Tadzkirah

Ilmu dan Kerendahan Hati

Oleh: 

KH Bachtiar Nasir 

ADA satu pertanyaan yang layak kita ajukan setelah bertahun-tahun belajar: untuk apa sebenarnya ilmu yang kita kumpulkan?

Seseorang mungkin menghabiskan sebagian besar hidupnya di pesantren, kampus, ruang-ruang kuliah, atau majelis ilmu. Gelar bertambah, buku semakin banyak dibaca, dan pengetahuan semakin luas. Namun, semua itu belum tentu membuat seseorang menjadi lebih baik.

Sebab, tujuan ilmu bukan sekadar membuat manusia tahu. Ilmu seharusnya membuat manusia semakin dekat kepada Allah SWT dan semakin bermanfaat bagi sesama.

Dr Hanafi Arsyad mengingatkan tentang pentingnya memohon ilmu yang bermanfaat. Doa itu sederhana, tetapi menyimpan pesan yang sangat dalam: Rabbi zidni ‘ilman nafi’an—Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat.

Ilmu yang bermanfaat bukan hanya ilmu yang memenuhi kepala, melainkan ilmu yang menggerakkan tangan untuk berbuat kebaikan dan melembutkan hati. Sebab, ilmu tanpa manfaat ibarat pohon yang tumbuh tinggi dan rindang, tetapi tidak pernah menghasilkan buah.

Ada ungkapan yang masyhur, khairunnas anfa’uhum linnas: sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Karena itu, ukuran keberhasilan seorang berilmu bukanlah seberapa sering ia memenangkan perdebatan. Bukan pula seberapa banyak orang yang mengaguminya. Ukurannya justru dapat terlihat dari jejak manfaat yang ditinggalkannya.

Apakah kehadirannya membuat orang lain merasa terbantu? Apakah ilmunya menghadirkan jalan keluar? Apakah perkataannya menenangkan atau justru melukai?

Di sinilah ilmu membutuhkan pasangan yang tidak boleh dipisahkan darinya: akhlak. Ketika Sayyidah Aisyah RA ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW, beliau menggambarkan bahwa akhlak Nabi adalah Alquran. Artinya, Alquran tidak berhenti menjadi bacaan. Nilai-nilainya hidup dalam sikap, perkataan, keputusan, dan perilaku Rasulullah SAW.

Maka semakin dalam seseorang mempelajari agama, semestinya semakin baik pula akhlaknya. Semakin banyak ayat yang dipahami, semakin lembut lisannya. Semakin luas pengetahuannya, semakin rendah hatinya.

Jika yang terjadi justru sebaliknya, barangkali ada yang perlu diperiksa kembali dalam perjalanan mencari ilmu. Sebab, salah satu ujian terbesar orang berilmu justru muncul ketika ia mulai merasa lebih tahu daripada orang lain.

Dari situlah kesombongan dapat tumbuh perlahan. Awalnya mungkin hanya merasa pendapat sendiri paling benar. Kemudian sulit menerima nasihat. Setelah itu mulai meremehkan orang lain. Pada akhirnya, ilmu yang seharusnya menjadi jalan menuju kerendahan hati justru berubah menjadi alasan untuk meninggikan diri.

Padahal, apa yang sebenarnya bisa kita sombongkan? Cobalah sesekali menengok perjalanan hidup ke belakang. Kita pernah tidak mengetahui apa-apa. Kita pernah mengeja huruf demi huruf. Pernah bertanya tentang sesuatu yang hari ini mungkin terasa sangat sederhana.

Kita menjadi tahu karena Allah mempertemukan kita dengan guru. Kita memahami sesuatu karena Allah memberikan kesempatan belajar. Kita mampu membaca karena ada orang yang dengan sabar mengajarkannya.

Maka semakin banyak ilmu yang dimiliki, seharusnya semakin besar pula kesadaran bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas. Ilmu sejati tidak membuat seseorang sibuk meninggikan dirinya. Ilmu justru membuatnya semakin menyadari kebesaran Allah SWT.

Karena itulah hati perlu terus dijaga. Zikir, membaca Alquran, melantunkan istighfar, serta membaca ayat-ayat perlindungan bukan sekadar rutinitas lisan. Semua itu merupakan cara seorang hamba mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia tetaplah manusia yang lemah dan membutuhkan pertolongan Allah.

Barangkali pada akhirnya pertanyaan terpenting bukanlah, berapa banyak ilmu yang telah kita pelajari?

Pertanyaannya adalah: berapa banyak manusia yang telah merasakan manfaat dari ilmu kita? Dan lebih dalam lagi: setelah sekian lama belajar, apakah ilmu itu membuat kita semakin rendah hati di hadapan Allah dan semakin baik kepada sesama?

Sebab, ilmu yang paling indah bukanlah ilmu yang membuat nama seseorang semakin tinggi di hadapan manusia.

Melainkan ilmu yang membuat dirinya semakin tunduk di hadapan Allah SWT dan kehadirannya semakin bermanfaat bagi kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawab.*

Exit mobile version