Nutrisi Jiwa, Menyiapkan Hamba Pilihan Menuju Ramadhan

Oleh:
KH Bachtiar Nasir
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an surat Ar Ra’d ayat 28:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28)
Hari-hari menjelang Ramadhan—atau yang kita kenal sebagai pertengahan bulan Sya’ban saat ini—adalah hari-hari yang krusial dalam kehidupan seorang mukmin. Di hari-hari ini, Allah Azza wa Jalla memilih hamba-hamba-Nya yang akan memperoleh ampunan dan berkah-Nya. Namun, pemilihan ini tidak berlaku bagi mereka yang menduakan Allah Azza wa Jalla dan mereka yang sedang bermusuhan.
Oleh karena itu, berhati-hatilah dan jangan sampai salah memilih tindakan. Bulan ini merupakan bulan di mana amal-amal kita akan dibawa naik ke langit ketujuh; saat Allah Ta’ala akan memeriksa dan memilih siapa hamba-Nya yang berhasil mencapai kualifikasi sebagai hamba yang diampuni dan diberkahi.
Ujian Kesabaran
Di bulan Sya’ban, saat Rasulullah Muhammad saw. sering kali berpuasa, kesabaran umat Islam di Bumi Pertiwi kembali diuji dengan penandatanganan keanggotaan Board of Peace oleh Presiden Prabowo dengan kompensasi 17 triliun rupiah yang harus dibayarkan. Jumlah sebesar itu menimbulkan reaksi keras dari umat Islam di negeri ini. Bagaimana mungkin uang sebesar itu digelontorkan untuk keanggotaan badan internasional yang belum tentu membawa kemaslahatan bagi bangsa Palestina? Apalagi, penggagasnya adalah Donald Trump yang jelas keberpihakannya pada Israel.
Sementara itu, bangsa ini baru saja menderita pukulan keras dari bencana banjir bandang di Sumatra. Kondisi ini tentu sangat membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah pusat. Namun, apa pun hendak dikata, nasi sudah menjadi bubur. Penandatanganan keanggotaan telah dilakukan Presiden Prabowo pada 26 Februari 2026.
Sebagai umat yang mencintai perdamaian dan kesatuan bangsa, mari kita kawal keputusan kontroversial ini dengan kekritisan dan kejernihan cara pandang. Kita semua paham bahwa kaum kafirin tidak akan pernah rida kepada kita, tetapi sikap memusuhi dan menerjang tanpa strategi juga bukan pilihan yang baik.
Di sinilah momentum Sya’ban mengingatkan kita untuk tetap menjaga persatuan bangsa dan menghindari permusuhan. Bila dalam perjalanannya badan internasional ini ternyata malah menambah penderitaan bangsa Palestina, mari dengan pandangan jernih dan strategi tepat, kita meminta pemerintah pusat untuk mengundurkan diri. Percaturan politik internasional memang penuh intrik dan membutuhkan perhitungan matang. Bila Indonesia mundur sekarang, yang menjadi taruhan adalah kewibawaan politik luar negeri Indonesia di mata dunia, kerja sama multilateral, serta dana yang terbuang sia-sia.
Inilah beban sekaligus tantangan yang harus ditanggung bangsa Indonesia saat ini. Kita sebagai umat Islam harus berhitung dan bertindak ekstra hati-hati. Marilah kita memohon perlindungan dan kebaikan dari Allah Ta’ala agar terhindar dari kondisi merugi dan terzalimi. Inilah momen untuk memeriksa kembali mana yang harus kita lakukan dan mana yang harus ditinggalkan.
Persiapan Ramadhan
Jangan sampai hati kita menjadi keras karena hal-hal yang melalaikan kita dari mengingat Allah Ta’ala. Jangan terjebak dalam kekhawatiran hingga lupa bahwa esensi hidup kita hanyalah untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, penentu alur dan akhirnya adalah Allah Ta’ala. Walau kita wajib berikhtiar semaksimal mungkin, jangan sampai kita terjebak pada pola-pola yang menyesatkan lalu lupa bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di muka bumi kecuali atas izin-Nya.
Kesadaran ini pula yang seharusnya menjadi spirit utama kita menyambut bulan suci Ramadhan. Fokuskanlah diri dan kompetensi untuk beribadah serta mengerjakan amaliah terbaik. Periksa kembali hati kita: apakah sudah siap dan bahagia menyambut Ramadhan, atau masih compang-camping akibat kesibukan dunia yang melalaikan?
Inilah momentum untuk menyiapkan diri sebagai sebenar-benarnya hamba Allah. Sadarilah bahwa hiruk-pikuk dunia tidak akan pernah usai; semuanya menggunjangkan hati dan pikiran. Hanya dengan nutrisi jiwa berupa mengingat Allah-lah segala sesuatunya akan tenang dan dapat dilewati dengan baik.
Periksalah kembali kesiapan ibadah kita. Apakah salat kita sudah semakin baik? Apakah tilawah kita semakin dipahami? Apakah fisik kita sudah siap untuk memaksimalkan puasa dan ibadah lainnya? Marilah persiapkan ketundukan hati dan tekad kuat sejak bulan Sya’ban ini.
Sya’ban tinggal menghitung hari menuju gerbang Ramadhan. Bukan waktunya lagi mempertahankan kemalasan. Inilah saatnya memacu “mesin produksi” di dalam diri agar siap membanjiri Ramadhan dengan produk ibadah terbaik. Semua itu dilakukan agar Allah sudi “memilih” amal yang kita tawarkan dan rida menerimanya.
Waktu kita tidak banyak. Saudara-saudara kita di Sumatra, di Palestina, bahkan di samping rumah kita menanti kepedulian dan amal terbaik. Jangan habiskan energi untuk saling berbantahan apalagi menciptakan perpecahan.
Jika dada terasa sesak dan jiwa terasa sempit, itu adalah tanda hati perlu diperbarui karena mengeras oleh urusan dunia. Marilah menempatkan Allah Ta’ala sebagai tujuan tertinggi dengan senantiasa menomorsatukan-Nya. Damaikan hati sebagaimana Rajab telah melatih kita sebulan kemarin. Kendalikan rasa permusuhan, prasangka, dan kemarahan. Carilah manisnya iman dalam tiga waktu: saat salat, tilawah Al-Qur’an, dan berzikir. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam naungan iman yang manis.