Tadzkirah

Budaya Merayakan Valentine

 

Oleh:

KH Bachtiar Nasir

UMAT Islam pada zaman ini semakin tenggelam dalam mengikuti budaya dan gaya hidup Barat. Semakin hilang dan kabur identitas mereka sebagai umat Islam yang mendapat predikat sebagai umat terbaik yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi umat manusia. Sedikit demi sedikit semua budaya dan gaya hidup orang Barat diikuti oleh kaum muslimin, meskipun budaya dan gaya hidup itu bertentangan dengan akidah dan ajaran Islam.

Di antara budaya Barat yang diikuti oleh banyak umat Islam di dunia adalah perayaan hari Valentine yang dirayakan sebagai hari kasih sayang. Hri untuk mengekspresikan cinta kepada orang-orang yang disayangi. Umat Islam di berbagai belahan dunia, terutama dari kalangan remaja menunggu-nunggu kedatangan tanggal 14 Februari untuk mengungkapkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayang mereka kepada orang-orang yang dicintai.

Padahal kalau kita melihat kepada sejarah munculnya perayaan hari Valentine ini, maka kita akan melihat akarnya pada budaya paganisme bangsa Romawi dan umat Kristen di Barat. Meskipun sejarah dirayakannya tanggal 14 Februari itu sebagai hari kasih sayang dan dilekatkannya nama Valentine kepada hari itu masih menjadi misteri yang oleh bangsa Barat pun tidak diketahui kepastiannya.

Paling tidak dalam ajaran Katolik, nama Valentine atau Valentinus ini merujuk kepada tiga orang martir atau santo (orang suci) yang berbeda yang menurut legendanya mati pada 14 Februari. Pertama, seorang pastur di Roma yang ditangkap dan dihukum mati pada masa kekaisaran Claudius II. Kedua, seorang Uskup Interamna (sekarang Terni, sekitar 60 mil dari kota Roma, yang juga ditangkap dan dipenggal kepalanya pada masa pemerintahan kaisar Claudius II. Ketiga, seorang pendeta yang martir di wilayah Afrika, namun tidak banyak diketahui mengenai santo yang satu ini.

Banyak legenda tentang kenapa hari kematian Valentine diperingati dan dirayakan sebagai hari kasih sayang. Di antaranya menyebutkan bahwa Kaisar Claudius II melihat bahwa pasukan yang masih muda dan belum menikah itu lebih baik dari mereka yang sudah punya istri dan keluarga. Oleh karena itu, ia mengeluarkan aturan melarang orang-orang muda untuk menikah. Valentine, yang melihat ketidakadilan itu terus melaksanakan pernikahan antara pasangan muda secara sembunyi-sembunyi. Namun ketika perbuatannya itu diketahui Kaisar, ia memerintahkan untuk menghukum mati Valentine.

Legenda yang lain menyebutkan bahwa Valentine dipenjara dan dihukum mati karena membantu orang-orang Kristen untuk melarikan diri dari penjara Romawi, dimana mereka selalu disiksa. Ketika di penjara itulah Valentine jatuh cinta pada putri sipir penjaranya yang selalu mengunjunginya dalam masa hukumannya. Sebelum kematiannya, ia menulis surat kepada kekasihnya dengan signature yang bertuliskan ‘from your Valentine’ ungkapan yang sampai sekarang masih digunakan.

Kalau dilihat lagi ke belakang, maka kita akan temukan bahwa sejarah perayaan ini berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno, yaitu perayaan Lupercalia. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.

Dalam The World Book Encyclopedia (1998) disebutkan bahwa perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama –nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I.

Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari.

Maka perayaan hari Valentine setiap 14 Februari sebagai hari kasih sayang, merupakan perayaan dan simbol kaum Kristen yang sudah bercampur dengan ajaran pagan bangsa Romawi yang dibuat dan diada-adakan oleh gereja. Jadi perayaan  hari Valentine ini bukan sekadar budaya orang Kristen, tetapi merupakan bagian dari akidah dan agama mereka.

Hukum Merayakan Valentine

Islam menginginkan umat Islam mempunyai karakter, keperibadian dan identitas diri sendiri sebagai umat yang berasakan kepada tauhid, syari’at dan akhlak karimah. Dan Islam juga mengharuskan umatnya untuk bangga dengan Islamnya yang telah menjadikan mereka mulia di hadapan Allah Ta’ala. Sehingga tidak merasa rendah diri di hadapan budaya dan peradaban umat lain yang tidak bertauhid dan hanya mengikuti akal dan hawa nafsu mereka yang ingin bebas dari segala aturan, norma dan hukum agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّـهِ الْإِسْلَامُ

Artinya: Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. (QS. Ali ‘Imran [3]: 19).

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّـهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (Surat Fushshilat [41]: 33).

Sebagai umat yang dimuliakan Allah Ta’ala dengan Islam, kita harus selalu mengikrarkan dalam hati kita ungkapan yang diucapkan Umar bin al-Khattab:

نحن قوم أعزنا الله بالإسلام فمهما ابتغينا العزة بغيره أذلنا الله

“Kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Tatkala kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka kita akan dihina oleh Allah”

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaih wasallam memberi peringatan dan selalu mengingatkan umatnya agar jangan sampai menjadi umat peniru yang hanya mengikuti saja dan mengambil semua budaya dan gaya hidup umat lain tanpa adanya filter untuk memilih mana yang baik dan yang buruk. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ ، قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، آلْيَهُودَ ، وَالنَّصَارَى ، قَالَ : فَمَنْ

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh Kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang kadal, niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya. Kami tanyakan: “Wahai Rasulullah, apakah mereka yang dimaksud itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata: “Siapa lagi kalau bukan mereka?”. (Riwayat Bukhari dan Musllim).

Oleh karena itu haram hukumnya bagi umat Islam untuk ikut merayakan hari Valentine ini karena beberapa hal:

  1. Hal itu merupakan bentuk menyerupai orang kafir dan musyrik dalam perkara agama, budaya dan gaya hidup yang dilarang oleh Rasulullah SAW.

Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW menegaskan bahwa umat Islam yang meniru dan menyerupai umat-umat lain, baik dalam masalah agama, budaya maupun gaya hidup maka mereka akan menjadi bagian dari umat tersebut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia merupakan bagian dari kaum tersebut.” (Riwayat Abu Daud, Ahmad, Thabrani dan Baihaqi).

Dalam banyak hal, Rasulullah SAW menyuruh umatnya untuk berbeda dan tidak menyerupai orang-orang kafir untuk menunjukkan identitas umat Islam yang berbeda dengan umat-umat lainnya. Bahkan dalam ibadah yang mengikuti umat-umat terdahulu, sebagaimana dalam puasa Asyura. sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Nabi SAW.

عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، يَقُولُ : حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ” ، قَالَ : فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Asyura dan menyuruh umat Islam untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu hari yang diagungkan oleh kaun Yahudi dan Nasrani”. Maka Rasulullah SAW bersabda: “jika datang tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan (9 Muharram)”. Ibnu Abbas berkata, “Belum datang tahun depan, tapi Rasulullah SAW. telah wafat.” (Riwayat Muslim).

  1. Perayaan hari Valentine ini merupakan hari raya orang kafir, dan hari raya merupakan bagian dari ibadah ajaran agama yang harus berdasarkan nash dan dalil yang jelas.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه ، أنه قال: قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ، ولهم يومان يلعبون فيهما ، فقال: ما هذان اليومان ؟ قالوا : كنا نلعب فيهما في الجاهلية ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما : يوم الأضحى ويوم الفطر. أخرجه الإمام أحمد وأبو داود والنسائي بسند صحيح .

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ketika Rasulullah SAW datang di Madinah, penduduk Madinah mempunyai dua hari yang mereka bermain-main pada hari itu. Nabi SAW lalu bertanya: “Ada apa dengan dua hari itu? Mereka menjawab: “Kami biasanya menjadikan kedua hari itu sebagai hari bermain-main pada masa jahiliyyah”. Maka Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah SWT. telah mengganti kedua hari itu untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya yaitu Idul fitri dan Idul Adha. (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan al-Nasa`i).

Disini Nabi SAW telah menentukan hari raya yang seharusnya dirayakan oleh umat Islam yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha. Hari raya dalam Islam merupakan bagian dari ritual ibadah yang tidak boleh dicampur-adukkan dengan ritual dan hari raya orang-orang kafir.

Dalam hadits lain disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ الْأَنْصَارُ يَوْمَ بُعَاثَ ، قَالَتْ : وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ : أَمَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا وَهَذَا عِيدُنَا. روه البخارى ومسلم

Dari Aisyah ra. ia berkata, “Abu Bakar masuk (ke tempatku) dan di dekatku ada dua anak perempuan kecil dari Anshar sedang bernyanyi tentang apa yang dikatakan oleh orang-orang Anshar pada masa Bu’ats (perang besar yang terjadi di masa jahiliah antara suku Aus dan Khazraj).” Aisyah berkata: “Keduanya bukanlah penyanyi.” Abu Bakar lalu berkata: “Apakah seruling setan di rumah Rasulullah SAW?” Hal itu terjadi pada hari raya. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya. Dan ini adalah hari raya kita.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Ibnu Taimiyyah dalam bukunya Iqtidha` al-shirath al-mustaqim menjelaskan hari raya merupakan bagian dari syariat, jalan hidup (manhaj) dan ibadah yang disebutkan Allah SWT dalam firman-Nya:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْ‌عَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (Surat al-Maidah [5]: 48).

Beliau melanjutkan, “Hal itu sama dengan kiblat, sholat dan puasa. Maka tidak ada perbedaan antara ikut serta dengan mereka dalam hari raya mereka, dan ikut serta dengan mereka dalam ibadah-ibadah lain. Menyerupai mereka dalam semua perayaan hari raya itu merupakan bentuk menyerupai mereka dalam kekufuran, dan meyerupai mereka dalam sebagian perayaan itu adalah bentuk menyerupai mereka dalam sebagian cabang kekufuran. Bahkan, hari raya merupakan perkara yang paling jelas membedakan antara agama yang ada, dan simbol yang paling Nampak bagi suatu agama. Maka mengikuti dan menyerupai orang kafir dalam hari rayanya merupakan bentuk mengikuti dan menyerupai mereka dalam ajaran dan simbol kekufuran mereka yang paling jelas. Dan tiak diragukan lagi bahwa menyerupai mereka dalam hal itu bisa berakhir dalam kekufuran.

  1. Dalam perayaan hari Valentine itu sendiri banyak terjadi hal-hal yang bertentangan dengan ajaran dan nilai Islam, seperti ikhtilath antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya, bahkan tidak jarang berakhir dengan dosa besar, perzinahan.

Semoga kita, umat Islam menyadari dan semakin meyakini keagungan Islam dengan berpegang teguh pada ajaran dan nilai luhur yang terkandung dalam al-Qur`an dan Sunnah Nabi SAW. Sehingga kita bisa keluar dari perasaan rendah diri yang menyebabkan kita selalu mengekor dan meniru budaya dan gaya hidup kaum yang kita anggap maju. Padahal kenyataannya mereka sedang terjerumus kepada kehancuran, tidak saja untuk kehidupan akhirat mereka, tetapi juga untuk kehidupan dunia mereka. Wallahu a’lam bish shawab.*

Exit mobile version