Tadabbur

Wajah-Wajah di Hari Kiamat

Oleh:

KH. Bachtiar Nasir

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan bergembira ria, dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu, dan ditutup lagi oleh kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS Abasa ayat 38-42).

Di hari Kiamat, setelah sangkakala ditiup dengan tiupan yang keras, semua orang berbangkit keluar dari kuburnya. Namun, saat itu suasana hiruk-pikuk oleh kepanikan dan ketakutan. Bahkan mereka berlari kesana kemari. Tidak mengingat lagi siapa ibu dan ayahnya, anak dan istrinya, dan semua orang yang dulu mereka cintai.
Sesungguhnya, di hari itu terdapat dua kelompok besar berdasarkan apa yang terlihat dari wajah-wajah mereka.

Kelompok yang pertama adalah mereka yang berwajah berseri-seri, tertawa dan bergembira. Sementara kelompok yang lainnya adalah kelompok yang wajah-wajahnya kelam tertutup debu dan gelap.

Kelompok Orang Beriman
Kelompok yang pertama adalah kelompok ahlul iman dan pemilik keselamatan dari keabadian di dalam neraka. Meski mungkin di antara mereka ada yang sempat tercebur dulu ke dalam neraka, tetapi mereka tidak selamanya ada di dalam neraka. Karena itu, wajah-wajah ceria, tertawa, dan bahagia mereka sudah terlihat. Sesuai dengan tingkatan-tingkatannya yang berbeda, sesuai dengan amal saleh mereka yang diperbuat di dunia.

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah ayat 22-23).

Satu hal yang semakin membuat wajah orang-orang beriman pada hari itu berseri-seri penuh kebahagiaan adalah dapat melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa penghalang dan penuh kepuasan. Tak perlu bergantian, juga tak perlu berdesakan.

Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menyampaikan hal yang diimpikan setiap hamba ini di dalam hadits berikut, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (di hari kiamat), seperti kalian melihat bulan ini (purnama). Kalian tidak akan berdesak-desakan ketika melihat-Nya.” (HR. Bukhari Muslim).

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan melihat wajah Allah Ta’ala itu sebagaimana kita melihat matahari yang jernih dan terang tanpa tertutup awan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam kedua hadits di atas dan banyak hadits serupa lainnya, yang dimaksudkan adalah bagaimana kondisi kita melihat Allah Ta’ala. Yaitu, seperti melihat matahari atau bulan yang dapat dilihat oleh setiap orang, secara langsung dan tanpa takut tidak kebagian.

Inilah salah satu kebahagiaan terbesar yang akan dirasakan oleh orang-orang yang beriman dan beramal saleh di Hari Kebangkitan kelak. Di samping nikmat-nikmat besar lainnya yang menghilangkan kekhawatiran dan ketakutan dari siksa neraka yang mengerikan.

Kelompok Orang Kafir
Sementara itu, kelompok yang lainnya adalah mereka yang wajahnya ditutupi oleh kegelapan dan diselimuti debu. Mengapa wajah mereka tertutup oleh kegelapan? Karena, di hari itulah ditampakkan kebenaran ancaman dan kabar berita yang dulu disampaikan kepada mereka dan mereka memperoloknya.

“Maka ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat) sudah dekat, wajah orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka), “Inilah (azab) yang dahulunya kamu minta.” (QS. Al-Mulk ayat 27).

Pada saat itu malaikat berkata pada mereka, “Inilah hari Kiamat dan azab Allah yang kamu dustakan sewaktu hidup di dunia dahulu. Bahkan kamu selalu meminta-minta kedatangannya?”

Pada ayat 48 surat Az-Zumar, Allah Ta’ala berfirman, “Dan jelaslah bagi mereka kejahatan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh apa yang dahulu mereka selalu memperolok-olokkannya.”

Wajah mereka “gelap” karena sudah tahu akhir dari persidangan yang digelar Allah Ta’ala pada hari pembalasan tersebut. Mereka sekarang tahu pasti bahwa apa yang mereka lakukan semasa di dunia akan benar-benar dibalas tanpa luput sedikit pun. Dan, apa yang mereka perbuat adalah kesesatan, kemungkaran, dan angkara nafsu yang memastikan keabadian mereka di neraka.

Wajah berdebu yang Allah Ta’ala gambarkan mewakili betapa kotornya hati dan perbuatan mereka. Kotornya hati, pikiran, dan perbuatan itu sungguh tergambar pada wajah seseorang. Pada kehidupan sehari-hari pun, wajah mewakili bagaimana diri kita. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari raut yang terpampang di wajah kita. Oleh karena itu, sungguh benar, bahwa apa yang menjadi tampilan kita di hari pembalasan itu adalah cerminan dari bagaimana kita hidup di dunia.

Perumpaan debu juga menggambarkan, bagaimana debu-debu itu menutupi dan mengotori sesuatu yang begitu bersih dan bercahaya yang Allah amanahkan pada kita, yaitu fitrah untuk mengabdi kepada-Nya. Hingga akhirnya menjadi gelap karena tak mampu dimasuki cahaya tauhid.

Inilah peringatan bagi kita, tentang begitu pentingnya senantiasa menjaga dan membersihkan hati. Sehingga mampu dimasuki cahaya Allah Ta’ala berupa Al-Quran dan sunah Rasul-Nya, serta dimampukan-Nya untuk taat. Hingga, kelak Allah Azza wa Jalla berkenan membangkitkan kita dalam keadaan wajah yang bercahaya, berseri-seri, dan tertawa; penuh kebahagiaan.*

Exit mobile version