Tadzkirah

Cara Menjaga Iman di Tengah Perubahan Zaman

Oleh:

KH Bachtiar Nasir 

DALAM mengarungi kehidupan yang penuh dinamika, manusia senantiasa mencari rahmat Allah SWT. Rahmat adalah payung keteduhan yang membuat hidup menjadi lapang, tenang, dan penuh keberkahan. Namun, bagaimana sesungguhnya cara terbaik agar kita benar-benar memasuki ruang rahmat tersebut?

​Salah satu pintu utama untuk menjemput rahmat Allah adalah melalui ittiba’ atau mengikuti sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Allah SWT menegaskan hal ini dalam firman-Nya, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya: 107).

​Artinya, esensi kerasulan Muhammad SAW itu sendiri adalah rahmat. Segala yang keluar dari lisan dan teladan beliau—baik berupa perintah, larangan, maupun ketetapan hukum—adalah “paket rahmat” dari Sang Pencipta yang dirancang khusus untuk keselamatan umat manusia.

​

Menjaga Kemurnian Agama

Lebih dalam lagi, salah satu tujuan syariat (maqashid syariah) dari kewajiban mengikuti sunnah Nabi adalah untuk menjaga kemurnian agama (hifzuddin) dari berbagai penyimpangan (tahrif).

​Dalam Surah Al-Hasyr ayat 7, Allah SWT memberikan sebuah kaidah emas dalam beragama: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”

​Jika dicermati, ayat tersebut menggunakan dua kata perintah (fi’il amr) yang tegas tanpa pengecualian: terimalah dan tinggalkanlah. Di sana tidak ada klausul yang berbunyi, “apa yang disepakati oleh generasimu, maka terapkanlah” atau “apa yang masuk akal bagimu, maka kerjakanlah”.

​Beragama bukanlah sekadar mencocokkan syariat dengan selera atau kesepakatan suatu zaman. Beragama adalah ketundukan total pada apa yang didatangkan oleh Sang Utusan Allah.

​Mari kita renungkan sebuah pengandaian sederhana. Bayangkan jika setiap generasi—mulai dari generasi kolonial, milenial, hingga Gen Z saat ini—merasa berhak menyeleksi dan mengedit bagian mana dari syariat Islam yang ingin mereka terima agar sesuai dengan semangat zaman. Jika agama terus-menerus direvisi oleh akal manusia, apa yang akan terjadi 50 atau 100 tahun ke depan?

​Cepat atau lambat, agama ini akan mengalami penyimpangan. Anak cucu kita di masa depan mungkin akan mewarisi sebuah agama yang namanya tetap “Islam”, namun esensi, hukum, dan syariatnya sudah jauh berubah. Ibarat buah semangka yang dari luar tampak hijau, namun saat dibelah isinya bukan lagi merah muda yang segar, melainkan kuning atau pucat tak berasa.

 

​Sistem Imunitas Mukmin

Di sinilah letak peran krusial ittiba’ kepada sunnah. Mengikuti sunnah Rasulullah SAW sejatinya adalah sistem kekebalan agama di dalam diri setiap Muslim.

​Sebagaimana tubuh fisik membutuhkan imunitas agar tidak mudah tumbang oleh virus, jiwa seorang Mukmin pun butuh sistem kekebalan agar tak mudah diombang-ambingkan oleh syubhat (kerancuan pemikiran) maupun godaan syahwat (seperti keserakahan duniawi dan korupsi). Seseorang yang pagi beriman lalu sore menjelma kufur, sejatinya adalah mereka yang sistem imun agamanya rapuh karena dijauhkan dari panduan sunnah.

​Yang menjaga Al-Qur’an dan kemurnian Islam tetap utuh dari Makkah hingga ke penjuru Nusantara selama belasan abad bukan hanya karena kuatnya hafalan para penghafal Al-Qur’an, dan bukan semata karena besarnya jemaah. Kemurnian Islam terjaga karena masih ada umat yang taat—umat yang tidak pernah merasa berhak untuk mengedit-edit syariat ciptaan Tuhannya.

​Maka, setiap kali kita menjumpai sebuah perintah dari Rasulullah SAW, ambillah. Setiap kali ada larangan, tinggalkanlah. Karena di balik setiap ketundukan pada sunnah, ada rahmat Allah SWT yang sedang bekerja menjaga hidup kita di dunia hingga akhirat kelak. Wallahu a’lam bish-shawab.*

Exit mobile version