Islam Tinggal Nama

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Akan datang suatu zaman pada manusia, di mana tidak tinggal Islam kecuali namanya saja, dan tidak tinggal Al-Qur’an melainkan tulisannya belaka. Masjid-masjid dibangun megah, namun kosong dari petunjuk. Para ulama mereka adalah makhluk terburuk di bawah kolong langit. Dari mulut-mulut mereka keluar fitnah, dan fitnah itu akan kembali kepada mereka.” (HR. Al-Baihaqi)
Hadis ini bagai kilatan petir yang menggetarkan nurani. Islam—agama yang paripurna, diturunkan sebagai rahmat semesta, dan diridhai Allah hingga hari akhir—akan sampai pada masa ketika ia hanya menjadi nama yang tersisa di bibir, tidak lagi ruh yang menghidupi jiwa. Nama yang bergema di KTP, di papan institusi, di spanduk-spanduk acara, namun sirna maknanya dalam keseharian umat.
Pada masa itu, seseorang boleh saja menyebut dirinya muslim, namun perilakunya tak ubahnya seperti mereka yang jauh dari cahaya Islam. Syariat yang seharusnya menjadi pedoman ditinggalkan, hukum Allah seakan tak dikenal. Islam kembali menjadi asing, sebagaimana ia pernah datang dalam keadaan asing di tengah bangsa-bangsa.
Rasulullah saw telah mengabarkan,
“Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali pula dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim no. 145)
Tanda-Tanda Islam Tinggal Nama
Pada zaman itu, mereka yang tetap berpegang teguh pada ajaran Islam akan tampak seperti manusia yang “aneh”. Mereka berjalan melawan arus deras zaman yang mengagungkan materialisme, teknologi, dan gemerlap dunia. Islam dijadikan simbol budaya, alat politik, bahkan dipelintir demi kepentingan kelompok. Ruhnya dipaksa tunduk pada selera manusia, hingga ajaran yang sakral kehilangan cahaya.
Ada beberapa tanda yang mencolok:
Pertama, masjid menjadi monumen.
Menjulang megah dengan arsitektur memesona, namun ruhnya redup. Masjid yang seharusnya menjadi pusat kebangkitan umat terkunci di luar jam shalat. Jamaahnya sepi, hanya sesekali disinggahi orang yang singgah sebentar—sekadar formalitas, bukan pusat kehidupan rohani.
Kedua, Al-Qur’an menjadi hiasan.
Ayat-ayat Allah dibaca dengan suara merdu, dihafalkan anak-anak, bahkan diperlombakan dengan syair yang indah. Kaligrafinya dipajang, mushafnya disimpan. Namun semakin sedikit yang menelaah kandungan maknanya, apalagi mengamalkan dalam kehidupan nyata. Orang yang benar-benar hidup dengan Al-Qur’an justru dianggap asing, bahkan dicemooh.
Ketiga, ulama menjadi komoditas.
Banyak yang menguasai ilmu agama, banyak fatwa beredar di tengah masyarakat. Tapi yang lurus diabaikan, bahkan dimusuhi. Sebagian ulama justru menjadikan agama sebagai barang dagangan: lidah mereka menebar fitnah, suara mereka menjual ayat demi kepentingan dunia.
Tetap Istiqamah di Tengah Keterasingan
Inilah problematika umat hari ini. Padahal Islam sejatinya tidak pernah berubah. Hukum Allah tetap suci, tetap terjaga dari nafsu dan kepentingan manusia. Maka seorang muslim harus kembali pada hal yang paling mendasar.
Pertama, ongat selalu bahwa ada perintah yang harus dikerjakan.
Kedua, ingat selalu bahwa ada larangan yang harus ditinggalkan.
Ketiga, ingat selalu bahwa ada takdir yang harus diridhai.
Ketiganya hanya bisa dijalankan bila hati benar-benar yakin pada janji Allah dan takut pada ancaman-Nya.
Menerima takdir memang berat, sering kali tak sesuai dengan apa yang kita cita-citakan. Namun, pilihan Allah selalu yang terbaik, sementara keinginan kita belum tentu membawa kebaikan.
Menyalakan Kembali Api Keimanan
Agar langkah istiqamah tak padam, ada dua hal yang wajib diyakini:
Pertama, meyakini janji-janji Allah yang indah.
Kedua, meyakini ancaman-ancaman Allah yang tegas.
Dan untuk terus menyalakan semangat, kita harus senantiasa menatap tujuan akhir: surga. Itulah kampung halaman yang sejati, tempat kembali jiwa setelah melewati debu perjalanan dunia. Nikmatnya tak terlukiskan, keindahannya tak terbayangkan. Surga adalah rumah rindu seorang muslim—dan keridhaan Allah adalah tiket menuju ke sana.
Selama nyawa masih dikandung badan, jangan biarkan Islam hanya tinggal nama. Biarlah ia hidup dalam diri kita, menjadi cahaya dalam langkah, menjadi nafas dalam amal, dan menjadi ruh dalam doa. Maka kelak, kita tidak tercatat sebagai generasi yang hanya mewarisi nama, tapi sebagai hamba yang menjaga api Islam tetap menyala.*