Jangan Remehkan Maksiat

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah SWT berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Surat As-Syura [42]: 30).
Sebagaimana ketaatan kepada Allah Ta’ala mempunyai pengaruh yang baik dan manfaat yang banyak terhadap diri dan jiwa seorang mukmin. Maka begitu juga setiap dosa dan maksiat yang kita lakukan juga mempunyai pengaruh dan akibat yang buruk bagi seorang mukmin. Sungguh maksiat dan dosa yang kita lakukan setiap hari mempunyai pengaruh dan akibat yang menghancurkan dan merugikan kita baik di dunia maupun di akhirat .
Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan beberapa akibat dari perbuatan dosa dan maksiat itu dalam kitabnya al-Jawab al-kafi liman sa`ala ‘an dawa` al-syafi, di antaranya adalah:
- Terhalangi mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Karena ilmu itu adalah cahaya yang dipancarkan Allah Ta’ala ke dalam hati seorang hamba, dan maksiat memadamkan cahaya itu. Karena itulah Imam Malik ketika melihat kecerdasan Imam Syafi`i yang merupakan muridnya, berkata kepadanya, “Saya melihat bahwa Allah telah memancarkan cahaya ke dalam hatimu, maka janganlah kamu memadamkannya dengan kegelapan maksiat.”
- Terhalangi mendapatkan rezekinya. Dalam Musnad Imam Ahmad diriwayatkan:
عَنْ ثَوْبَانَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ ، وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إِلَّا الْبِرُّ
Dari Tsauban, ia berkata, “Rasulullah SAW. bersabda: Sesungguhnya seseorang terhalang dari rezekinya karena sebab dosa yang diperbuatnya, hanya doa yang dapat mengubah takdir dan hanya kebaikan yang dapat menambah usia.” (Riwayat Ahmad).
- Pelaku maksiat akan merasakan kegersangan jiwa terhadap Tuhannya sehingga ia tidak merasakan kenikmatan bersama Allah SWT. Padahal kenikmatan ini tidak bisa dinilai dengan kenikmatan duniawi apapun. Bahkan, jika semua kelezatan duniawi disatukan tidak akan bisa mengobati kekeringan jiwa pelaku maksiat ini.
- Pelaku maksiat akan menemukan kesulitan dalam urusannya. Sebagaimana Allah memudahkan urusan hamba-Nya yang bertaqwa. Maka ia juga menyulitkan urusan hamba-Nya yang selalu bermaksiat kepada-Nya. Dan kehidupannya akan terasa sempit karena jauh dari mengingat Allah SWT.
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (Surat Thaha [20]: 124).
- Pelaku maksiat akan mendapatkan kegelapan di hatinya seperti kegelapan di malam hari. Karena ketaatan itu adalah cahaya sedangkan maksiat itu adalah kegelapan bagi hati. Jika kegelapan itu semakin kuat maka ia akan semakin bingung sehingga jatuh ke dalam perbuatan bid’ah, kesesatan dan hal-hal yang membinasakannya meskipun ia tidak merasakannya. Ibnu Abbas mengatakan bahwa kebaikan itu adalah sinar di wajah, cahaya di hati, kelapangan dalam rezeki, kekuatan dalam fisik dan kecintaan di hati para makhluk. Sedangkan, keburukan itu adalah bekas hitam di wajah, kegelapan di hati, kelemahan pada badan, kekurangan dalam rezeki dan kebencian di hati para makhluk.
- Tidak diberi hidayah untuk melakukan ketaatan sehingga disebabkan oleh suatu maksiat ia tidak melakukan banyak ketaatan yang setiap ketaatan itu lebih baik dari dunia dan segala isinya. Hal itu seperti seseorang yang memakan makanan yang menyebabkan ia sakit lama sehingga menghalanginya untuk menikmati banyak makanan yang lebih lezat dan baik dari makanan yang ia makan.
- Perbuatan maksiat akan menimbulkan maksiat-maksiat yang lain sehingga susah bagi pelakunya untuk meninggalkannya. Sebagian ulama mengatakan bahwa diantara balasan melakukan kejahatan itu adalah dimudahkan melakukan kejahatan lagi setelahnya, dan di antara balasan melakukan kebaikan adalah diberi hidayah melakukan kebaikan lagi setelahnya.
- Perbuatan maksiat itu akan melemahkan kemauan hati, dan menguatkan kemauan untuk terus bermaksiat serta melemahkan kemauan untuk bertaubat sehingga kalau terus diikuti maka akan menghapuskan kemauan bertaubat itu dari hatinya.
- Akan hilang dari hati para pelaku maksiat itu pandangan buruk dan benci terhadap maksiat itu sehingga hal itu menjadi kebiasaanny. Sehingga ia tidak lagi memperdulikan pandangan dan omongan jelek orang terhadap dirinya. Bahkan ia akan melakukan maksiat itu secara terang-terangan dan membanggakannya di depan orang banyak. Dan orang yang melakukan itu tidak akan diampuni oleh Allah SWT.
عن أَبِى هُرَيْرَةَ ، يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ ، فَيَقُولَ : يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Semua umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan (mkasiat) pada waktu malam dan Allah telah menutupinya, lalu ketika pagi dia mengatakan : “Hai Fulan, kemarin aku melakukan ini dan itu”, padahal pada waktu malam Allah telah menutupinya, namun ketika masuk waktu pagi dia membuka tirai Allah terhadapnya”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
- Dosa yang semakin banyak dilakukan seseorang, maka itu akan dicapkan pada hatinya sehingga ia menjadi orang yang lalai.
كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka” (Surat Al-Muthaffifin [83]: 14).
Ketika menafsirkan ayat ini, Hasan al-Basri menjelaskan bahwa itu maksudnya adalah perbuatan dosa demi dosa yang dilakukan sehingga membutakan hati seseorang.
- Perbuatan maksiat juga akan menghilangkan sifat malu yang merupakan sumber kehidupan hati seseorang dan sumber segala kebaikan, dengan hilangnya rasa malu itu maka hilang jugalah segala kebaikan dalam dirinya.
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
Abu Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi SAW. bersabda: “Sesungguhnya di antara ucapan kenabian yang telah diketahui manusia adalah; jika engkau tidak malu maka lakukan apa saja sesuai kehendakmu.” (Riwayat Bukhari).
Itulah di antara pengaruh dan akibat dari perbuatan dosa dan maksiat yang kita lakukan terhadap diri dan jiwa kita. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah SWT yang dijauhkan dari segala dosa dan maksiat, dan diberi hidayah untuk selalu melakukan ketaatan kepada-Nya. Aamiin.
Wallahu a’lam bish shawab.*