Allah Bersama Kita

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Demi waktu matahari sepenggalahan naik. Dan, demi malam apabila telah senyap.Tuhanmu tidak membencimu dan tidak pula meninggalkanmu. Dan sesungguhnya yang hari akhir itu lebih baik dari pada yang sekarang. Dan kelak, Robbmu akan memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu hatimu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai yatim, lalu Dia melindungi-Mu? Dan, Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberimu petunjuk? Dan, Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu Dia mencukupimu? Sebab itu, kepada anak yatim, janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang miskin yang meminta, janganlah kamu menghardiknya. Dan, terhadap nikmat Robbmu hendaklah kamu menyiarkannya.” (QS. Adh-Dhuha ayat 1-11).
Suasana hati Rasulullah Muhammad Shallallahu ketika itu sedang tidak baik-baik saja. Hari demi hari berjalan, wahyu tak kunjung kembali turun. Sementara tantangan dakwah bukan semakin ringan, malah semakin berat dari hari ke hari.
Dukungan semakin melemah, seiring semakin terkucilnya bani Hasyim dan bani Muthalib yang mendukung dakwah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Tekanan kaum kafir Qurasiy semakin gencar dan menjadi. Yang paling vokal dilancarkan oleh Ummu Jamil. Wanita yang merupakan istri Abu Lahab – sekaligus saudara perempuan Abu Sufyan itu, bahkan berani mengolok dengan brutal.
Sebagaimana yang tersebut dalam hadits,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadu dan tidak keluar selama satu atau dua malam. Lalu ada seorang wanita yang datang dan berkata, ‘Wahai Muhammad, ‘setanmu’ benar-benar telah meninggalkanmu. Lantas turunlah firman Allah dalam surah Adh-Dhuha.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sungguh merasa marah dan sedih. Namun, beliau tidak menanggapi provokasi yang dilakukan oleh istri Abu Lahab itu.
Sementara, memang benar, wahyu sudah lama tidak turun dan keadaan kaum mu’minin semakin tertekan dari hari ke hari.
Ada Allah Ta’ala
Ditengah rasa sedih, bingung, dan under pressure inilah, turun surat Adh-Dhuha sebagai jawaban, pelipur lara, sekaligus penguat hati Rasul. Bahwa, disetiap waktu dan apa pun kondisi yang tengah dihadapi oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, ada Allah yang senantiasa menemani dan menyayangi beliau.
Hari ini, kondisi ini pula yang tengah dihadapi oleh saudara-saudara kita di Palestina. Dibantai di tengah-tengah saudaranya sesama umat Islam dan bangsa Arab. Yang terlihat mendukung selama ini justru orang-orang syiah. Sementara saudara-saudaranya sesama sunni, terikat perjanjian-perjanjian keamanan dalam negeri dengan Israel dan Amerika. Lebih mementingkan kenyamanan di negeri mereka, dibanding membela saudaranya yang dibantai dan dibuat kelaparan.
Bahkan, salah satu pemimpin di antara 22 negara Teluk itu mengaku tidak terlalu tertarik dengan isu genosida yang menimpa bangsa Palestina. Dan, lebih tertarik untuk menormalisasi hubungan dengan Zionis.
Kecewa? Pasti. Jika kita yang ada di posisi mereka, pastilah hati kita akan sesak oleh rasa kecewa dan marah. Namun, seperti yang kita lihat, mereka lebih suka mengadu kepada Allah Azza wa Jalla, memuliakan-Nya, dan berharap surga akan segera mereka raih dengan apa yang kini menimpa.
Demikian pula yang Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan kaum mu’minin lakukan ketika itu. Meski ujian menghantam bertubi-tubi, dihina, dan dimiskinkan; mereka tetap berdiri menjejak di ranah kemuliaan. Pantang bagi lisan mulia Baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam membalas hinaan Ummu Jamil.
Pantang bagi tangan mulia Baginda untuk menyakiti orang-orang sudah tak lagi segan menyakiti beliau. Bahkan, beliau tetap berlaku baik pada orang-orang Quraisy yang lemah dan tidak mengkonfrontasi kaum muslimin.
Tuntunan Surat Adh-Dhuha
Tuntunan apa yang kita dapatkan dari surat yang turun di urutan ke-11 secara tartibun nuzul ini? Yang pertama, manakala kita tertimpa musibah dan kesedihan, maka berbaik sangkalah kepada Allah Azza wa Jalla. Dia tidak pernah “mencoret” kita dari daftar hamba-Nya dan tidak juga meninggalkan kita sendiri.
Yang kedua, buatlah proyeksi hingga ke negeri akhirat nanti. Jangan hanya memandang apa yang terlihat, terdengar, dan terasa di dunia; niscaya kita akan putus asa. Berpikirlah dan susunlah target hingga akhirat. Niscaya Anda menjadi seorang yang visioner dan memiliki durabilitas tinggi.
Karena, apa yang Anda pikirkan, sudah melampaui asumsi orang kebanyakan.
Yang ketiga, yakinlah Anda punya modal yang pasti Allah Azza wa Jalla berikan.
Tidak akan merugi, selalu memuaskan, dan datang tepat pada waktunya. Dia-lah yang akan menjaga hingga semua modal itu hanya turun pada Anda, dengan ukuran yang terbaik. Dia juga yang menuntun kita untuk bisa menggunakannya dengan Al-Quran dan As-Sunah. Dia yang akan mencukupi segala kebutuhan kita, sehingga yang hadir adalah perasaan tenang. Meski orang memandang dengan sebelah mata, meski orang tak percaya. Kita tetap melaju, menjemput janji Allah Ta’ala yang pasti.
Namun demikian, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk tetap menjadi hamba-hamba-Nya yang mulia. Ingatlah bahwa apa yang kita miliki, semata adalah milik Allah Azza wa Jalla. Hingga ingatlah untuk selalu berhati lembut pada anak yatim; bukan malah mengeksploitasi.
Memberi makan, seperti apa yang kita makan kepada orang miskin. Jangan lupa, tampakkanlah wajah yang berseri dan perilaku yang menghormati. Dan, yang terpenting, syiarkanlah segala nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada kita dengan akhlak mulia kepada semesta. Kabarkanlah pada dunia, bahwa bersama-Nya kita bahagia, mau berbagi rasa cinta, dan mengajak manusia untuk bergabung di barisan yang sama.*