Tadabbur

Tugas Utama Seorang Hamba

Oleh:
KH Bachtiar Nasir

NIKMAT terbesar dalam kehidupan seorang muslim adalah kalimat Laa Ilaaha ilaLlah, Muhammadur rasulullah. Kalimat ini, sejatinya juga alasan seorang hamba dilahirkan ke dunia ini. Untuk mengenalnya, memahaminya, mengaplikasikan dalam keseharian, dan memperjuangkan kalimat itu. Dan, demi kalimat ini juga; menjadi alasan segala peristiwa diizinkan terjadi.

Mengapa kalimat tauhid ini menjadi begitu penting dalam hidup seorang manusia? Karena, manusia adalah mahluk yang pada hakikatnya butuh menyembah. Ini adalah tugas utama dan fundamental dengan segala spesifikasi yang dimiliki manusia. Seperti apa pun potensi dan kehidupan yang dilaluinya, tak lain adalah jalan yang diberikan Allah Ta’ala untuk menyembah Dia Yang telah menciptakan. Karena itu, berbahagialah orang-orang yang telah mengetahui, maksud sesungguhnya untuk apa dia diciptakan.

Dengan demikian, bila ada ilmu yang harus terus kita dalami; bila ada ilmu yang dengan terus mempelajari dan mengamalkannya akan mengantarkan kita pada kemuliaan yang semakin tinggi, maka ilmu itu adalah ilmu untuk memahami bahwa “Tiada sembahan kecuali Allah saja”.

Semakin banyak seseorang berzikir dengan kalimat tauhid, maka akan semakin banyak keistimewaan dan keajaiban yang diperolehnya. Oleh karena itu, perbanyaklah dzikir Laa IlaahaIlLah; sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan kita. Niscaya akan Allah ilhamkan banyak hal yang didapati dari hakikat kalimat ini.

Hakikat utama dari kalimat ini adalah bahwa tidak ada yang pantas disembah, yang lebih kita cintai, yang kita takuti, dan tidak ada yang boleh menjadi sandaran dan harapan kecuali hanya Allah Azza wa Jalla. Tidak ada yang berhak mendapatkan penghambaan kecuali Allah Ta’ala saja.

Pintu Penyimpangan Tauhid
Meski demikian, manusia juga tak jarang terpeleset dalam penyimpangan dari tugas yang sudah diberikan kepadanya. Pintu pertama penyimpangan ini terdapat dalam wilayah mulkiyah.

Kekuasaan cenderung membuat seseorang berlaku zalim pada apa yang dimilikinya. Manusia juga sekaligus bisa menjadi penghamba benda karena ada tabiat untuk memiliki apa yang diinginkannya. Pada kalimat wahdahu laa syarikalahu, ditegaskan bahwa tidak ada yang lebih berhak mendapat peribadahan kecuali Allah saja. Karena, rasa kuasa, keinginan untuk memiliki, dan ingin berkuasa; ini mendorong manusia menjadi dzalim dan musyrik; kemudian lupa bahwa sesungguhnya ia hanyalah seorang hamba yang rendah.

Ingatlah bahwa zalim artinya menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, maka menempatkan selain Allah sebagai penguasa atau yang dituruti adalah hal yang zalim. Bila hari ini kita memiliki rumah, kendaraan, perusahaan atau keluarga, maka sadarilah bahwa kepemilikan ini sifatnya sementara. Kita adalah milik Allah dan segala sesuatu yang kita miliki, pada dasarnya juga pemberian dari Allah. Oleh karena itu, kita tidak boleh menempatkan diri sejajar dengan Allah sebagai Pemilik sesungguhnya, apa yang kini orang lain bilang sebagai milik kita.

Pintu kedua adalah pintu pujian. Allah; milik-Nyalah segala puja dan puji. Salah satu perangkap kemusyrikan adalah rasa ingin dipuji. Tabiat manusia ingin mendapatkan pujian. Namun demikian, sadarilah bahwa ini adalah bagian dari syirik kecil yaitu riya. Bahwa ia ingin diketahui oleh khalayak luas dikarenakan menurutnya, ia memiliki banyak kebaikan yang dipuji orang.

هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْمَلِكُ ٱلْقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلْمُؤْمِنُ ٱلْمُهَيْمِنُ ٱلْعَزِيزُ ٱلْجَبَّارُ ٱلْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
هُوَ ٱللَّهُ ٱلْخَٰلِقُ ٱلْبَارِئُ ٱلْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

“Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Surat Al-Hasyr ayat 23-24

Jika ingin menutup pintu penyimpangan tauhid, maka kenalilah Allah sebagai Yang Maha mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Kenalilah Allah sebagai Al-Malik yang Mahasuci, Yang Maha memberikan kesejahteraan, Yang Maha memberi keamanan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, dan Dialah Allah yang Mahasuci dari apa yang mereka persekutukan.

Pada puncaknya, Anda akan meyakini bahwa dari sekian banyak manusia yang menyekutukan Allah, Anda sangat beruntung diberi nikmat tauhid. Oleh karena itu, dzikir yang paling banyak diajarkan Rasulullah saw manakala bertamu kepada Allah di bait-Nya adalah dzikir tauhid.

Ilmu Tertinggi adalah Tauhid
Setinggi apa pun dan apa pun disiplin ilmu yang sedang dipelajari oleh seseorang sebaiknya adalah jembatan baginya untuk menemukan kalimat Laa Ilaaha IlalLah. Sebaliknya, jika kita gagal menemukan kalimat tauhid ini dan semakin tidak mengenal Allah, maka berarti seseorang semakin jauh dari Allah dan semakin tersesat di dalam hidupnya. Sesungguhnya tujuan hidup seorang hamba di muka bumi ini tak lain hanyalah untuk menegakkan kalimat ini.

Oleh karena itu, adalah tugas utama bagi orangtua untuk mengenalkan anak-anaknya kepada kalimat ini. Jangan sampai sebagai seorang ayah, sudah bekerja dan sudah bersusah payah berusaha memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anaknya, tetapi kemudian apa yang diupayakannya itu tidak dapat mendekatkan anaknya kepada tauhid. Ayahlah yang nantinya akan menjalani hisab pertama kali di akhirat dan menanggung adzab manakala anak-anaknya ternyata jauh dari tauhid, sebagai akibat pendidikan yang salah.

Semoga anak-anak kita kelak menjadi anak-anak yang saleh dan salehah. Yang kokoh pada prinsip untuk menjalani hidupnya semata hanya untuk “Laa Ilaaha IlaalLah wahdahu laa syarikalak”.*

Exit mobile version