Tadzkirah

Tauhid, Sumber Keberkahan

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim ayat 35).

Dulunya adalah tempat yang kata orang gersang dan tandus. Tempat ini adalah tempat dimana AAdam Alaihissalam bersandar manakala gelisah menghinggapi hatinya, lalu kemudian beliau menjadi tenang. Tempat ini juga dimana Ibrahim Alaihissalam meninggalkan istri dan buah hati yang lama diinginkannya karena perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun, ia justru menjadi tenang. Tempat ini juga dimana Rasulullah Muhammad saw dibesarkan dan memulai dakwahnya yang penuh tantangan. Sekarang, tempat ini adalah wilayah yang tidak pernah sepi dalam 24 jam putaran jam sehari. Tempat dimana jutaan manusia dari seluruh dunia berkumpul dan menjadi tempat yang diincar oleh berbagai negara di dunia ini untuk menguasainya.

Inilah Mekkah, tanah suci yang menjadi doa dan harapan bagi sebagian besar umat Islam bahkan umat manusia untuk bisa menjejak di atasnya. Rahasia kemakmuran dan keberkahannya tak lain adalah doa dari Nabi Ibrahim as.

Lalu, apa yang menjadikan doa Nabi Ibrahim itu terkabul dan terus membawa berkah? Maka, jawabannya tak lain adalah Laa Ilaaha Ilallah wahdahu laa syarikalah lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syain qadir. Itulah tauhid. Rahasia paling berharga dari semua perkara hidup. Sumber dari segala berkah dan rahmat yang kita harapkan dari Allah Ta’ala setiap saat dalam hidup kita. Kalimat ini pula yang menjadi dzikir yang paling banyak dibaca Rasulullah saw selama wukuf di Arafah.
“Barangsiapa mengucapkan LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAH LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) dalam sehari seratus kali, itu sama pahalanya dengan membebaskan sepuluh hamba sahaya dan dituliskan untuknya seratus kebaikan, serta dihapuskan dari dirinya seratus kejelekan (dosa).

Dzikir itu juga penjaga dirinya dari gangguan setan pada hari itu sampai sorenya. Dan tidak ada seorang pun yang datang membawa amal yang lebih baik daripada yang ia bawa, kecuali ada orang yang beramal lebih banyak daripada dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa makna dari dzikir yang merupakan salah satu dzikir yang disukai Allah Azza Wajalla ini?

Pertama, LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH (tiada sembahan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya). Kalimat ini merupakan kalimat yang fundamental dalam Islam. Penafikan adanya tuhan lain yang disembah kecuali Allah Ta’ala. Hanya Dia Yang berhak untuk disembah dan tidak ada sekutu yang sebanding dengan-Nya. Allah Ta’ala berfirman dalam Qs. Al-Ikhlas ayat 1-4

“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Kedua, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU (milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian). Kalimat ini merupakan pernyataan sebagai konsekuensi seorang penyembah (hamba) yaitu mengakui bahwa Allah Azza Wajalla adalah Pemilik segala kekuasaan. Juga, bagi-Nyalah segala pujian tentang segala kebaikan yang ada di langit dan di bumi. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Mulk ayat 1, “Mahasuci Allah yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Ketiga, WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (Bagian terakhir dari dzikir ini mengakui kekuasaan Allah yang mutlak atas segala sesuatu. Allah Azza Wajalla berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 284, “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu melahirkan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.

Maka, Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Refleksi Tauhid
Dzikir ini merupakan pemasrahan kita atas keesaan Allah dan hak-Nya untuk disembah, serta mengatur kita dengan kekuasaan-Nya; tanpa batas. Jika kalimat dzikir ini adalah yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah saw ketika wukuf yang merupakan puncak haji, maka haji sejatinya adalah puncak pengakuan tauhid. Semua prosesi ritual yang ada di dalam haji adalah refleksi tauhid yang sangat dalam maknanya.

Wukuf adalah miniatur suasana di hari akhir. Manakala manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar, dari penciptaan manusia di zaman Nabi Adam as, hingga umat manusia terakhir yang berada di barisan Rasulullah Muhammad saw. Di sinilah kita bertemu dengan Allah Azza Wajalla dan menjalani sidang pertanggungjawaban. Karenanya, wukuf adalah puncak haji. Moment yang mengingatkan bahwa kelak kita akan bertemu dan mempertanggungjawabkan hidup di dunia pada Allah Al-Hasib.

Jumrah juga merupakan simbol pembersihan hati dari godaan setan. Menghadirkan kembali suasana ketika Nabi Ibrahim as melempari setan yang hendak menggoyahkan ketaatannya untuk melaksanakan perintah menyembelih Ismail as.

Ketaatan yang seringkali harus dicapai dengan effort yang luar biasa, layaknya yang dilakukan oleh Hajar untuk mendapatkan air untuk Ismail. Namun, seberapa jauh pun Hajar berlari antara Safa dan Marwa, air zam-zam memancar di bawa kaki Ismail yang diletakkan di depan Ka’bah. Artinya, seperti apa pun kita bekerja keras, memberikan upaya terbaik untuk kebaikan hidup; segala sesuatunya tetap akan berpulang pada ridha dan ketentuan Allah Ta’ala. Jadikan dia sebagai tujuan dan sebab melakukan segala upaya terbaik itu. Jika tidak, maka yang akan kita dapatkan hanyalah kelelahan yang tidak pernah usai.

Begitu pun seluruh prosesi yang harus dilakukan selama haji. Semuanya adalah “medan juang” untuk memurnikan kembali tauhid kita kepada Allah Azza Wajalla. Untuk kembali menyadari bahwa kita sejatinya adalah hamba. Tujuan dan sebab kita ada adalah tauhid. Dan, apa yang kita miliki adalah fasilitas yang Allah Ta’ala berikan untuk semakin mengenal-Nya dan taat kepada-Nya.*

Exit mobile version