422 H. turath.io, https://app.turath.io/book/1681.

Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nur. 4 ed., vol. 4, Semarang, Pustaka Rizki Putra, 2016.

Busro, Muh. “BAHASA DAN PIKIRAN.” El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama, vol. 3, no. 1, 2016, pp. 48-56. http://ejournal.kopertais4.or.id/mataraman/index.php/washatiya/article/view/2006.

Hamka. Tafsir Al-Azhar: Diperkayakan Dengan Pendekatan Sejarah, Sosiologi, Tasawuf, Ilmu Kalam, Sastra, Dan Psikologi. 4 ed., vol. 8, Depok, Gema Insani, 2015.

Ibnu Majah, Abu Abdillah Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah. Edited by Syu’aib al Arnaut, Daar Ar-Risalah al-Alamiah, 2009. turath.io, https://app.turath.io/book/98138.

[1] Busro, Muh. “BAHASA DAN PIKIRAN.” El-Wasathiya: Jurnal Studi Agama, vol. 3, no. 1, 2016, pp. 48-56.

*Penulis ada juara ketiga pada Lomba Menulis Artikel Ilmiah Populer yang diselenggarakan AQL Islamic School dalam rangka Hari Guru Nasional ke-28 tahun 2022.