Obat Penyakit Hati

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Hanya kepada-Mu, kami menyembah dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan)mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah ayat 5-7).
Cakupan surat Al-Fatihah terhadap dua obat untuk kesembuhan hati dan kesembuhan badan. Dalam perjalanan menuju Allah, kadang kita berhadapan dengan berbagai penghalang keistikamahan. Pengalang terberatnya adalah penyakit kalbu. Orang-orang yang istikamah berjualan di jalan Allah pasti akan berjuang untuk sembuh dari penyakit kalbu ini.
Dari kitab Al-Iksir, “Cakupan kandungan surat Al-Fatihah yang dapat menyembuhkan penyakit adalah dapat menyembuhkan secara total penyakit hati.”
Bahaya Penyakit Hati
Penyakit hati sebenarnya paling berbahaya untuk kehidupan kita, terutama kufur dan syirik. Ingkar terhadap nikmat Allah dan menduakan Allah. Penyebab penyakit hati terbagi menjadi dua hal yaitu penyakit kesesatan akibat ilmu yang rusak dan penyakit hati akibat rusaknya niat dan tujuan.
Orang yang sakit hatinya akibat rusaknya ilmu, akan mengantarkannya pada jalan yang salah sehingga ia akan tersesat dalam menncapai tujuannya bertemu kembali dengan Allah Azza Wajalla. Misalkan seseorang salah dalam memahami konsep tuhan dalam Islam, maka pasti salahlah caranya beriman dan kacaulah cara beribadah kepada Tuhannya.
Sementara orang yang salah niat atau salah tujuan, pastilah membuat seseorang melakukan segala sesuatu yang berdasarkan hawa nafsu. Akibatnya, apa yang dilakukannya, tidak akan diakui sebagai amal saleh oleh Allah Ta’ala bahkan bisa mencelakai orang lain.
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rusaknya ilmu dan rusaknya niat ini merupakan penyebab penyakit adh-dholal dan al-ghodhob dalam hati manusia.
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang dua kelompok manusia yang celaka di dunia dan di akhirat, dalam surat Al-Fatihah ayat 7, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”
Mengapa orang bisa sesat? Karena rusak ilmunya. Rusak ilmu tentang Allah Ta’ala, rusak ilmu tentang Nabi saw, dan rusak ilmu tentang Al-Quran; merupakan kondisi yang fatal dalam hidup. Tidak akan pernah bertemu dengan makna yang sebenarnya dan pasti sesat pengamalannya.
Sementara orang yang dimurkai Allah dan akhirnya membuat dirinya menjadi orang yang murka jiwanya, adalah orang-orang yang menjadikan selain Allah Ta’ala sebagai tujuan. Orang-orang yang niatnya bukan Lillaah ini, biasanya akan senantiasa lelah dan tak henti mengejar segala sesuatu yang tak pasti. Seperti tidak berujung. Segala sesuatunya tidak memuaskan. Akhirnya menghalalkan segala cara dan membuat kerusakan agar apa yang diniatkannya terwujud. Inilah yang menjadikan jiwanya murka dan dirinya senantiasa mendapatkan murka Allah Azza wa Jalla.
Orang-orang yang digambarkan sebagai Al-Maghdhub adalah orang-orang Yahudi. Merekalah yang merusak kitab Bani Israil dan menulis dengan tangannya kemudian mengatakan bahwa ini dari Tuhan. Kemudian dijadikan kitab sucinya. Mereka menuhankan hawa nafsu dalam kehidupannya. Sementara orang-orang yang disebut Adh-dholin adalah orang-orang Nasrani. Sementara orang Nasrani salah dalam mengenal siapa Tuhan mereka. Akibatnya mereka menjadi orang-orang yang tersesat.
Dua Obat Hati
Lalu, bagaimana kita tidak terjerumus dan bisa segera mendapatkan obat dari dua penyakit hati yang berbahaya ini? Maka, hidayah menuju shiratal mustaqim adalah obat yang paling manjur untuk penyakit Adh-dhalal. Oleh karena itu, sangat penting memohon petunjuk untuk selalu berada di atas shirathal mustaqim ini.
Saking pentingnya, Allah Ta’ala kemudian memasukkan permohonan untuk hidayah berjalan di atas shirathal mustaqim itu di dalam surat Al-Fatihah yang minimal wajib 17 kali dibaca di dalam shalat. Inilah makna dari pentingnya membaca surat Al-Fatihah ayat 6, sehingga kita harus terus mengulangnya. Agar kita terlindungi dari rusaknya ilmu dan tidak tersesat. Karena begitu pentingnya permintaan petunjuk untuk menempuh sirahthal mustaqim ini, Allah Ta’ala sendiri yang mengajarkannya. Di tempat yang juga sangat penting, yaitu shalat.
Sementara itu, penyakit hati berupa dimurkai Allah karena rusaknya niat dan tujuan, akan lenyap dengan obat “Iyyakana’budu waiyyaka nasta’iin”. Ayat ini mengingatkan kita pada siapa sebenarnya menyembah; serta pada siapa sebenarnya kita harus meminta pertolongan dan menjadikan sesuatu sebagai tujuan. Agar niat kita tidak berbelok dan kita tidak menduakan hati pada Allah Ta’ala.*