Tadzkirah

Ketika Keikhlasan Membuat Amal Berumur Panjang

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

SEGALA puji bagi Allah SWT yang menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya dengan penuh hikmah. Tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang sia-sia. Hamparan alam, termasuk hewan-hewan ternak yang memberikan kehangatan, manfaat, bahkan keindahan bagi manusia, semestinya menjadi tanda yang menuntun hati untuk semakin mengenal kebesaran dan kasih sayang Allah SWT.

Namun, manusia kerap lupa. Makhluk yang diciptakan dari setetes air itu terkadang justru berubah menjadi pembantah yang nyata di hadapan Tuhannya. Nikmat yang seharusnya melahirkan syukur malah tidak jarang menumbuhkan kesombongan.

Kesombongan adalah salah satu penyakit hati yang dapat membuat manusia lupa kepada asal-usul dirinya. Ketika seseorang merasa mulia karena nasab, jabatan, harta, ilmu, atau kekuasaan, ia sesungguhnya sedang berada di ambang bahaya. Sebab, di hadapan Allah SWT, ukuran kemuliaan bukanlah apa yang melekat pada seseorang secara lahiriah, melainkan ketakwaan dan amal salehnya.

Rasulullah SAW mengingatkan, “Siapa yang diperlambat oleh amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” Pesan ini menjadi pengingat bahwa garis keturunan, kedudukan, maupun nama besar tidak dapat menggantikan kualitas amal seseorang.

Kemuliaan tidak diwariskan begitu saja. Ia harus diperjuangkan melalui ketakwaan.

Karena itu, perjalanan panjang sebuah lembaga pendidikan Islam dapat menjadi cermin penting tentang bagaimana amal yang dikerjakan dengan ikhlas mampu melampaui usia para pendirinya.

Pondok Modern Darussalam Gontor, yang berdiri pada 1926 dan kini memasuki usia satu abad, merupakan salah satu contoh menarik. Lembaga pendidikan ini lahir pada masa penjajahan Hindia Belanda, ketika pendidikan Islam menghadapi berbagai keterbatasan dan pengawasan. Namun, perjalanan waktu justru menunjukkan bahwa sebuah amal yang dibangun dengan keikhlasan dapat bertahan melewati pergantian zaman.

Pertanyaannya, apa yang membuat sebuah amal mampu berumur panjang?

Jawabannya bukan semata-mata karena kekuatan manusia. Ada keikhlasan yang menjadi fondasi dan keberkahan yang Allah SWT karuniakan.

Para pendiri Gontor tidak meletakkan lembaga tersebut sebagai kerajaan pribadi atau sarana membangun kekayaan keluarga. Di tengah keterbatasan yang mereka hadapi, harta dan tanah justru diwakafkan untuk kepentingan umat dan perjuangan pendidikan Islam.

Di sinilah kita menemukan makna penting sebuah wakaf. Harta yang berada dalam genggaman manusia pada hakikatnya bersifat sementara. Tetapi ketika harta itu dilepaskan dengan ikhlas di jalan Allah SWT, manfaatnya dapat terus mengalir jauh melampaui usia pemiliknya.

Keikhlasan juga berarti tidak menjadikan amal sebagai kendaraan untuk mengejar kepentingan pribadi. Ketika sebuah perjuangan tidak dibangun untuk syahwat kekuasaan, popularitas, atau penumpukan kekayaan, ia memiliki ruang yang lebih luas untuk tumbuh menjadi kemaslahatan.

Allah SWT telah menjanjikan balasan terbaik bagi orang-orang yang berbuat ihsan. Dalam Surah Ash-Shaffat ayat 110-113, Allah SWT menunjukkan bagaimana kebaikan yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya mendapatkan balasan dan keberkahan. Kisah Nabi Ibrahim AS juga memperlihatkan bagaimana keimanan dan penghambaan yang tulus melahirkan keberkahan yang terus diwariskan melalui generasi.

Dari sini kita belajar bahwa panjangnya usia sebuah amal tidak selalu ditentukan oleh besarnya modal yang dimiliki. Tidak pula semata-mata oleh kuatnya nama atau besarnya kekuasaan.

Yang lebih menentukan adalah untuk siapa amal itu dilakukan.

Jika sebuah perjuangan dibangun untuk kepentingan diri sendiri, ia akan berhenti ketika kepentingan itu berakhir. Tetapi jika ia dibangun karena Allah SWT, manfaatnya dapat terus hidup meski orang-orang yang memulainya telah tiada.

Itulah sebabnya orang-orang yang ikhlas tidak terlalu sibuk memastikan namanya dikenang. Mereka lebih sibuk memastikan kebaikannya terus berlangsung.

Harta yang kita miliki akan berpindah tangan. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan meredup. Bahkan tubuh yang hari ini kuat suatu saat akan kembali menjadi tanah.

Namun, amal yang ikhlas memiliki jalan yang berbeda. Ia dapat menjadi ilmu yang diwariskan, pendidikan yang melahirkan generasi, masjid yang terus digunakan, wakaf yang terus memberi manfaat, atau kebaikan yang menggerakkan kebaikan lainnya.

Maka, sebelum bertanya apakah amal kita akan dikenang manusia, barangkali lebih penting bertanya: apakah amal kita diterima Allah SWT?

Sebab, yang membuat sebuah amal panjang umur bukanlah tepuk tangan manusia, melainkan keberkahan dari Allah SWT.

Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari kesombongan, menjauhkan kita dari ambisi yang berlebihan terhadap dunia, dan menganugerahkan keikhlasan dalam setiap amal. Semoga harta, ilmu, tenaga, dan usia yang Allah titipkan kepada kita dapat menjadi jalan kemaslahatan bagi sesama dan menjadi bekal yang terus mengalir pahalanya setelah kita meninggalkan dunia.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Exit mobile version